Sabtu, 23 Mar 2019
radarmadura
icon featured
Features

Wow! Pria Ini Jelajahi Bumi Pertiwi dengan Bersepeda

11 Januari 2019, 10: 25: 13 WIB | editor : Abdul Basri

TANGGUH: Ismail dengan sepeda andalannya berfoto di depan kantor pusat Jawa Pos Radar Madura di Bangkalan, Rabu (9/1).

TANGGUH: Ismail dengan sepeda andalannya berfoto di depan kantor pusat Jawa Pos Radar Madura di Bangkalan, Rabu (9/1). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

BANGKALAN - Bertahun-tahun Ismail menghabiskan hidupnya dengan bersepeda. Kini di usianya yang tak muda lagi, semangat dia menaklukkan Nusantara tetap menggelora, seperti halnya Gajah Mada.

Seorang pria bersepeda menghampiri kantor pusat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di Jalan Soekarno-Hatta, Desa Bilaporah, Kecamatan Socah, Bangkalan, Rabu (9/1). Bagian depan sepeda itu bertulis ”Keliling Indonesia” dengan bendera Merah Putih di belakang tempat duduk.

Pria itu Ismail, 49, warga Desa Cangko, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Ismail sudah 28 tahun menjalani hari-harinya dengan bersepeda keliling Indonesia.

Di kantor JPRM, pria kelahiran 5 Mei 1969 itu bermaksud istirahat guna menghilangkan rasa lelahnya karena mengayuh sepeda. Sekaligus, Ismail ingin meminta tanda tangan General Manager (GM) JPRM M. Tojjib.

Ismail menceritakan, sejak duduk di bangku kelas IV SD di kampung halamannya, dia bercita-cita menjadi seorang penjelajah. Menginjak masa remaja, keinginannya semakin bulat berkeliling Indonesia dengan bersepeda. Dia juga termotivasi ingin seperti Gajah Mada yang menyatukan Nusantara.

Sempat tidak mendapat izin dari orang tuanya, Ismail beberapa kali kabur dari rumah. Akhirnya orang tua mengizinkan Ismail berkelana dengan bersepeda mengelilingi bumi pertiwi di usia 20 tahun.

Jelajah Indonesia dia mulai dari Kabupaten Tabanan, Bali pada 20 Juni 1989 menuju Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Selanjutnya ke Timor Timur yang saat ini sudah berdaulat menjadi negara Timor Leste.

Timor Timur yang saat itu sedang tidak kondusif karena ingin berdaulat, memberikan pengalaman tersendiri bagi Ismail. Dia sempat disandera oleh kelompok Fretilin karena dikira mata-mata Indonesia.

Dia sempat disiksa oleh kelompok Fretilin, bahkan beberapa giginya rontok lantaran digebuki. Selama tiga bulan dia dijadikan sebagai penyedia logistik para pemberontak. ”Saya disuruh memenuhi logistik orang itu. Saya juga ikut berburu,” kenangnya.

Setelah tiga bulan, pasukan Fretilin melepaskan dia. Ismail tidak terbukti sebagai mata-mata Indonesia. Setelah itu, Ismail melanjutkan petualangannya supaya bisa seperti Gajah Mada.

Pengalaman menarik lainnya dia alami saat berada di bumi Papua. Ismail sempat dihukum adat lantaran sepeda yang dikendarai menabrak seekor babi hingga mengakibatkan babi itu patah kaki.

Ancaman bagi Ismail sebenarnya tiga bulan direndam di air rawa. Namun setelah melobi, dia hanya dihukum dengan diceburkan ke rawa selama tiga hari saja.

Ismail melanjutkan ceritanya. Pada 2001 dia berada di Pulau Kalimantan. Di bumi Borneo itu dia sempat terkejut dan sedih menyayat mendengar informasi bapaknya meninggal di kampung halaman.

Dia kebingungan karena sedang berada di derah pedalaman Putussibau, Kalimantan Barat. Dia ingin pulang namun tidak punya ongkos. Ismail akhirnya menyambangi dan meminta bantuan bupati Kapuas Hulu.

Orang nomor satu di Pemerintahan Kabupaten Kapuas Hulu kala itu memberi ongkos Rp 4 juta. Namun niat untuk pulang dia urungkan dan lebih memilih mengirimkannya ke keluarganya di kampung halaman.

Ismail sempat pulang ke rumahnya di Indramayu pada 2002. Kepulangannya tidak hanya untuk melepas rindu. Keinginan itu dorong oleh salah satu petugas keamanan yang memintanya pulang saat terjadi bentrok orang Madura dan Dayak. Ismail berada di wilayah mencekam itu. ”Saya lihat panah kayak hujan,” kenangnya.

Sekitar enam bulan Ismail di rumah. Dia kembali melanjutkan visi supaya bisa seperti Gajah Mada. Ibunya waktu itu sampai menangis meminta dia tidak melanjutkan cita-cita dari masa kecil itu.

Dalam mengitari Bumi Pertiwi, Ismail sesekali bertamu ke tempat orang-orang hebat. Mulai dari tokoh desa hingga menteri. Hal yang dia lakukan sesekali berfoto dan meminta tanda tangan. Seperti yang dia minta ke GM JPRM M. Tojjib.

”Ahok waktu masih jadi Bupati Belitung Timur, Yusril Ihza Mahendra, Mahfud MD, Wiranto, Anies Baswedan, Dalang Entus, dan Zumi Zola. Itu tokoh terkenal yang pernah saya temui,” sebut Ismail.

Selama 28 tahun mengitari luasnya Indonesia, Ismail menghabiskan 33 sepeda. Sebanyak 17 sepeda yang pernah menemaninya ada di rumah. Sementara sisanya ada yang rusak dan hilang saat ditaruh di pinggir jalan.

Ismail kembali pulang ke rumah pada 2016. Tidak berbeda dengan kepulangannya pada 2002, dia hanya bengobati rindu kepada keluarganya sekitar enam bulan lamanya. Selanjutnya dia kembali menunggangi sepedanya.

Pria bujangan itu mengatakan, tinggal Pulau Madura yang menjadi penghujung cita-citanya. Selanjutnya kembali menuju tempat dia memulai visinya tersebut, yaitu Kabupaten Tabanan, Bali.

”Ini ke Sumenep. Nanti menyeberang menggunakan kapal untuk bisa sampai ke Banyuwangi dan akhirnya menuju Bali,” tuturnya.

Setelah menyelesaikan cita-citanya, Ismail berencana melepas masa lajangnya. Dia mengakui sedang mendekati seorang perempuan asal Aceh. ”Setelah menaklukkan Indonesia, akan saya taklukkan perempuan,” kelakar Ismail menutup perbincangan. (jup)

(mr/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia