Minggu, 19 May 2019
radarmadura
icon featured
Features

Achmad Fauzi, Pengusaha dan Birokrat Muda Penulis Buku

Menulis di Sela-Sela Kesibukan sebagai Wabup

13 Mei 2019, 13: 43: 28 WIB | editor : Abdul Basri

MENGINSPIRASI: Wabup Sumenep Achmad Fauzi menyerahkan buku Saatnya Move On kepada Ibnu Hajar didampingi Kepala Disdik Jatim Wilayah Sumenep Sugiono Eksantoso saat peluncuran di Taman Pottre Koneng kemarin.

MENGINSPIRASI: Wabup Sumenep Achmad Fauzi menyerahkan buku Saatnya Move On kepada Ibnu Hajar didampingi Kepala Disdik Jatim Wilayah Sumenep Sugiono Eksantoso saat peluncuran di Taman Pottre Koneng kemarin. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Tugas dan tanggung jawab sebagai wakil bupati (Wabup) Sumenep tidak menyurutkan semangat Achmad Fauzi untuk berkarya. Dia masih sempat menulis buku di tengah kesibukannya.

BADRI STIAWAN, Sumenep

WARNA langit senja di Taman Pottre Koneng Sumenep menyejukkan pandangan mata sore kemarin (12/5). Sinar matahari terpancar dari balik bangunan Masjid Jamik Sumenep memberikan efek siluet cukup menawan. Dalam nuansa Ramadan, ratusan warga berkumpul di jantung Kota Keris. Ngabuburit.

Di sisi timur taman, puluhan pemuda duduk di kursi. Kegiatan panggung kreasi anak negeri yang mengumpulkan mereka. Sore itu digelar bagi-bagi takjil dan hiburan musik akustik. Yang tidak kalah menarik, Wabup Sumenep Achmad Fauzi ada di antara mereka. Kedatangannya untuk meluncurkan bukunya. Saatnya Move On judul buku yang ditulis Fauzi.

Buku 146 halaman itu berisi catatan-catatan. Dia beri nama catatan seorang birokrat muda. ”Karena kata teman-teman saya masih muda,” ujarnya saat ditemui usai kegiatan sembari menebar senyum.

Dengan cover merah kombinasi hitam, ada 35 judul tulisan dalam buku itu. Termasuk tambahan tulisan epilog dari Ibnu Hajar yang tak lain guru Fauzi saat masih duduk di bangku MAN Sumenep. Beberapa tokoh memberikan kesan pada sosok birokrat muda itu. Seperti yang tertulis di sampul belakang buku.

Di antaranya Budayawan D. Zawawi Imron. Dia menyebut Fauzi sebagai sosok pemimpin yang supel. ”Buktinya, beliau bisa bergaul dengan siapa saja,” kata penyair Si Celurit Emas itu.

Emil Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur juga memberikan kesan yang disematkan pada bagian belakang buku. Emil mengaku salut. Di tengah kesibukan menjadi Wabup, namun masih memiliki dedikasi waktu untuk menulis buku.

”Lewat buku ini, masyarakat akan mengenal lebih dekat lagi keseharian kita. Semoga menjadi referensi yang bermanfaat untuk publik. Sukses selalu Mas Fauzi,” tulisnya.

Adan Magrib berkumandang. Pengunjung di sekitar Taman Pottre Koneng mulai buka puasa. Tapi Fauzi harus rela tidak terlalu banyak menikmati takjil berbuka, masih disibukkan dengan permintaan tanda tangan dari peserta.

Tak berhenti di situ, dia juga masih diajak jeprat-jepret swafoto. Dia tetap menunjukkan senyum. Berdempetan dan berbincang. Seakan tidak ada batasan antara pejabat pemerintah dengan rakyatnya. Dekat. Patut dicontoh.

Ajudan sudah berdiri di samping mobil Fauzi. Pertanda orang nomor dua di Sumenep itu akan segera beranjak. Sebelum pergi, pengusaha muda kelahiran Sumenep, 21 Mei 1979 itu bersedia berbincang dengan Jawa Pos Radar Madura.

Pakaian putih dan berkopiah hitam, alumni SDN Pangarangan 1 Sumenep itu memaparkan motivasinya menulis buku. Alasan pertama, menulis untuk saling berbagi. Kemudian, memanfaatkan waktu luang di sela-sela kesibukan.

Menurut pejabat alumnus SMPN 4 Batuan itu, waktu terbagi menjadi tiga bagian. Kemarin, hari ini, dan besok. Bagi Fauzi, hari ini akan berlalu menjadi kemarin pada keesokan harinya. Sedangkan esok akan menjadi hari ini ketika sampai pada waktunya.

”Yang kita lakukan hari ini sangat penting. Hal baik apa yang sudah kita lakukan untuk orang sekitar kita. Hari kemarin, tidak bisa diulang kembali,” ungkap suami Nia Kurnia itu.

Berbeda dengan buku, kata dia, ditulis hari ini bisa kembali dibaca esok. Untuk kapan saja. Motivasi lain menulis buku untuk memberikan sedikit motivasi kepada kaula muda. Karena itu, launching buku yang digelar lebih banyak mengundang pemuda. Di antaranya dari organisasi kepemudaan (OKP) di Sumenep.

”Termasuk dari media. Sehingga yang saya sampaikan ini tersampaikan ke khalayak luas,” kata pria yang pernah bergelut di penulisan karya jurnalistik itu.

Fauzi berharap, dengan membaca buku tersebut pembaca bisa termotivasi. Dalam buku itu dia juga mengajak untuk terus move on. Selalu bangkit. Bangkit dari masalah, keterpurukan, kegagalan, dan sebagainya. ”Buku ini saya tulis sejak dua tahun lalu. Jadi nulisnya dicicil. Sebatas mengisi kesibukan. Semoga bermanfaat,” harapnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia