Jumat, 19 Apr 2019
radarmadura
icon featured
Features

Mengunjungi SDN Cangkramaan dan SDN Tembayangan di Pulau Kangean

13 April 2019, 15: 50: 50 WIB | editor : Abdul Basri

TERPENCIL: Siswa-siswi SDN Cangkramaan, Kecamatan Kangayan, Pulau Kangean, Sumenep, berada di kelas saat jam belajar Kamis (4/4).

TERPENCIL: Siswa-siswi SDN Cangkramaan, Kecamatan Kangayan, Pulau Kangean, Sumenep, berada di kelas saat jam belajar Kamis (4/4). (MUSTAJI/RadarMadura.id)

Tidak mudah bagi guru untuk sampai ke sekolah di pedalaman Pulau Kangean. Siswa juga belum bisa menikmati fasilitas pendidikan selengkap di Madura daratan. Laut dan jalan rusak jadi menu setiap hari.

MUSTAJI, Sumenep

KAMIS (4/4) merupakan hari keempat saya mengikuti tim review aset Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep. Kali ini kami mendatangi sekolah di Kecamatan Kangayan. Yaitu, SDN Tembayangan dan SDN Cangkramaan. Dua sekolah itu berada di ujung selatan Pulau Kangean.

MENANTANG: Tim review aset Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep turun dari perahu ketika sampai di dermaga Desa Cangkramaan, Pulau Kangean.

MENANTANG: Tim review aset Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep turun dari perahu ketika sampai di dermaga Desa Cangkramaan, Pulau Kangean. (MUSTAJI/RadarMadura.id)

Perjalanan kami dimulai pukul 08.00 dari kantor UPT Disdik Sumenep di Kecamatan Arjasa. Meski berada di Kecamatan Kangayan, dua sekolah itu lebih mudah diakses dari Kecamatan Arjasa.

Dari Desa Arjasa, kami menuju ke timur. Kemudian belok ke selatan di Desa Kalinganyar. Sekitar 20 menit bersepeda motor, kami sampai di Desa Gelaman. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh. Namun, kondisi jalan yang rusak membuat perjalanan memakan waktu lama.

Dari Desa Gelaman, saya ditemani Syis dan Hafid yang termasuk tim verifikasi aset menaiki perahu kecil menyusuri sungai batuan. Sekitar 25 menit menyusuri sungai yang dipercaya dihuni buaya besar itu, kami sampai di muara.

Kabar mengenai keberadaan buaya bukan isapan jempol. Sekali terlihat buaya berukuran sebesar lengan pria dewasa berlari di pinggir sungai yang ditumbuhi pohon bakau itu. Beberapa kali juga terlihat penampakan kera liar di pinggir sungai.

Dari laut tempat kami naik perahu masih butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di Desa Cangkramaan. Sesampainya di dermaga desa, para penumpang perahu yang saat itu hanya beberapa orang kompak memelintir pinggang. Pegal-pegal.

Dari dermaga perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki. Sekitar 10 menit kemudian sampai di SDN Cangkramaan. Satu-satunya sekolah di desa yang berada di ujung selatan Pulau Kangean.

Lebar jalan masuk ke sekolah dari jalan utama desa hanya berukuran sekitar 60 sentimeter. Sekolah itu hanya terdiri atas dua bangunan. Satu bangunan berisi tiga ruang kelas. Satu bangunan yang lain hanya memiliki satu ruangan yang berfungsi sebagai ruang guru.

Halaman sekolah itu adalah rawa yang belum diuruk. Saat kami datang, para murid berada di dalam kelas. Sebagian berada di pintu sambil memandangi kami.

Fasilitas sekolah sangat minim. Tak ada perpustakaan. Tak ada laboratorium komputer dan fasilitas pendukung lain. Siswa-siswinya dicampur antarkelas karena kekurangan ruangan. Baju siswa-siswinya terlihat kusam.

Selesai di lokasi pertama, kami melanjutkan perjalanan ke SDN Tembayangan di Desa Tembayangan. Kalau diperkirakan, jaraknya hanya sekitar 4 kilometer. Tapi, kami butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke lokasi dengan mengendarai sepeda motor.

Alasan utama, kondisi jalan rusak parah. Selain licin dan berbatu, jalan yang menanjak dan menurun juga menyulitkan. Cocok untuk lintasan balap motocross. Mungkin sekali-kali perlu digelar event nge-trail di Pulau Bekisar ini.

Kondisi SDN Tembayangan hampir sama dengan sekolah sebelumnya. Hanya, SDN Tembayangan memiliki ruang kelas lebih banyak. Ada enam ruang kelas dan satu ruang guru. Meski begitu, secara umum kondisi fasilitas dan siswa serta gurunya sama.

Dua lokasi tersebut bukan tidak bisa diakses melalui jalur darat. Namun, butuh kemampuan berkendara lebih untuk bisa sampai. Seperti kebanyakan ruas jalan lain di Kangean, kondisi jalan menuju dua lokasi itu hancur berantakan. Jika hujan turun, jalan jadi berlumpur.

”Kalau yang tidak biasa lebih baik lewat laut. Kami saja yang sudah biasa kalau tidak kepepet mending lewat laut. Kalau lewat darat sengsara,” kata Gunawan, seorang pengajar di SDN Cangkramaan.

Mereka yang berada di pelosok sangat berharap perbaikan fasilitas sekolah supaya murid nyaman belajar. Tetapi, yang tidak kalah penting juga adalah jalan bagus yang bisa mempermudah akses ke sekolah agar terhubung dengan dunia luar.

Kemajuan sekolah di pedalaman seperti dua sekolah itu juga sangat dipengaruhi fasilitas pendukung. Jalan juga penting.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia