Selasa, 19 Feb 2019
radarmadura
icon featured
Features

Identitas Diri dan Warisan Leluhur Tak Boleh Hilang

02 Februari 2019, 11: 14: 51 WIB | editor : Abdul Basri

MERDU: Ketua Yayasan Vihara Avalokitesvara Kosala Mahinda memainkan gamelan yang usianya mencapai 300 tahun, Kamis (31/1).

MERDU: Ketua Yayasan Vihara Avalokitesvara Kosala Mahinda memainkan gamelan yang usianya mencapai 300 tahun, Kamis (31/1). (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Benda-benda warisan budaya harus dirawat dengan baik. Generasi muda harus kenal dengan peninggalan sejarah itu. Alat musik ini menginspirasi komponis untuk menghasilkan karya.

PRENGKI WIRANANDA, Pamekasan

ANGIN sepoi menyelimuti langit Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, Kamis (31/1). Burung berkicau riang di antara pagoda Vihara Avalokitesvara yang menjulang mencakar langit. Ornamen merah mencolok yang membungkus nyaris seluruh bangunan di kelenteng itu membuat suasana semakin indah.

Terdengar sayup irama musim khas Jawa yang menggelitik hati untuk memerintahkan kaki menuju muasal bunyi mirip polifoni itu. Irama indah itu lahir dari artefak sejarah berupa seperangkat gamelan yang usianya mencapai 300 tahun.

Alat musik tradisional itu disimpan di bangunan menghadap wihara. Ruangan menggunakan jaring besi dilengkapi kunci gembok besar menjadi benteng pengamanan alat musik tersebut.

Sementara, kain biru menutupi seluruh alat musik peninggalan sejarah tersebut. Saat RadarMadura.id berada di kompleks peribadatan itu, pria berkaus putih tersebut memainkan salah satu saron yang berada di barisan paling depan.

Pria itu memainkan alat musik jenis slendro pelog itu dengan lihai. Irama musik yang dikeluarkan sangat merdu. Bunyinya khas. Indah. Sesekali, senyum tersungging dari pria yang sedang memainkan alat musik tersebut.

Pria yang memainkan saron dengan lihai itu bernama Kosala Mahinda. Dia ketua Yayasan Vihara Avalokitesvara. Menurut dia, gamelan tersebut warisan leluhur yang tidak boleh hilang. Dengan demikian, perawatannya dilakukan secara intens.

Kosala menyampaikan, gamelan tersebut berusia sekitar 300 tahun. Seingat dia, benda bersejarah itu dibuat pada 1700. Kali pertama, musik pengiring pertunjukan wayang kulit itu berada di Bangkalan. Kemudian, dipindah ke Pamekasan.

Fungsi gamelan sama dari kali pertama berada di Pamekasan. Yakni, sebagai pengiring pertunjukan wayang kulit. Sampai sekarang, alat musik tersebut tetap digunakan jika ada pementasan.

Bahkan, pada 2009 lalu, pertunjukan musik gamelan itu mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia (Muri). Sebab, yang memainkan dari 10 negara. Di antaranya, Jepang dan Afrika. ”Orang luar sangat tertarik dengan alat musik tradisional kita,” katanya.

Kosala menyampaikan, gamelan merupakan warisan leluhur. Sepantasnya dirawat dan dilestarikan. Pihaknya sangat terbuka bagi warga yang ingin belajar memainkan alat musik tersebut. Lebih-lebih generasi muda.

Sebab, sekarang sulit generasi muda yang menyukai alat musik tersebut. Gamelan dianggap jadul sehingga tidak diminati untuk dipelajari. Padahal, warga luar negeri sangat antusias belajar memainkan alat musik tersebut.

Generasi muda harus diperkenalkan dengan alat musik tradisional itu sejak dini. Harapannya, pada masa remaja hingga tua, tetap mencintai warisan budaya itu. ”Kalau diperkenalkan setelah dewasa sulit,” katanya.

Bahkan, pria berkulit putih itu berharap, musik tradisional seperti gamelan bisa masuk dunia pendidikan. Sekalipun tidak formal, minimal ekstrakurikuler mengajarkan cara bermain alat musik tersebut.

Harapannya, warisan leluhur itu tetap bisa dipertahankan. Jika generasi muda tidak lagi meminati alat musik tersebut, bukan tidak mungkin akan suatu saat nanti akan hilang. ”Mari sama-sama jaga warisan budaya ini,” katanya.

Gamelan yang berumur 300 tahun itu menginsipirasi lahirnya karya musik berjudul Prangko Madura. Musik tersebut karya seorang komponis muda lulusan Institut Kesenian Jakarta M. Arham Aryadi yang terinspirasi dari perjalanan komponis ketika melakukan riset di Madura.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Muhammad Sahur mengatakan, pengenalan terhadap warisan budaya sangat penting. Sebab, warisan tersebut merupakan identitas diri yang harus dipertahankan. ”Jangan sampai generasi muda kita buta akan budaya kita sendiri,” tandasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia