Kamis, 21 Mar 2019
radarmadura
icon featured
Ekonomi Bisnis

Baru 38 Produk IKM Masuk Pemasaran Digital

25 Februari 2019, 13: 47: 43 WIB | editor : Abdul Basri

PRODUK UNGGUL: Junaidi menunjukkan produk O’Nana Chips yang dijual di toko camilan UD Sumber Mutiara, Jalan Mutiara, Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Sampang, kemarin.

PRODUK UNGGUL: Junaidi menunjukkan produk O’Nana Chips yang dijual di toko camilan UD Sumber Mutiara, Jalan Mutiara, Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Sampang, kemarin. (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

SAMPANG – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang menjalankan program pemasaran dan promosi produk berbasis digital. Tetapi, tidak semua produk industri kecil menengah (IKM) terfasilitasi program tersebut.

Data disperdagprin menyebutkan, di Sampang terdapat 4.500 produk IKM. Terdiri dari produk makanan dan minuman (mamin), batik, kerajinan tangan, kayu ukir, genting, dan semacamnya. Namun, hanya 38 produk yang sudah masuk dalam laman Sistem Informasi Pelayanan Penyuluhan, Pendampingan, Pengembangan Produk dan Peningkatan Industri Kecil Menengah (SIP6 IKM) Sampang. Artinya, masih ada 4.462 produk yang hingga saat ini tidak ter-cover program tersebut.

 Kepala Disperdagprin Sampang Wahyu Prihartono mengatakan, produk yang bisa masuk dan dipasarkan melalui laman SIP6 IKM Sampang merupakan produk unggulan yang sudah memiliki merek dan hak paten. Puluhan produk yang sudah dipasarkan meliputi 22 produk mamin, 10 genting, 6 batik tulis.

Produk batik tulis yang dipasarkan di laman itu berasal dari Kecamatan Banyuates; Jrengik; Camplong; dan Sampang. Mamin dari Sampang, sedangkan genting dari Karang Penang dan Sokobanah.

”Produk yang belum memiliki merek dan hak paten tidak bisa dipromosikan di laman itu. Karena di laman itu semua informasi tentang produk sudah lengkap,” kata Wahyu kemarin (24/2).

  Meski demikian, bukan berarti 4.462 produk itu belum memiliki hak paten atau merek. Wahyu mengklaim, hampir 50 persen produk IKM di Sampang sudah memiliki hak paten.

Namun, disperdagprin kesulitan untuk memfasilitasi semua produk IKM dalam program tersebut. Sebab, tidak semua pelaku IKM berminat untuk memasarkan produknya di laman itu. Apalagi, program tersebut baru dijalankan dan masih dalam tahap sosialisasi kepada masyarakat.  

”Sejauh ini program tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat atau pelaku IKM.  Padahal, itu bisa menunjang kemajuan usaha yang dijalani masyarakat,” bebernya.

Anggota Komisi II DPRD Syamsudin mengatakan, program tersebut sangat baik untuk membantu pelaku IKM memasarkan produk. Terlebih menyambut era industri 4.0. Dia meminta agar disperdagprin berupaya maksimal dalam menyosialisasikan program tersebut kepada masyarakat.

Semua produk IKM harus ter-cover dalam program tersebut. Tujuannya, agar pemasaran produk bisa menyentuh pangsa pasar luas. Dia juga berharap agar kesadaran pelaku IKM untuk memanfaatkan program yang ada bisa lebih meningkat. ”Program itu untuk membantu masyarakat,” kata politikus Hanura itu. 

(mr/nal/onk/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia