Jumat, 26 Apr 2019
radarmadura
icon featured
Politik Pemerintahan

Pindah Dapil, Tak Bisa Pilih DPRD

23 Februari 2019, 13: 31: 39 WIB | editor : Abdul Basri

SERIUS: Anggota PPK saat mengikuti rapat koordinasi terkait data pemilih tambahan (DPTb) di KPU Sumenep pekan lalu.

SERIUS: Anggota PPK saat mengikuti rapat koordinasi terkait data pemilih tambahan (DPTb) di KPU Sumenep pekan lalu. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

SUMENEP – Masyarakat yang hendak pindah pilih harus mencermati aturan. Sebab, begitu pindah tempat pemungutan suara (TPS) yang berbeda daerah pimilihan (dapil), tidak semua hak pilihnya bisa digunakan.

Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Gapura Abd. Rahem menyampaikan, pemilih yang pindah dapil tidak akan bisa mencoblos calon anggota legislatif (caleg) di tingkatannya. Warga yang pindah pilih antardapil dalam satu kabupaten tidak punya hak pilih untuk caleg kabupaten.

”Misalnya, warga Gapura yang pindah pilih ke Guluk-Guluk, dia tidak bisa mencoblos caleg kabupaten,” kata Rahem kemarin (22/2). ”Sebab, dia pindahnya sudah beda dapil. Gapura masuk dapil 5, sedangkan Guluk-Guluk dapil 3,” sambungnya.

Bila pindahnya masih dalam satu dapil, tetap bisa mencoblos caleg kabupaten. Misalnya, warga Kecamatan Batang-Batang pindah pilih ke Gapura, dia masih bisa mencoblos caleg kabupaten. Sebab, Batang-Batang dan Gapura masih sama-sama dapil 5.

Beda halnya jika pindah pilih antardapil dalam provinsi. Dia tidak bisa mencoblos tiga caleg sekaligus. Yakni, tidak bisa memilih caleg DPRD kabupaten, DPRD provinsi, dan caleg DPR RI.

”Kalau masih dalam satu provinsi, misalnya dari Sumenep pindah ke Surabaya, maka dia hanya berhak mencoblos calon presiden-wakil presiden dan calon anggota DPD RI,” paparnya. ”Sebab, calon DPD RI dipilihnya kan satu provinsi,” tambahnya.

Jika melakukan pindah pilih antarprovinsi, dia hanya punya satu surat suara. Yakni, untuk surat suara calon presiden-wakil presiden. Sedangkan untuk keempat surat suara lainnya, mulai DPRD kabupaten, DPRD provinsi, DPR RI, dan DPD RI tidak mendapatkannya.

Banyak faktor daftar pemilih tetap (DPT) melakukan pindah pilih. Misalnya, karena sedang menjalankan tugas, menjalani rehabilitasi narkoba, tahanan lapas, atau menjalani rawat inap di rumah sakit. Pindah pilih juga bisa dilakukan karena alasan bekerja di luar domisili, bencana alam, pindah domisili, atau sedang dalam masa studi.

Sementara itu, anggota KPU Sumenep Rahbini mengatakan bahwa kemungkinan angka daftar pindah pilih di Sumenep cukup tinggi. Informasinya, ada beberapa pesantren yang santrinya tidak diliburkan.

”Untuk pesantren-pesantren besar yang tidak diliburkan, kemungkinan harus menambah tempat pemungutan suara (TPS),” kata Rahbini. ”Sebab kalau santrinya lebih dari 1.000 orang, tidak mungkin dimasukkan ke TPS terdekat. Karena satu TPS maksimal diisi 300 pemilih,” tandasnya. 

(mr/mam/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia