Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

HCU Dukung Efektivitas-Efisiensi Layanan

Abdul Basri • Selasa, 8 November 2022 | 23:22 WIB
Ikadona Logos Kaukaba, S.Farm., Apt, Penanggung Jawab Instalasi Gas Medik RSUD Syamrabu. (SYAIFUL FOR RadarMadura.id)
Ikadona Logos Kaukaba, S.Farm., Apt, Penanggung Jawab Instalasi Gas Medik RSUD Syamrabu. (SYAIFUL FOR RadarMadura.id)
BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – RSUD Syamrabu menyediakan ruangan high care unit (HCU) sebagai implementasi dari Keputusan Menteri Kesehatan 834/2010. Ruangan tersebut diperuntukkan pasien yang membutuhkan pengawasan ketat dari tenaga medis.

Kepala Ruangan HCU RSUD Syamrabu Ahmad Taufiq Putra Raharja mengatakan, HCU dan intensive care unit (ICU) merupakan dua ruang perawatan berbeda. Meski begitu, keduanya memiliki keterkaitan.

Ruangan HCU diperuntukkan pasien yang menunjukkan perbaikan kondisi tubuh dan tidak perlu ditangani di ruang ICU. Keberadaan HCU diharapkan bisa meningkatkan efektivitas dan efisiensi layanan di ICU. ”Kondisi pasien yang dirawat di HCU cenderung respirasi, hemodinamik, dan kesadarannya stabil,” ulasnya.

Beberapa rumah sakit mendesain ruang HCU terintegrasi dengan ruang ICU. Tujuannya, mengantisispasi bila pasien mengalami kondisi yang bisa mengancam keselamatan jiwa. Ruangan HCU tidak menyediakan ventilasi mekanik seperti di ruang ICU.

Taufiq mengungkapkan, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar pasien ditempatkan di ruang HCU. Di antaranya, pasien memerlukan pemantauan ketat pasca menjalani perawatan di ruang ICU. Yakni, pasien yang kondisinya membaik setelah dirawat di ruangan ICU.

Kemudian, pasien yang memerlukan pengobatan secara titrasi. Yaitu, pengobatan pasien dengan metode medicamentosa secara kontinu dan titrasi sedang. Selanjutnya, pasien yang memiliki masalah jantung.

”Perawatan pasien serangan jantung memerlukan observasi ketat karena berhubungan dengan jumlah cairan yang dikonsumsi dan dikeluarkan. Lalu, pasien dengan infeksi serius,” paparnya.

Menurut Taufiq, pasien dengan kondisi infeksi akan memengaruhi fungsi organ tubuhnya. Mulai dari penurunan kesadaran hingga depresi napas. Maka, ruang HCU bisa menjadi tempat perawatan yang tepat sebagai ruang suportif sembari menjaga agar tidak terjadi kegawatan.

”Namun apabila terjadi kegawatan, ruang HCU yang terintegrasi dengan ruang ICU mampu memberikan response time lebih singkat daripada perawatan di ruang biasa,” sambungnya.

Pasien yang dirawat di ruang HCU tidak boleh ditemani anggota keluarga. Alasannya, untuk memutus mata rantai perpindahan bakteri. Selain itu, untuk menjaga agar terapi pasien tetap terkontrol. Karena biasanya, keluarga pasien membawa menu makanan sendiri dan tidak sesuai dengan diet yang dijalani pasien. Misalnya, diet rendah garam atau rendah gula.

Alasan lainnya, sambung Taufiq, keberadaan keluarga pasien tidak jarang menghambat proses tindakan medis yang akan dilakukan tenaga medis saat terjadi kegawatan. Jadi, lebih efektif bila pasien tidak ditemani anggota keluarga. ”Tidak usah khawatir, keluarga masih mendapat akses bertemu dan mendapat informasi yang aktual dengan menghubungi perawat selama 24 jam,” tandasnya. (jup/yan) Editor : Abdul Basri
#Efisiensi Layanan #icu #Ahmad Taufiq Putra Raharja #hcu #rsud syamrabu