BANGKALAN – Hingga kini Bangkalan belum memiliki monumen khas. Pembangunan tatenger yang direncanakan bertahun-tahun tak kunjung terwujud. Padahal keberadaan monumen khas daerah ini menjadi simbol penting.
Hal itu disampaikan Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Hendra Gemma Dominan. Dia menerangkan, ada beberapa kendala untuk mengajukan pembangunan monumen. Di antaranya, keterbatasan anggaran. ”Kami sudah sampaikan waktu hearing dengan komisi D,” ungkapnya Sabtu (3/11).
Di Pamekasan, kata Hendra, ada monumen Arek Lancor. Kemudian Sampang punya monumen Trunojoyo dan Sumenep dengan kuda terbang dan masjid agungnya. Sementara Bangkalan belum punya. ”Kalau ke Bangkalan, apa biasanya yang terlihat? Ini yang diperlukan. Tatenger khas yang bisa menyimpan kesan bagi pengunjung yang datang ke Bangkalan,” ucapnya.
Dia menambahkan, pihaknya akan mengusulkan pembangunan monumen khas di Bangkalan. Rencananya, pembangunan itu akan dimasukkan dalam program kerja 2019. Namun sebelum itu akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak. ”Kami juga sampaikan ke DPRD terkait hal ini. Nanti juga akan kami perjelas mengenai perlunya tatenger ini,” kata Hendra.
Anggota Komisi D DPRD Bangkalan Abdurrahman Thohir menyampaikan, keberadaan monumen memang dibutuhkan. Dengan begitu, Bangkalan tidak hanya terkenal dengan julukan sebagai Kota Salak. Pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk membicarakan hal tersebut.
”Jika memang rencana tersebut akan direalisasikan, dinas terkait perlu mempersiapkan dengan matang. Terlebih rencana tersebut sudah sejak lama diusung,” tukasnya.
Editor : Abdul Basri