Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Jutaan Warga Alami Demensia

Abdul Basri • Rabu, 5 Juli 2023 | 02:37 WIB

 

 

Indriana Lestariningtias, Sp.KJ, Penanggung Jawab Poli Jiwa RSUD Syamrabu Bangkalan. 
Indriana Lestariningtias, Sp.KJ, Penanggung Jawab Poli Jiwa RSUD Syamrabu Bangkalan. 
 

BANGKALANJawa Pos Radar Madura – Demensia atau pikun merupakan peristiwa yang sering terjadi pada setiap orang. Khsusunya, orang yang sudah lanjut usia (lansia). Namun, tidak banyak keluarga yang menyadari bahwa orang terdekatnya mengalami demensia. 

Penanggung Jawab Poli Jiwa RSUD Syamrabu dr. Indriana Lestariningtias, Sp.KJ  menyatakan, insiden demensia di seluruh dunia meningkat dengan cepat. Bahkan, saat ini diperkirakan mendekati 50 juta orang. Di Indonesia diperkirakan lebih dari 1,5 juta orang mengalami demensia. 

Menurut dia, angka tersebut diprediksi terus bertambah beberapa tahun ke depan. Yaitu, meningkat menjadi dua juta  orang pada 2030.  Kemudian, akan menjadi dua kali lipatnya lagi pada 2050. 

 

Perempuan yang biasa disapa dokter Indriana itu mengaku cukup sering menemukan kasus demensia di Poli Jiwa RSUD Syamrabu. Namun, sebagian besar banyak yang tidak disadari oleh anggota keluarga yang lain. Bahkan, tidak sedikit yang menyangkal saat diberi tahu bahwa anggota keluarganya mengalami demensia.

”Karena menganggap ingatannya masih bagus. Terutama, ingatan-ingatan tentang masa lalu yang merupakan memori atau ingatan jangka panjang yang memang seharusnya tidak terganggu pada penderita demensia,” ucapnya.

”Misalnya, bapaknya bercerita berjuang melawan penjajah, malah sering diulang-ulang dan menceritakannya dengan detail dan jelas. Begitu kira-kira bentuk penyangkalan keluarga pasien yang sering diutarakan,” imbuhnya. 

Namun, setelah diperiksa lebih lanjut, pasien sering lupa jalan pulang. Tidak dapat mengingat hal yang baru didapatkan. Misalnya, mengingat nomor telepon yang baru diberikan, bahkan yang lebih parah lagi mengaku belum makan meski sebenarnya sudah lapar.

Perempuan berhijab itu menjelaskan, demensia mengganggu kemampuan bersosialisasi. Juga menurunkan kualitas hidup, bukan hanya  bagi penderita, tetapi juga bagi keluarganya serta lingkungan sekitar. 

”Biasanya, keluarga menjadi burn out dalam menangani penderita demensia karena memang akan menjadi beban dan harus selalu diawasi akibat perilakunya yang bisa membahyakan diri sendiri dan orang lain,” terangnya. 

Dokter Indriana menyatakan, biasanya demensia terjadi pada usia lanjut usia, yakni  60 tahun ke atas. Namun, di Indonesia banyak ditemukan terjadi di usia 40 tahunan ke atas. Yaitu, lebih banyak penderita demensia vaskular dibandingkan alzheimer (demensia penuaan) dan jenis demensia lainnya. 

Demensia vaskular merupakan demensia yang disebabkan gangguan pada pembuluh darah di otak yang bersifat kronik progresif. Banyak dialami oleh penderita stroke, pasien yang memiliki riwayat darah tinggi, kencing manis, dan penyakit lain yang mengganggu vaskularisasi darah ke otak.

”Dari sini kita bisa belajar pentingnya menjaga kondisi kesehatan fisik.  Terutama menjaga kondisi vaskularisasi atau peredaran darah supaya lancar membawa oksigen ke otak hingga di usia tua kita,” katanya. (jup/daf)

 

Editor : Abdul Basri
#Poli Jiwa #rumah sakit #kesehatan #rsud syamrabu bangkalan #dokter Indriana #demensia