Jumat, 19 Apr 2019
radarmadura
icon featured
Features

Menelusuri Jejak Lintasan Kereta Api di Kecamatan Saronggi

Rel Sudah Hilang, Jalur Tertutup Rumput Liar

26 Maret 2019, 12: 32: 34 WIB | editor : Abdul Basri

RIMBUN: Wartawan JPRM Mustaji berada di salah satu jembatan di Desa Kebun Dadap Timur, Kecamatan Saronggi, ,Sumenep yang di atasnya dahulu diceritakan pernah terdapat lintasan kereta api pada masa kolonial.

RIMBUN: Wartawan JPRM Mustaji berada di salah satu jembatan di Desa Kebun Dadap Timur, Kecamatan Saronggi, ,Sumenep yang di atasnya dahulu diceritakan pernah terdapat lintasan kereta api pada masa kolonial. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Mencari sesuatu yang terlupakan tidak mudah. Misalnya, sisa-sisa rel kereta api di Sumenep. RadarMadura harus menempuh jalan menantang dan menerobos rimbunnya semak belukar.

BADRI STIAWAN, Sumenep

BERBEKAL sedikit informasi, saya dan Mustaji (wartawan RadarMadura) mencoba mencari keberadaan sisa-sisa lintasan kereta api di Sumenep. Tepatnya di Kecamatan Saronggi. Kabarnya, terdapat sejumlah bukti keberadaan lintasan sepur di sana.

Masuk melalui jalan di Desa Bungbungan, Kecamatan Bluto, kemudian melintasi Desa Tanah Merah. Kami menuju Desa Langsar. Informasinya, di desa inilah sisa-sisa rel kereta api masih ada. Namun berkali-kali mencoba bertanya pada warga setempat, hasilnya nihil.

Ada yang bilang tidak tahu. Bangunannya sudah hancur. Ada juga yang menunjukkan arah. Tapi, petunjuk tersebut tidak begitu lengkap. Sampai di Desa Langsar, Kecamatan Bluto, salah seorang warga meminta kami putar balik. Katanya, lokasi jembatan lintasan kereta api itu sudah dilewati. Warga memberikan petunjuk arah baru. Diikuti, kami akhirnya nyasar.

Berkali-kali seperti itu. Lelah kami rasakan di saat mendung dan rintik hujan menyelimuti langit Sumenep. Pedagang rujak di pinggir jalan di Desa Kebundapdap Timur, Kecamatan Saronggi, kami hampiri. Kebingungan yang menuntun kami sampai di desa ini.

Alhamdulillah perut terisi. Arniya, seorang pembeli rujak, mengaku tahu lokasi sisa bangunan peninggalan Belanda itu. Perempuan 36 tahun itu bersedia mengantarkan kami ke lokasi yang kami maksud. Sebelum itu, dia bercerita soal lintasan rel kereta api yang melintas di Desa Kebundapdap Timur.

Berdasarkan cerita dari para sesepuh, lintasan rel tersebut dipakai sebelum Indonesia merdeka. Setelah merdeka, kereta api tidak lagi beroperasi. Rel banyak diambil. Sekarang sebagian lintasan sudah diaspal. Ada juga yang tumpukan batunya masih terlihat menyerupai gundukan lintasan rel kereta api pada umumnya.

”Di Desa Langsar Barat ada satu, Langsar Timur ada juga satu. Di Kebundapdap juga ada. Di Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, kabarnya juga ada. Itu satu jalur,” tutur warga Desa Kebundapdap Timur itu.

Dia menceritakan, saat ini tidak banyak yang mengetahui pasti mengenai jalur rel tersebut. Sebab, banyak yang hilang. Terlebih warga yang juga saksi mata sejarah di daerah tersebut sudah banyak meninggal. Masyarakat hanya mengetahui dari cerita-cerita sebelumnya.

Satu terowongan telah ditemukan, namun sulit untuk didokumentasikan. Kondisinya sudah tertutup pohon bambu di setiap sisi. Selain itu, rumput dan pohon tumbuh liar di sekitar lubang terowongan. Ariyani menyarankan untuk tidak turun ke bawah. Khawatir terdapat hewan berbisa yang membahayakan. Dia menunjukkan arah menuju terowongan lainnya.

Jalan tak beraspal. Kami tetap melaju menggunakan motor hingga sampai di jalan setapak. Sekitar 300 meter dari jalan desa, jalanan yang kami lalui tidak memungkinkan untuk motor. Harus dilalui dengan jalan kaki. Di daerah ini, tidak ada rumah warga. Jangankan rumah, aktivitas warga di daerah ini tak tampak.

Motor terpaksa kami parkir. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kami sadar memarkir motor di tempat sepi dan baru berisiko. Motor bisa raib. Tapi, rasa ingin tahu mengalahkan perasaan waswas. Sekitar 100 meter kami berjalan, terowongan akhirnya ditemukan.

Di atas terowongan terdapat tatanan batu yang biasa terlihat pada lintasan rel kereta api. Bukti itu yang menguatkan bahwa benar di daerah tersebut dulu sempat dilalui transportasi berupa kereta api. Tapi jelasnya, kami masih mencari tokoh masyarakat atau pakar yang tahu betul soal cerita tersebut.

Gunawan, pegawai Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumenep, juga pernah mencari sisa-sisa peninggalan sejarah itu. Upayanya dimulai 2018. Dia belum banyak mendapat informasi mengenai sejarah, jalur, dan keberadaan lintasan rel sepur.

”Sebelumnya saya menemukan satu. Kalau sudah Sampean nemu dua, kita sudah menemukan tiga terowongan,” katanya saat dihubungi melalui saluran telepon.

Dia mengaku masih mencari tokoh yang tahu pasti sejarah lintasan kereta api. Yaitu, orang yang bisa memaparkan bahwa Sumenep pernah dilintasi kereta api. Termasuk, rel yang ada di Kecamatan Kalianget. ”Saya masih lanjut melakukan pencarian,” ucapnya.

Gunawan berencana mencari keberadaan jembatan terowongan lainnya pekan depan. Kabarnya, ada bekas stasiun kereta api di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan. Namun, itu masih informasi sementara.

(mr/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia