Selasa, 19 Feb 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Pembinaan Kelompok IKM Batik Tak Merata

12 Februari 2019, 13: 36: 28 WIB | editor : Abdul Basri

PRODUK UNGGULAN: Seorang pelaku IKM batik menunjukkan produk batik Trunojoyo yang dijual di toko batik  di Jalan Syamsul Arifin, Kecamatan Sampang, kemarin.

PRODUK UNGGULAN: Seorang pelaku IKM batik menunjukkan produk batik Trunojoyo yang dijual di toko batik  di Jalan Syamsul Arifin, Kecamatan Sampang, kemarin. (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

SAMPANG – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang kembali memprogramkan pembinaan dan pengembangan kelompok industri kecil menengah (IKM) batik. Anggaran yang disediakan Rp 40 juta. Namun, pembinaan tersebut belum merata.

Data disperdagprin menyebutkan, di Sampang ada 40 kelompok IKM batik. Setiap kelompok terdiri dari enam pengusaha batik yang meliputi perajin dan penjual.

Kasi Pengembangan Industri Umum Disperdagprin Sampang Abdul Gaffar mengatakan, ada 10 kelompok IKM batik yang mengajukan program tersebut. Tetapi, hanya dua kelompok yang akan mendapatkan program pembinaan dari instansinya. Sebab, anggarannya terbatas.

Penentuan kelompok yang akan mendapatkan program tersebut ditentukan setelah melakukan seleksi dan penilaian terhadap masing-masing kelompok. Sejumlah poin yang menjadi kriteria penilaian antara lain, alat produksi yang memadai dan komitmen kelompok dalam mengembangkan hasil produksi.

”Kelompok batik yang akan mendapatkan pembinaan yaitu kelompok di Kecamatan Camplong dan Banyuates. Setiap kelompok dianggarkan Rp 20 juta,” ujarnya kemarin (11/2).

Pembinaan masih fokus terhadap kelompok yang memproduksi batik dengan jumlah banyak dan tidak pernah mendapatkan bantuan. Program tersebut bertujuan membantu kelompok IKM batik dalam meningkatkan kualitas dan mengembangkan pemasaran produk.

Pembinaan dilakukan mulai dari tahap produksi, hak paten atau label produk, hingga akses penjualan menggunakan sistem digital.

Program itu dilaksanakan selama dua kali. Pembinaan pertama yaitu terkait dengan pemilihan bahan produksi, tata cara penggambaran motif, dan pemilihan warna. Sebab, itu sangat menentukan terhadap kualitas produk batik yang akan dihasilkan.

Disperdagprin bekerja sama dengan Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Jogjakarta. Pelaku IKM akan dibimbing dalam memproduksi batik bermotif nuansa alam dan kearifan lokal. Baik batik tulis maupun cap.

”Selama ini rata-rata batik di Sampang masih motif lama. Misalnya, terang bulan, sokon, manok tetteng, burung merak, dan Trunojoyo. Karena itu, motifnya perlu dikembangkan,” paparnya.

Pembinaan kedua, berupa teknik pemasaran batik dengan sistem digital. Pihaknya juga sudah me-launching aplikasi SIP6 IKM Sampang sebagai media informasi dan promosi semua produk IKM di Sampang. Warga bisa menggunakan aplikasi itu untuk memasarkan produk yang dihasilkan.

Setiap produk batik yang dihasilkan juga akan dipamerkan di showroom batik dan dipasarkan di berbagai event yang dilaksanakan pemkab dan Pemprov Jatim. Disperdagprin juga bekerja sama dengan sejumlah pengusaha batik yang mempunyai galeri ternama di Jawa Timur. Ada sekitar 38 produk yang sudah dititipkan di galeri tersebut.

  ”Realisasi program akan dimulai pada triwulan pertama. Kami akan mengajukan bantuan ke Pemprov Jatim dan pusat. Bagi kelompok yang ingin ikut pembinaan segera mengajukan permohonan kepada dinas,” tukasnya. 

(mr/nal/onk/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia