Warga Dusun Kolla, Desa Paterongan, Kecamatan Galis, itu mengatakan, warga di kampungnya memang mayoritas bekerja sebagai pandai besi. Meskipun sudah lansia, namun hal itu tetap menjadi pilihan pekerjaannya.
”Sudah tidak memiliki pekerjaan lain, jadi tetap kerja pandhian (pandai besi),” katanya kemarin (14/1).
Dari keahlian itu dia menghasilkan aneka alat. Seperti arit untuk pertanian, pisau dapur, bahkan untuk koleksi. ”Saya buat itu disesuaikan dengan pesanan, seperti celurit atau pisau,” tambahnya.
Harga yang dipatok pada setiap alat yang dibuatnya beragam. Untuk pisau dipatok mulai harga Rp 30 ribu. Sedangkan celurit, dari harga Rp 50 ribu hingga Rp 400 ribu.
”Kalau celurit untuk koleksi lebih mahal, sekitar Rp 400 ribu. Karena prosesnya lama,” ujarnya.
Pekerjaan itu sudah turun-temurun dari leluhurnya terdahulu. ”Saya belajar dari saudara saya. Sebab, bapak sudah meninggal waktu usia saya 17 tahun dan tidak bersekolah,” jelasnya.
Dalam sehari Hoped mendapatkan pesanan 4 sampai 12 pisau. Biasanya pemesan dari daerah Pamekasan atau Sampang. Dalam seminggu dia bisa mengumpulkan uang Rp 200 ribu dari pandai besinya. ”Kalau beruntung, dalam seminggu Rp 200 ribu,” ujarnya.
Menurut salah satu keluarganya, Dori, 43, usaha pandai besi di desanya banyak diminati orang. Tidak sedikit yang datang ke desanya untuk membeli.
”Kita tidak pernah memasarkan, mereka yang berminat yang datang sendiri ke sini,” jelasnya.
Pamannya merupakan salah satu perajin pandai besi tertua di desanya yang masih tekun bekerja. Sebab, beberapa orang seusianya sudah tidak bekerja lagi. Dari segi tenaga sudah tidak kuat.
”Paman saya ini termasuk paling tua dan masih kuat. Karena kalau yang lain itu cuma bisa buat pisau. Kalau paman saya masih bisa buat celurit yang butuh tenaga lebih,” pungkasnya. (ay/han) Editor : Abdul Basri