BANGKALAN, RadarMadura.id – Olahraga panahan tradisional yang lumrah dikenal dengan sebutan jemparingan masih lestari di Kota Zikir dan Salawat. Padepokan Songgo Sukmo merupakan salah satu lembaga yang konsentrasi melestarikan olahraga tradisional itu.
Owner Padepokan Songgo Sukmo Bangkalan Muhammad bin Rachmat menyampaikan, para pemanah dituntut memiliki jiwa kesatria yang bertanggung jawab dan mampu menaklukkan dirinya sendiri. Dengan demikian, mereka bisa bermanfaat bagi lingkungan dan alam sekitar.
”Kami dituntut untuk selalu latihan untuk menyeimbangkan tubuh dengan panah,” jelasnya kemarin.
Mengetahui dan belajar panahan tradisional diakui tidak mudah. Bagi pemula, membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk menguasai jemparingan. Dengan catatan, harus rajin berlatih yang menyesuaikan dengan pakem yang berlaku.
”Bagi pemula yang belum pernah belajar sama sekali, membutuhkan waktu sekitar 3 bulan, itu pun kalau rajin belajar,” katanya.
Sisi lain dari panahan tradisional itu adalah menaklukkan ego dan olah rasa. Jika keduanya sudah dikuasai, hasil memanah juga akan baik.
Menurut Muhammad bin Rachmat, saat latihan, salah satu tantangannya adalah cuaca seperti angin. Sebab, bisa mengganggu konsentrasi pemanah. ”Belajar panahan tradisional ini juga belajar membaca alam, terutama angin,” paparnya. (za/pen)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News