Jumat, 19 Apr 2019
radarmadura
icon featured
Features
SDN Asem Jaran 2 setelah Sekolah Disegel

Siswa Menangis karena Belajar di Emperan Rumah

23 Januari 2019, 10: 49: 30 WIB | editor : Abdul Basri

BUTUH TEMPAT: Siswa SDN Asem Jaran 2, Kecamatan Banyuates, Sampang, belajar di teras rumah warga.

BUTUH TEMPAT: Siswa SDN Asem Jaran 2, Kecamatan Banyuates, Sampang, belajar di teras rumah warga. (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Ruang kelas yang layak dan nyaman menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan. Namun apa jadinya jika siswa belajar di emperan rumah warga karena sekolah disegel.

ZAINAL ABIDIN, Sampang 

PUKUL 07.30 RadarMadura.id tiba di Desa Asem Jaran, Kecamatan Banyuates, Sampang. Hingga kemarin (22/1), pintu gerbang SDN Asem Jaran 2 masih tersegel. Suasana di sekolah sepi. Tidak ada kegiatan belajar mengajar (KBM). Pedagang asongan yang biasa berjualan di depan sekolah tidak terlihat.

”Anak-anak belajar di rumah warga di belakang sekolah,” tutur Moh. Yanto, warga setempat yang saat itu melintas di depan sekolah. Koran ini segera menuju rumah tersebut yang jaraknya sekitar 50 meter dari sekolah.

Jalan menuju rumah itu beraspal. Banyak motor terparkir di pinggir jalan. Seluruh siswa SDN Asem Jaran 2 yang berjumlah 222 anak berkumpul di rumah tersebut. Ada siswa yang duduk di teras rumah, ada pula yang di musala.

Siswa duduk bersila di lantai. Tidak ada meja belajar dan papan tulis. Meski demikian, semangat siswa untuk belajar tidak kendur. Mereka membaca buku pelajaran dan Surah Al-Ikhlas bersama. Sejumlah warga atau wali murid yang mengantar anaknya duduk di teras rumah sebelah timur.

Sekitar pukul 08.30 Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang H. M. Jupri Riyadi bersama Kabid Pembinaan SD, Kabid guru dan tenaga kependidikan, serta pengawas Kecamatan Banyuates tiba di lokasi untuk melihat aktivitas pembelajaran dan memberikan pemahaman kepada siswa. Tangis siswa pecah ketika mendengar penyampaian kepala dinas bahwa sampai saat ini segel sekolah belum bisa dibuka.

Untuk sementara, siswa belajar di rumah tersebut sampai waktu yang belum ditentukan. Tak hanya siswa, beberapa wali murid juga menagis mendengar kabar tersebut. Setelah memberikan pemahaman kepada siswa, Jupri bersama rombongan menuju kantor pengawas untuk melakukan rapat koordinasi dengan komite sekolah dan forkopimcam.

Kepala SDN Asem Jaran 2 Waldiman menyampaikan, hingga saat ini segel belum dibuka. Siswa belajar di teras rumah warga. Rumah tersebut merupakan rumah milik salah seorang guru yang mengajar di lembanganya. Siswa akan belajar di rumah itu selama segel pagar belum dibuka.

Siswa kelas I–IV belajar di rumah dan di musala. Pihaknya akan menyekat teras rumah menggunakan papan. Sementara siswa kelas V–VI menumpang di ruang kelas SMPN 4 Banyuates yang lokasinya tidak jauh dari sekolah.

”Hari ini (kemarin, Red) tidak ada pembelajaran. Semua siswa dikumpulkan di sini agar tidak berkeliaran saat jam sekolah,” ucapnya.

Pihaknya belum bisa memastikan sampai kapan anak didik menumpang belajar di tempat tersebut. Waldiman meminta disdik dan Pemkab Sampang segera menyelesaikan permasalahan sengketa lahan itu.

”Kondisi seperti ini sudah dua kali kami alami. Kami khawatir semangat siswa untuk sekolah menurun,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Madura.

Dia dan anak didik sangat ingin melaksanakan KBM di ruang kelas. Pihaknya berharap masalah penyegelan segera diselesaikan agar siswa dan guru di SDN Asem Jaran 2 bisa melaksanakan KBM dengan tenang dan aman.

Menurut dia, persoalan tersebut sangat mengganggu KBM. Belajar di teras rumah warga tidak akan maksimal dan berpengaruh terhadap semangat siswa. ”Semoga sengketa ini segera terselesaikan. Kasihan siswa karena tidak bisa belajar dengan tenang dan nyaman. Apalagi sekarang musim hujan,” ucap Waldiman.

Fathorrahman, 39, wali murid, mengungkapkan, pada hari pertama masuk sekolah, semua siswa dan wali murid telantar karena tidak bisa masuk akibat pagar dikunci. Dia menyayangkan penyegelan sekolah yang dilakukan Mahdar selaku pemilik tanah. Sebab, ratusan siswa yang ingin belajar di sekolah tersebut telantar.

”Mestinya tidak begini. Tindakan ini sangat merugikan siswa karena mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya butuh bersekolah,” katanya.

Dia mewakili semua orang tua siswa meminta bupati Sampang tegas dan bijak menyikapi persoalan tersebut. Sengketa lahan harus diselesaikan agar siswa bisa belajar dengan tenang. ”Bupati segera menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut,” pinta pria 39 tahun itu.

Kepala Disdik Sampang H. M. Jupri Riyadi mengatakan, pihaknya datang ke lokasi untuk memberikan semangat kepada siswa agar terus belajar meski di teras rumah warga. Pihaknya meminta kepala sekolah dan guru menyiapkan semua peralatan sekolah agar kegiatan belajar berjalan dengan baik.

Pihaknya memberikan bantuan Rp 2 juta kepada sekolah untuk melengkapi peralatan yang dibutuhkan. Teras rumah yang ditempati siswa akan dipasangi terpal agar siswa tidak kepanasan atau kehujanan.

”Saya sudah meminta kepada kepala sekolah dan pengawas agar besok (hari ini, Red) KBM berjalan baik. Apa pun yang terjadi, siswa harus tetap belajar. Guru juga harus mengajar dengan maksimal,” ujarnya. ”Alhamdulillah, kami mendapat dukungan dari warga atau wali murid. Mereka akan mendorong semangat anaknya untuk terus bersekolah. Terutama siswa kelas enam,” imbuhnya.

Di tempat terpisah, Pj Bupati Sampang Jonathan Judianto mengaku sudah memerintah disdik dan bakesbangpol untuk terjun ke lapangan dan melakukan pendekatan kepada pihak terkait agar segel sekolah dibuka. Dia meminta kepada disdik untuk menguatkan mental kepala sekolah, guru, dan anak-anak agar tidak patah semangat.

”Insyaallah besok segelnya dibuka. Kami pastikan anak-anak bisa sekolah dengan baik,” kata pria yang akrab disapa Pak Jo itu.

Persoalan sengketa lahan tersebut melibatkan warga pemilik lahan dengan pemkab. Siswa tidak boleh dikorbankan. Proses hukum masih berjalan dan belum inkrah. Pihaknya akan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya. ”Kasus ini belum final. Belum selesai karena masih ada upaya hukum lanjutan yang akan kami lakukan,” tandasnya. 

(mr/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia