Minggu, 19 May 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Belajar Kalah dari Puasa

Oleh Achmad Bahrur Rozi*

10 Mei 2019, 01: 54: 01 WIB | editor : Abdul Basri

Belajar Kalah dari Puasa

PENDIDIKAN sejauh ini lebih didominasi untuk berkompetisi, tapi melalaikan berbagi. Maka muncullah orang-orang yang merasa superior meninggalkan yang lemah. Pun kala itu peduli pada yang lemah, tetapi lebih menempatkannya sebagai objek belaka.

Puasa adalah pendidikan dalam bentuk lain. Ramadan adalah kelas khusus untuk menghayati kelemahan badaniah kita. Puasa mengajarkan kita dengan sengaja memilih untuk tidak menjadi kuat. Dengan puasa kita sengaja memilih untuk melemahkan diri kita.

Sejauh ini kita dan anak-anak kita selalu didorong untuk menang. Itulah sebabnya kita membutuhkan motivator-motivator. Kita didorong untuk terus-menerus memenangkan pertarungan.

Motivasi digenjot ke dalam diri kita bukan saja dalam bentuknya yang profan, namun juga religius. Betapa sulit saat ini membedakan antara motivator dan agamawan (dan politisi, tentu saja). Mereka semua mengenakan jubah yang sama.

Bedanya, menurut saya, kita masih memiliki alternatif. Masyarakat kita sangat terbiasa dengan kekalahan. Mungkin kita terlalu banyak kalah, sehingga kita lupa rasanya menang.

Itulah sebabnya, masyarakat kita menawarkan demikian banyak sublimasi. Jika kalah dalam persaingan dunia kerja, kita bisa mencarinya dalam dunia agama, bukan? Sering kali kita dengar kesalehan dan ganjaran hidup surgawi jauh lebih mulia daripada hidup duniawi yang penuh dengan kekalahan. Mungkin saya salah. Tapi, saya menginterpretasikan itu sebagai bentuk sublimasi dari kekalahan.

Tidak seperti masyarakat modern lainnya, masyarakat kita masih lebih ”nrimo” dengan kekalahan. Tekanan sosial kita masih bisa ditahan (tolerable). Meskipun ada beberapa yang tetap ngotot tak mau kalah dan tak mau mengakui kekalahan.

Namun, bukan berarti kita tidak kejam terhadap yang lemah. Dalam banyak kasus kita menjadi penindas untuk mereka yang sesungguhnya sudah tertindas. Sistem politik dan ekonomi kita tidak memberikan ampun sedikit pun pada yang lemah dan menderita, sebaliknya memberikan kemudahan dan hak-hak istimewa (privilege) kepada mereka yang kuat dan berkuasa.

Saya tidak ada waktu untuk mengulasnya dalam kasus per kasus. Namun, saya ingin membawa ini kepada suasana bulan Ramadan, momen umat Islam akan berpuasa.

Dalam pemahaman saya, seperti dikemukakan sebelumnya, puasa adalah ruang kita menghayati kelemahan badaniah kita. Kita dengan sengaja memilih untuk tidak menjadi kuat. Kita sengaja memilih untuk melemahkan diri kita.

Mudah-mudahan ini adalah saat terbaik kita untuk berkontemplasi dan menguatkan ingatan kita pada yang lemah. Untuk mereka yang terlalu lemah untuk membela dirinya sendiri. Untuk mereka yang lemah karena jumlahnya sedikit.

Namun, dalam hemat saya, mereka tidak butuh perlindungan kita. Yang mereka butuhkan adalah kita berdiri di samping mereka sehingga mereka mendapatkan kekuatan. Ingat, mereka tidak butuh perlindungan. Mereka butuh solidaritas kita. Karena dengan melindungi, kita hanya menunjukkan kekuasaan kita atas mereka.

Selamat bagi yang menang, yang kalah semoga mendapatkan ketenangan jiwa dalam tabah! Selamat menjalankan ibadah puasa! 

*)Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, mengajar di STITA Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia