Kamis, 21 Mar 2019
radarmadura
icon featured
Esai
Mengenang Kiai M. Zamiel El-Muttaqien

Pembelajar Sejati, Berwawasan Luas, Berpemikiran Tajam

25 Februari 2019, 15: 55: 47 WIB | editor : Abdul Basri

KENANGAN: Muhammad Affan (kiri) bersama Kiai M. Zamiel El-Muttaqien semasa hidup pada momen Idul Fitri 2014 di Pondok Pesantren Annuqayah.

KENANGAN: Muhammad Affan (kiri) bersama Kiai M. Zamiel El-Muttaqien semasa hidup pada momen Idul Fitri 2014 di Pondok Pesantren Annuqayah. (MUHAMMAD AFFAN FOR RadarMadura.id)

”Hari ini Zamiel ulang tahun. Zamiel lahir tanggal 9 (November). Sembilan itu jumlah bintangnya NU. Wali Sanga juga 9. Semoga Zamiel bisa membaktikan diri kepada masyarakat seperti halnya NU dan Wali Sanga.” (Kiai Abd. Basith AS, dalam Tentang Man Zamiel: Sepotong Ingatan Masa Kecil, M. Mushthafa pada catatan di laman medsos)

SEJAK kecil teman-teman sekelas mengenal Kiai Zamiel sebagai sosok yang cerdas. Minat baca dan potensinya nampak sejak masih duduk di bangku madrasah ibtidaiyah (MI). Ketika beranjak remaja, kematangan dan kemampuannya semakin benderang. Yang bisa mengalahkan Kiai Zamiel hanya Kiai Mushthafa,” seloroh teman-teman pada waktu itu.

Kiai Mushthafa adalah keponakan sepupu mendiang. Tetapi secara usia hanya berjarak beberapa bulan. Mereka sekelas, sama-sama penggerak OSIS, pencetus gairah literasi di sekolah kami. Selama duduk di bangku pendidikan MI, MTs, dan MA, gelar teladan diborong mereka berdua secara bergantian. Saya dan teman-teman cukup puas menjadi penggembira saja.

Selesai aliyah di Annuqayah 1997, Kiai Mushthafa melanjutkan pendidikannya ke Jogja. Beliau sempat beberapa tahun menjadi editor lepas beberapa penerbit besar sebelum akhirnya melanjutkan pendidikannya ke Belanda dan Norwegia. Sementara Kiai Zamiel melanjutkan pendidikan ke salah satu perguruan tinggi di Malang.

Ketika di Malang, gairah keilmuannya semakin nampak. Kiai Zamiel sering diundang teman-teman mahasiswa untuk mengisi kajian-kajian. Berpindah dari satu kampus ke kampus lain. Tidak jarang juga menjadi pembicara di beberapa kegiatan kampus di Surabaya.

Biasanya ketika libur panjang kami jarang pulang. Kami menghabiskan waktu berlama-lama di kontrakan. Saat itulah saya melihat langsung minat bacanya yang luar biasa. Tak  jarang Kiai Zamiel menghabiskan waktunya semalam penuh atau seharian hanya untuk belajar. Pernah suatu ketika saya menemaninya baca. Tengah malam saya tertidur. Menjelang subuh Kiai Zamiel masih duduk mematung memangku buku.

Sekitar 2001, Kiai Zamiel mendirikan Bengkel ImajiNASI. Forum ini tempat berkumpulnya teman-teman mahasiswa antarkampus yang sama-sama meminati pengetahuan seputar sastra. Sesekali menghadirkan ”bintang tamu” senior dari luar. Agus Sunyoto adalah salah satu nama yang pernah dihadirkan awal-awal bengkel ini berdiri.

Kiai Zamiel adalah pembelajar sejati, sosok yang berwawasan luas dan berpemikiran tajam. Mendiang melampaui pengetahuan kami yang selalu merasa haus saat berada di sampingnya.

Kiai Zamiel berhasil mendekatkan kami dengan pemikiran dan buku-buku. Biasanya, di awal bulan mendiang mengajak teman-teman ke Gramedia atau Togamas. Masa-masa itu uang belanja kami lebih banyak dihabiskan untuk berbelanja buku, memborong hikmah, dan pengetahuan yang manfaatnya banyak kami rasakan sampai sekarang.

Sepulang dari Malang, Kiai Zamiel diamanahi tugas menggerakkan salah satu lembaga sosial milik pesantren, Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah (BPM-PPA). BPM merupakan lembaga sosial milik pesantren yang salah satu tugasnya berperan menjadi penghubung antara pesantren dengan masyarakat melalui program-program pendidikan, sosial ekonomi, dan kemasyarakatan. Menurut beberapa peneliti, BPM-PPA termasuk biro tertua di Madura.

Kiai Zamiel mengajak saya bergabung menjadi  pengurus. Senang sekali rasanya. Bukan karena berada di biro ini semata saya bahagia, tetapi memiliki kesempatan bersama Kiai Zamiel dalam waktu yang cukup lama bagi kami adalah anugerah yang sangat indah. Saya dan teman teman ditempa oleh wawasan dan pemikirannya yang luas. Kami juga banyak belajar dari gaya kepemimpinannya yang khas.

Pernah beberapa kali kami rapat di kantor. Saat tugas program di ujung deadline, diskusi buntu tak menemukan jalan. Kami memeras otak. Kiai Zamiel tak kunjung datang. Saya dan teman-teman kelimpungan. Menjelang akhir rapat, mendiang tiba tiba muncul sambil tersenyum.

Selama beberapa tahun Kiai Zamiel juga sempat membimbing santri belajar sastra di komunitas yang ia bentuk, Bengkel Puisi Annuqayah. Bernando J. Sujibto, Raedu Badrus Shaleh, Sofyan RH. Zaid, adalah sedikit dari nama yang pernah menempa ilmu sastra di perkumpulan ini.

Beberapa tahun sebelum berpulang, mendiang dipercaya menjadi penggerak perekonomian oleh Pondok Pesantren melalui lembaga Unit Jasa Keuangan Syariah (UJKS) Pondok Pesantren Annuqayah. UJKS adalah unit koperasi yang bergerak di bidang usaha pembiayaan, investasi, simpanan dengan pola bagi hasil.

Di sektor penguatan ekonomi yang lain, Kiai Zamiel merupakan desainer utama kelahiran Kancakona Kopi yang saat ini sudah berkembang di Sumenep dan Jember. Kabarnya, di Bali segera menyusul.

Selama beberapa tahun terakhir, bersama Wahid Foundation, Kiai Zamiel juga telah berhasil menggerakkan perekonomian di salah satu desa di Kecamatan Pasongsongan melalui pengembangan usaha ekonomi kerakyatan berbasis pangan lokal. Unit usaha batik kontemporer yang diasuh Kiai Homaidy Ch. dan kelompok kajian keislaman.

Kini Kiai Zamiel telah berpulang meninggalkan kita, Selasa (12/2). Mendiang sosok yang rendah hati, tenang dalam bertutur, selalu menghindar dari popularitas. Sungguh banyak yang merasa kehilangan. Sungguh banyak yang merasa ditinggalkan.

The Eagle flies alone. Selamat jalan, Guru. Sampai jumpa di Surga Keabadian. 

”Bila seorang sahabat berpulang mendahului kita, bukan hanya rasa kehilangan yang tak bisa kita kendalikan, tetapi juga kecemasan: mampukah kita meneruskan kebaikan-kebaikannya. (M. Zamiel El-Muttaqien). 

MUHAMMAD AFFAN

Mantan anggota presidium Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur, Lesbumi PC NU, dan pendiri Gusdurian Sumenep. Aktif di Paguyuban Pencinta Seni dan Lingkungan dan mengajar di SMA 3 Sabajarin Annuqayah.

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia