Minggu, 19 May 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Polisikan Oknum Dewan, Istri Siri Ngaku Sering Dipukul

10 April 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

NGAKU DIANIAYA: HS didampingi Muslim selaku kuasa hukumnya menunjukkan bukti laporan dugaan penganiayaan di Mapolres Pamekasan kemarin.

NGAKU DIANIAYA: HS didampingi Muslim selaku kuasa hukumnya menunjukkan bukti laporan dugaan penganiayaan di Mapolres Pamekasan kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

PAMEKASAN – Mimpi indah perempuan berinisial HS untuk hidup bahagia dengan politikus Partai Nasdem Muhammad Hadari mulai redup. Perempuan 30 tahun itu mengaku tidak kuat dengan ulah kelakuan pria yang menikahinya itu. Puncaknya, dia melaporkan Hadari kepada polisi atas dugaan penganiayaan kemarin (9/4).

HS mengaku menikah secara siri dengan Hadari sejak delapan bulan lalu. Dia kenal dengan politikus muda itu di Kota Gerbang Salam. Kemudian, hubungannya semakin intens hingga menikah secara siri.

Namun, setelah menikah bukan kebahagiaan yang didapat, justru kekerasan. Pemukulan yang menimpa perempuan asal Sumenep itu tidak terhitung. Puncaknya terjadi pada 20 Februari 2019.

Sekujur tubuhnya dipukul. Bahkan, lengan kirinya sempat digigit. Pemukulan itu rata-rata menggunakan tangan kosong. Pernah menggunakan sapu. ”Saya tidak kuat. Saya minta cerai, tapi dia tidak mau,” katanya.

Dengan demikian, dia memilih melaporkan dugaan penganiayaan itu ke Polres Pamekasan kemarin (9/4). Harapannya, politikus Nasdem itu diproses secara hukum. Laporan itu teregister dengan nomor LP/95/IV/2019/JATIM/RES PMK.

HS mengatakan, sebelum menikah, Hadari mengaku memiliki istri sah. Bahkan, statusnya sebagai wakil rakyat juga disampaikan. Tetapi, biduk rumah tangga dengan istri sahnya diakui bermasalah.

Menurut pengakuan HS, oknum dewan yang menjabat sekretaris Komisi I DPRD Pamekasan itu mengaku pisah ranjang. ”Tapi tidak pisah-pisah, makanya saya minta cerai,” katanya. 

Karena dianggap melanggar komitmen, perempuan berkerudung itu minta cerai. Tetapi, Hadari menolak. Aksi kekerasan sering terjadi. Bahkan, pria berbadan tinggi itu kerap dibakar cemburu berujung pemukulan.

Muslim selaku kuasa hukum HS berharap, kasus tersebut segera diproses oleh kepolisian. Sebab, pemukulan itu masuk kategori tindak pidana. Apalagi, pelakunya adalah wakil rakyat yang seharusnya memberikan contoh yang baik terhadap masyarakat. 

Hadari diduga melanggar pasal 351 KUHP dengan ancaman hukuman dua tahun penjara. Muslim memasrahkan penuh proses hukum itu kepada polisi. ”Klien kami tidak kuat dengan kekerasan yang terjadi, makanya minta talak,” katanya.

Muslim mengatakan, sebelum resmi melapor, pihaknya mengajukan somasi kepada Hadari. Hadari diminta meminta maaf terkait kekerasan yang dilakukan. Namun, surat yang dilayangkan itu tidak digubris.

Dalam waktu dekat, akan dilayangkan laporan susulan. Yakni, pemalsuan akun medsos Instagram dan Facebook. ”Di medsos itu upload foto pribadi dan keterangan yang merugikan klien kami,” katanya.

Sementara itu, Hadari belum memberikan tanggapan banyak terkait pelaporan itu. Ketika dihubungi JPRM, dia mengaku berada di perjalanan dari luar kota. Tetapi, hari ini (10/4) dia berencana mendatangi Mapolres Pamekasan. ”Besok saya ke mapolres,” katanya.

(mr/luq/pen/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia