Minggu, 17 Feb 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Perahu Besar di Pamekasan Masih Gunakan Pukat Harimau

Dinas Perikanan Tegaskan Sudah Penyuluhan

11 Februari 2019, 20: 38: 23 WIB | editor : Abdul Basri

PERSIAPAN MAJHENG: Nelayan Branta Pesisir saat melakukan aktifitas di atas perahu.

PERSIAPAN MAJHENG: Nelayan Branta Pesisir saat melakukan aktifitas di atas perahu. (SANTI STIA WARDANI/RadarMadura.id)

PAMEKASAN - Meski penggunaan pukat harimau berbahaya, beberapa nelayan di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan masih tetap menggunakan alat tangkap berukuran jumbo tersebut. Padahal, penggunaan trawl memicu kerusakan ekosistem laut.

Fenomena penggunaan pukat harimau ini dibenarkan Hairul Anwar, Kasi Pengembangan Sarana dan Prasarana Penangkapan Ikan Dinas Perikanan Pamekasan. Diungkapkan, beberapa nelayan belum memiliki kesadaran akan dampak penggunaan pukat harimau.

"Di Branta Pesisir, sebagian nelayan yang memiliki perahu besar masih menggunakan pukat harimau. Mereka beralasan, menggunakan pukat harimau lebih menguntungkan ketimbang jaring biasa," ujarnya.

Menurut Hairul Anwar, institusinya hanya memiliki kewenangan menangani nelayan berperahu kecil. Sedangkan nelayan yang memiliki perahu berukuran besar langsung ditangani oleh provinsi.

"Apabila dipersentasekan, 90 persen nelayan berperahu kecil memiliki kesadaran untuk  tidak menggunakan pukat harimau. Tapi persoalannya, pemilik perahu besar belum memiliki kesadaran. Padahal, tim penyuluh  dinas perikanan sudah sering memberi arahan," ungkapnya.

Hairul Anwar berharap kesejahteraan nelayan semakin meningkat tanpa menggunakan pukat harimau. "Penggunaan pukat harimau biasanya tidak memiliki izin operasional dari provinsi. Sementara yang memiliki kewenangan menangkap satuan polair," tambahnya. (Santi Stia Wardani)

(mr/yan/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia