Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Aris Budhiarto menjelaskan, IPAL merupakan salah satu sarana dan prasarana (sarpras) yang harus ada di UTD PMI. Namun, sarana itu tidak ada di PMI Bangkalan. ”Harusnya ada (IPAL) karena setelah melakukan donor, petugas mungkin cuci tangan. Kalau ada darahnya kan tidak boleh sembarangan,” ucapnya kemarin (27/2).
Temuan itu terungkap saat rapat pembinaan limbah fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) setelah ditemukan puluhan kantong darah milik PMI di TPS Junok, Senin (20/2). ”Kalau masalah lingkungan pasti menunggu kejadian (untuk terungkap),” ujarnya.
Aris menambahkan, semua faskes juga harus menyetorkan laporan hasil limbah medis pada dinkes dan DLH. Namun, selama ini UTD PMI Bangkalan menjadi salah satu lembaga pelayanan kesehatan yang tidak tertib dalam pelaporan limbah medis. Hal tersebut tidak hanya terjadi di lembaganya, tetapi juga dialami DLH Bangkalan. ”Berapa yang diambil dan diangkut (oleh pihak ketiga) harus dilaporkan pada kami agar kami tahu,” imbuhnya.
Namun, kata Aris, berdasar catatan dinkes, UTD PMI Bangkalan terakhir melaporkan limbah medis pada Agustus 2022. Setelah itu, belum ada lagi pelaporan limbah medis dari UTD PMI Bangkalan. ”Untuk bulan sembilan, sepuluh, sebelas, dan dua belas, limbahnya ke mana? Itu kan perlu dipertanyakan juga,” ujarnya.
Kontrol pengelolaan limbah UTD PMI Bangkalan masih jauh dari perhatiannya. Sebab, Aris mengira, UTD PMI Bangkalan berada di bawah naungan RSUD Syamrabu. ”Sementara rumah sakit itu tertib,” imbuhnya.
Di tempat terpisah, Kepala DLH Bangkalan Anang Yulianto mengakui UTD PMI berkewajiban menyetorkan laporan limbah ke lembaganya. Namun, selama ini DLH tidak pernah menerima laporan itu. ”Memang iya masih belum (ada laporan),” terang mantan camat Arosbaya tersebut.
Kepala UTD PMI Bangkalan Ahmad Aziz menyatakan, lembaganya sudah menyiapkan TPS untuk penampungan limbah medis padat. Sementara IPAL memang tidak ada karena tidak dibutuhkan.
Aziz membantah lembaganya dianggap tidak tertib dalam pelaporan limbah medis ke dinkes dan DLH Bangkalan. Dia mengeklaim hal tersebut sudah dilakukan oleh lembaganya. ”Iya rutin (melaporkan), ada semua catatannya,” katanya. (jup/luq) Editor : Abdul Basri