Kamis, 24 Jan 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Proyek Pasar Hewan Rp 1,5 Miliar Disoal

12 Januari 2019, 01: 14: 35 WIB | editor : Abdul Basri

RAMAI: Pembangunan pasar hewan di Desa Aeng Sareh, Kota Sampang, dipertanyakan.

RAMAI: Pembangunan pasar hewan di Desa Aeng Sareh, Kota Sampang, dipertanyakan. (RUSYDI ZAIN/RadarMadura.id)

SAMPANG – Kondisi pasar hewan di Desa Aeng Sareh, Kecamatan Kota Sampang, yang pembangunannya menghabiskan Rp 1,5 miliar jadi sorotan. Diduga, proyek tersebut dikerjakan tidak sesuai petunjuk teknis (juknis).

Itu diketahui setelah Pj Bupati Sampang Jonathan Judianto melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar dan bertemu dengan sejumlah pedagang. Di sanalah para pedagang menyampaikan keluh kesah kepada Pj bupati.

Selain itu, banyak temuan pada sidak yang dilakukan bersama Sekkab Sampang Puthut Budi Santoso dan sejumlah kepala oraganisasi perangkat daerah (OPD) tersebut. Seperti pekerjaan proyek tidak sesuai, kurangnya fasilitas, dan penataan warung.

Pj Bupati Sampang Jonathan Judianto mengatakan, pasar hewan yang baru itu becek karena urukan menggunakan tanah liat. Mestinya urukan menggunakan campuran pasir dan batu (sirtu). ”Pemadatannya ini bermasalah dan perlu diusut. Ini tidak sesuai aturan. Mestinya pakai sirtu. Ini yang digunakan tanah liat. Becek jadinya kalau turun hujan,” beber dia.

Pihaknya belum bisa memastikan siapa yang harus bertanggung jawab atas kesalahan pelaksanaan dan pengerjaan proyek pasar hewan tersebut. Menurut dia, berdasarkan informasi yang disampaikan oleh kepala Desa (Kades) Aeng Sareh, sejak awal sudah menegur pihak pelaksana.

Bahkan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang sebagai kuasa pengguna anggaran (KPA) mengaku sudah menegur rekanan. ”Belum tahu ini salah siapa, nanti akan kami dalami. Yang jelas ini tidak sesuai dan menyalahi kesepakatan,” jelasnya.

Jonathan menambahkan, luas pasar hewan yang baru tersebut lebih kurang 2 hektare. Menurut dia, luas sudah memenuhi standar. Hanya perlu dilakukan penambahan fasilitas seperti tempat penurunan sapi dari kendaraan dan tambatan hewan. ”Pada hari pasaran ada dua kaki sapi yang patah karena melompat dari pikap,” ungkapnya.

Kepala Disperdagprin Wahyu Prihartono membenarkan kondisi pasar hewan baru yang becek. Menurut dia, itu karena ada kesalahan pada tanah urukan yang digunakan. ”Sudah saya tegur rekanan karena yang datang tanah liat, mestinya sirtu. Kami akan berkoordinasi lebih lanjut mengenai hal ini,” katanya.

Hal serupa disampaikan Kades Aeng Sareh Mairi. Menurut dia, sejak awal pihaknya sudah menegur pelaksana proyek yang ada di lapangan mengenai tanah liat yang digunakan untuk pemadatan. Pihaknya mengetahui, jika menggunakan tanah liat, akan becek jika terkena air. ”Sudah saya tegur, bahkan saya laporkan ke dinas. Tapi entahlah, begini hasilnya sekarang,” katanya.

Untuk diketahui, proyek urukan lanjutan pasar hewan dengan pagu anggaran Rp 1.700.000.000 dan HPS Rp 1.699.061.369 dikerjakan oleh CV Tetracona. Rekanan yang beralamat di Jalan Kuwukan Lapangan VI Nomor 1, Kelurahan Lontar, Kecamatan Sambikerep, Kota Surabaya, ini menang lelang dengan nilai kontrak Rp 1.544.419.858.

(mr/rus/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia