BANGKALAN, RadarMadura.id – Anggaran bantuan operasional kesehatan (BOK) yang digelontorkan pemerintah pusat untuk 22 puskesmas di Bangkalan mencapai Rp 14,2 miliar. Namun, hingga memasuki awal triwulan ketiga, serapan masih sangat rendah. Yaitu, baru Rp 7,7 miliar.
Sementara dana BOK yang ditransfer dari rekening kas umum negara (RKUN) pada tiap puskesmas di Bangkalan Rp 9,9 miliar. Dengan demikian, masih tersisa Rp 2,1 miliar anggaran di rekening 22 puskesmas yang belum terserap. Jika diakumulasikan, total anggaran BOK puskesmas yang belum terserap mencapai Rp 6,4 miliar (lihat grafis).
Kasi Pelayanan Kesehatan Primer Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Retno Widiyati menyatakan, realisasi BOK ditransfer langsung dari RKUN ke puskesmas. Sementara realisasi Rp 14,2 miliar dana BOK yang diproyeksikan untuk 22 puskesmas di Bangkalan baru Rp 9,9 miliar.
”Sisanya nanti akan terealisasi di tahap berikutnya,” ucapnya. Realisasi BOK yang ditransfer dari RKUN bergantung serapan dan pelaksanaan kegiatan. ”Jadi, kementerian (kesehatan) menyalurkan anggaran itu bersyarat,” imbuhnya.
Retno menyatakan, secara umum pelaksanaan kegiatan yang dibiayai BOK di setiap puskesmas banyak sudah terlaksana. Namun, banyak yang kesulitan dalam penyusunan laporan. Sebab, mekanisme pelaporan sejak awal tahun anggaran 2023.
”Bendahara (puskesmas itu) banyak yang mengalami kendala pelaporan, artinya banyak kesalahan,” imbuhnya.
Perempuan berhijab itu menyatakan, sebagian besar puskesmas tidak siap dengan skema baru dalam penyusunan laporan yang harus disampaikan melalui aplikasi yang sudah ditentukan. Akan tetapi, karena sudah menjadi aturan, harus tetap dilaksanakan.
”Pemerintah pusat terlalu memaksakan, sementara di daerah belum siap. Seharusnya kalau mau diterapkan sekarang, di tahun kemarin persiapannya sudah dilakukan,” imbuhnya.
Menurut Retno, sebagian besar dana BOK dimanfaatkan untuk dana transportasi dan insentif pegawai yang melaksanakan kegiatan. Maka, dengan rendahnya serapan, banyak dana transportasi dan insentif pegawai puskesmas yang belum terbayar.
Kepala Puskesmas Geger Ajrul Muslihin tidak menampik serapan BOK di puskesmasnya belum maksimal. Sebab, ada perubahan mekanisme dan tata cara pencairan. Dengan begitu, bendahara puskesmas harus banyak latihan dan beradaptasi dengan aturan baru.
”Sebenarnya sekarang lebih mudah karena realisasinya langsung dari RKUN ke rekening puskesmas,” imbuhnya.
Pihaknya mengeklaim realisasi pencairan yang tersendat-sendat tidak memengaruhi kegiatan yang bersumber dari BOK. Namun, banyak SDM yang belum menerima uang transpor dan insentif atas kegiatan yang dilaksanakan. ”Menunggu nanti setelah anggarannya cair,” katanya. (jup/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti