Jumat, 19 Apr 2019
radarmadura
icon featured
Esai

Problematika dan Tantangan Bahasa Madura

Oleh Masyithah Mardhatillah*

15 April 2019, 01: 27: 10 WIB | editor : Abdul Basri

Problematika dan Tantangan Bahasa Madura

MENINGKATNYA suhu politik akhir-akhir ini memberi dampak positif bagi popularitas bahasa Madura di ”rumah”-nya sendiri. Ia menjadi lebih familier karena banyak digunakan dalam berbagai kesempatan maupun atribut kampanye. Gaya komunikasi demikian tentu cukup beralasan sebab ia mampu menghadirkan kesan mendalam soal keberpihakan pada rakyat, eratnya ikatan emosional, kesederhanaan, dan lain sebagainya.

Sebelumnya, kemajuan teknologi yang memperluas akses maupun perangkat informasi ikut berandil dalam hal ini. Bahasa Madura tak lagi hanya populer sebagai lingua franca, akan tetapi mulai menjadi identitas dan kebanggaan. Berbagai platform media sosial yang ramai dikonsumsi masyarakat turut memudahkan promosinya, baik untuk keperluan hiburan hingga agenda pelestarian dan promosi kekayaan lokal.

Bersama  dengan  itu,  penyedia  barang  dan  jasa  tak  mau  ketinggalan. Mereka ikut melancarkan promosi dengan bahasa atau latar budaya Madura. Bahkan, trademark bisnis berbahasa Madura semakin menjamur, termasuk slogan Pemkab Pamekasan dan Madura United. Kecenderungan demikian, alih-alih dianggap kuno dan ketinggalan zaman, justru mengesankan kentalnya lokalitas yang susah dicari padanannya di tempat lain.

Ini tentu menjadi kabar bahagia. Sebab, meski bahasa Madura tidak pernah absen dari kurikulum pendidikan formal tingkat dasar dan menengah, popularitasnya nyaris selalu kalah bersaing dengan bahasa nasional, bahasa gaul atau bahasa asing yang telanjur dianggap lebih dapat menaikkan prestise pemakainya.

***

Momentum naiknya popularitas bahasa Madura, karena itu, layak diapresiasi sekaligus dikaji dari berbagai aspek. Ini utamanya karena sebagai kekayaan lokal yang lebih intens ditransmisikan melalui budaya oral, berbagai problematika bahasa Madura hingga saat ini belum benar-benar teruraikan. Selain itu, pelestarian bahasa Madura dari generasi ke generasi tidaklah terjadi secara formal, melainkan kultural.

Itulah  mengapa,  tidak  sedikit  siswa  yang  mendapat  nilai  jelek  pada  mata pelajaran bahasa Madura meski pada saat yang sama sangat lancar menuturkan bahasa daerahnya. Problem demikian, selain berakar dari perbedaan (kosakata dan dan dialek) tiap kabupaten bahkan daerah, strata bahasa berdasarkan skala kesopanan atau kurang populernya beberapa kata tertentu, juga sangat dipengaruhi oleh ejaan.

Sedikitnya, ada tiga titik terawan yang menjadi ”lahan subur” terjadinya kesalahan penulisan ejaan yang tepat ucap. Pertama terkait dengan variasi dialek di mana gaya tutur lisan sebagian (besar) orang Madura cenderung dipungkasi dengan bunyi ”h” untuk kata-kata yang berakhiran huruf vokal. Gaya demikian kemudian ”dipaksakan” pada bahasa tulis (ejaan), semisal kata marè (Madura: selesai) dan kanca (Madura: teman) yang lumrah ditulis mareh dan kancah dengan menyertakan konsonan ”h” aspiran.

Kedua adalah kekeliruan dalam pemilihan huruf vokal, seperti ketumpangtindihan penggunaan ”a”, ”e”, serta ”â”. Dalam menerjemahkan ayam, misalnya, versi tulis yang lebih sering dipakai adalah ajem dibandingkan ajâm (ejaan tepat ucap). Begitu juga dengan gerre yang lebih populer dibanding gherrâ (Madura: kaku), dhere dibanding ḍârâ (Madura: darah), bha’en dibanding bâ’ân (Madura: kamu) dan lain sebagainya.

Ketiga adalah perihal kesalahan dalam menentukan huruf konsonan yang tepat ucap. Ini biasanya terjadi antara antara ”j” dan ”c” (jubha’ namun tertulis cube’, Madura: jelek), ”bh” dan ”p” (bhunten namun tertulis punten, Madura: tidak), ”k” dan ”gh” (kengku’, seharusnya ghângghu’, Madura: ingin melakukan/menyantap sesuatu) dan seterusnya.

Selain perihal minimnya wawasan kebahasamaduraan, tiga kesalahan di atas umumnya terjadi karena alasan efisiensi. Pengguna bahasa Madura begitu saja menyesuaikan bahasa tulis selayaknya bahasa lisan. Namun, di antara ketiganya, poin pertamalah yang paling sederhana sebab ia hanya terkait dengan dialek. Sementara itu, dua poin lain ”melibatkan” kaidah-kaidah yang barangkali tampak rumit bagi masyarakat awam dan masih eksklusif menjadi ”wilayah” para pakar.

***

Meski tampak sepele, tidak terlalu mengganggu dan tetap dapat dipahami pembaca, kelaziman yang demikian tentu tidak baik jika dibiarkan. Tak elok jika hal semacam ini menjadi ”dosa warisan” yang di kemudian hari akan susah diurai ujung pangkalnya karena ketiadaan respons serius dari ”pihak berwenang”. Ini menjadi layak dipikirkan, sebab naik daunnya bahasa Madura tak hanya membawa angin segar, akan tetapi juga tantangan yang tak kalah besar.

Jika selama ini kajian bahasa Madura berfokus pada sekolah, kampus, komunitas kesenian dan kebudayaan, media, pegiat atau pemerhati bahasa, sekaranglah saatnya mengimbangi popularitasnya yang melejit dengan agenda pemasyarakatan ejaan yang baik dan benar.

Agenda besar ini bisa dimulai dari langkah-langkah kecil semisal menghadirkan ejaan bahasa Madura yang tepat melalui iklan, pengumuman, nomenklatur, slogan, dan perangkat informasi populer lain milik pemerintah daerah, public figure atau pihak terkait. 

*Ibu satu anak, dosen IAIN Madura, Pamekasan.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia