Minggu, 19 May 2019
radarmadura
icon featured
Sportainment

Kompetisi Liga 2 Hanya 6 Bulan

Madura FC Khawatir Jadwal Sangat Mepet

10 Mei 2019, 01: 51: 30 WIB | editor : Abdul Basri

TAHAN EMOSI: Pemain Madura FC (kaus merah) bersitegang dengan pemain PSS Sleman dalam kompetisi Liga 2 2018 di Stadion Achmad Yani, Sumenep.

TAHAN EMOSI: Pemain Madura FC (kaus merah) bersitegang dengan pemain PSS Sleman dalam kompetisi Liga 2 2018 di Stadion Achmad Yani, Sumenep. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

SUMENEP – Kompetisi Liga 2 2019 dijadwalkan akan bergulir pada 15 Juli mendatang. Namun, hingga saat ini belum ada jadwal resmi dari PSSI maupun PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi.

Manajer Madura FC Januar Herwanto belum yakin kompetisi akan digelar tepat waktu. Menurut dia, seharusnya sudah ada jadwal resmi dari operator kompetisi. ”Bagaimana mungkin tim melakukan semua persiapan. Mulai rencana keuangan yang harus dibuat, sponsor, dan jersey, yang dilakukan dalam waktu singkat,” katanya kemarin (9/5).

Biasanya, jelas Januar, sebulan sebelum kickoff, akan ada manager meeting. Pihaknya senang jika kompetisi akan bergulir mulai Juli. Pasalnya, ada kemungkinan kompetisi akan berakhir pada akhir tahun. ”Kompetisi tahun ini bisa saja berjalan lima sampai enam bulan. Itu artinya kami bisa berhemat selama lima bulan,” jelas Januar.

Pada umumnya berjalan selama 10 bulan, seperti kompetisi Liga 2 musim lalu. Dari segi pengeluaran gaji pemain, kompetisi selama enam bulan bisa lebih hemat. Pasalnya, Madura FC mengeluarkan gaji bulanan, bukan setiap pertandingan.

Namun dampak buruknya, kompetisi akan ditekan untuk menyelesaikan seluruh pertandingan dalam jangka 6 bulan. Yang umumnya diselesaikan selama 10 bulan dalam semusim kompetisi. ”Setiap klub bisa bermain dua kali dalam sepekan. Ini sangat merugikan pemain dan klub tentunya,” ungkap Januar.

Dengan penekanan penyelesaian pertandingan, tenaga pemain akan terforsir. Tidak semua pertandingan akan berjalan sesuai rencana. Terdapat banyak tensi pertandingan yang cukup tinggi. Semua itu memakan stamina lebih banyak. Belum lagi perjalanan setiap tim untuk melakukan laga away. ”Setiap tim pasti akan merencanakan pengeluarannya, termasuk cost away ke luar,” tutur Januar.

Dia membandingkan jika ada klub asal Papua harus bertandang ke Aceh. Sementara dalam sepekan harus menjalani dua pertandingan, tentu ini di luar kebiasaan kompetisi yang bagus.

Selain itu, tenaga pemain akan terkuras lebih banyak jika melakukan laga away. Faktor kelelahan dan cedera mengancam. Namun, pria penghobi fotografi tersebut mengaku memaklumi, kondisi persepakbolaan Indonesia saat ini sedang sulit.

”Untuk itu saya tunggu seperti apa nanti model kompetisi Liga 2 2019,” jelasnya. Ia tak ingin membandingkan dengan kompetisi di Eropa yang sudah tertata dengan baik. Mulai jadwal pertandingan hingga masalah sponsor kompetisi.

”Masalah sponsor kompetisi yang sampai saat ini belum jelas. Ini juga berdampak pada tayangan televisi. Bagaimana mungkin ada sponsor yang mau meneken kontrak jika jadwal kompetisinya saja belum jelas,” ungkap Januar.

(mr/dam/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia