Kamis, 24 Jan 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Jurus Kancil Herman Dali Kusuma

Oleh Imam S. Arizal

11 Januari 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Imam S. Arizal Wartawan Jawa Pos Radar Madura.

Imam S. Arizal Wartawan Jawa Pos Radar Madura. (RadarMadura.id)

UNTUK kali ke sekian, Ketua DPRD Sumenep Herman Dali Kusuma lolos dari kudeta internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Padahal pimpinan tertinggi partai yang didirikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu telah mengeluarkan surat keputusan (SK) pergantian ketua DPRD. Tetapi apalah daya, Herman terlalu licin untuk digulingkan begitu saja.

Pertarungan Herman dengan elite PKB ibarat cerita kancil melawan raja hutan. Tubuh Herman memang tidak semungil kancil. Herman tinggi besar. Tapi strategi perlawanannya dalam mengelabui para elite partai hampir serupa dengan cara kancil melawan harimau, buaya, dan makhluk ganas lainnya di hutan belantara.

Banyak kisah tentang kancil. Misalnya saat kancil dikejar-kejar harimau untuk dimakan. Dia berlari hingga ke anak sungai. Di sungai telah banyak buaya yang siap menyantapnya hidup-hidup.

Kancil dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama membuka pintu ajal. Mundur dia akan disantap harimau. Sedangkan maju, tentu daging dan tulang belulangnya akan remuk dilumat gigi tajam buaya.

Tipu muslihatnya pun dikeluarkan. Dia mengatakan kepada buaya bahwa harimau memerintahkan seluruh buaya berbaris di sungai. Jika tidak, si raja hutan itu akan menerkam seluruh buaya di sungai tersebut.

Buaya ketakutan, dan seketika berbaris rapi hingga menjadi jembatan penyeberangan bagi kancil. Satu per satu buaya itu dilewatinya hingga ke seberang. Lalu apa yang terjadi, kancil mencundangi buaya dan mengatakan bahwa dirinya sedang menipunya mentah-mentah. Dengan kecerdikannya dia bisa melampaui dua ancaman kematian sekaligus.

Dari segi fisik, apalah artinya si kancil di hadapan harimau dan buaya. Kancil tidak punya kekuatan untuk memangsa lawan. Dia hanya bisa berpikir mencari jalan keluar dari ancaman yang bertubi-tubi dihadapinya.

Dalam kasus ketua DPRD Sumenep, begitu Herman dihantam oleh elite-elite PKB, dia berlindung kepada partai lain. Bahkan, dia dekat dengan para oposisi di parlemen. Berkat kedekatannya itulah, Herman dilindungi dari ancaman kudeta partainya sendiri.

Perlindungan yang diberikan oleh partai-partai lain begitu nyata. Kendati tidak diucapkan secara verbal, tetapi pembelaan dilakukan secara masif oleh mayoritas anggota DPRD di Sumenep. Buktinya, empat kali sidang paripurna, empat kali pula gagal terlaksana.

Mengapa wakil rakyat tidak menghadiri paripurna? Alasannya tentu beragam. Ada yang izin karena sakit, berhalangan, atau benturan dengan kegiatan lain. Ada pula yang tidak memberi keterangan apa pun.

Tapi itukah alasan yang sebenarnya? Orang yang melek politik pasti yakin bahwa bolos masal yang dilakukan oleh wakil rakyat sebagai bentuk pembelaan terhadap Herman. Sebab, manakala paripurna digelar dan yang hadir mencapai 2/3 dari 50 anggota dewan, maka surat pergantian ketua DPRD bisa dibacakan, dan otomatis Herman akan tumbang.

Tapi faktanya, sudah dua bulan lebih tak ada sidang paripurna yang kuorum di DPRD Sumenep. Itulah Herman Dali Kusuma, si otak kancil yang bisa berlindung kepada kebaikan buaya dari ancaman si raja hutan harimau. Herman yang oleh banyak orang dianggap tidak akan berdaya melawan partainya, toh kenyataannya tetap berkuasa hingga sekarang.

Selain tentang harimau dan buaya, ada pula kisah kancil yang mencuri mentimun. Pak Tani marah besar karena timun-timunnya yang segar setiap saat hilang. Dia pun berupaya untuk menangkap makhluk yang mencuri mentimun-mentimun itu.

Upaya Pak Tani berhasil. Kancil ditangkap hidup-hidup. Lalu, apakah nasib kancil berakhir? Tentu bukan kancil namanya jika tidak bisa keluar dari ancaman kematian. Kancil tetap bisa lolos.

Saat kancil tertangkap dan siap dihabisi, akal bulusnya langsung muncul. Dia pura-pura mati dan Pak Tani pun memercayainya. Karena kancil mati, Pak Tani pun membuangnya. Kancil yang pura-pura mati itu pun bisa kabur dari kematian.

Satu hal yang tentu publik masih ingat. Saat PKB berkirim surat terkait reposisi ketua DPRD, Herman melakukan perlawanan. Dia melayangkan surat gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Sumenep. Surat gugatan inilah yang dijadikan alasan oleh pimpinan DPRD yang lain untuk tidak membacakan surat pergantian saat paripurna pengesahan APBD Sumenep 2019 akhir Oktober 2018 lalu.

Elite PKB pun naik pitam. Mereka menggelar sidang pleno dan memutuskan Herman akan dikeluarkan dari partai berlambang bumi dikelilingi sembilan bintang tersebut. Jika keanggotaan Herman dicabut, maka dia tidak bisa maju dalam Pemilu 2019 dan bahkan keanggotaannya di DPRD juga bisa berakhir.

PKB memberi dua pilihan. Herman mencabut gugatannya dan membacakan surat pergantian ketua DPRD. Jika dua ultimatum itu tidak diikuti, maka hak politik Herman di PKB bisa berakhir.

Seperti kancil yang ditangkap hidup-hidup oleh Pak Tani, Herman tetap dingin dan berupaya mencari jalan keluar. Dia seperti menyerah. Buktinya, gugatannya di PN Sumenep dicabut dan dia berjanji akan membacakan surat reposisi dari PKB.

Dengan dua hal itu, hak keanggotaan Herman di PKB tetap aman. Dia tetap bisa mencalonkan diri dalam Pemilu 2019 dan keanggotaanya di DPRD Sumenep juga tidak dicabut. Lantas, apakah Herman membacakan surat pergantian ketua DPRD dari PKB? Jawabannya pasti tidak. Dia tidak mungkin meminum racun yang diraciknya sendiri.

Herman melunak di hadapan elite PKB bukan berarti dia menyerah. Dia mengaku tidak berdaya bukan berarti tidak bisa melakukan tipu daya. Secara formalitas, dia mengagendakan paripurna untuk membacakan surat pergantian. Tapi di saat yang sama, para koleganya tidak menghadiri undangan paripurna tersebut.

Cerita tentang Herman Dali Kusuma tidak berhenti sampai di sini. Sebab berdasar informasi yang beredar, keinginan elite PKB untuk mereposisi ketua DPRD masih kuat. Lagi pula, masih ada waktu sekitar 40 hari ke depan untuk melakukan pergantian. Artinya Herman belum aman dari ancaman penggulingan.

Tapi seperti cerita kancil, Herman tentu tidak akan kehilangan akal untuk melewati berbagai ancaman. Bahkan, ancaman dari raja hutan sekalipun dia bisa melewatinya. Hanya takdir dan ajal yang bisa mengakhiri kisah-kisah kancil.

Kisah kancil sudah melegenda. Tidak hanya di Nusantara, tapi juga di seluruh asia tenggara. Jika Herman Dali Kusuma bisa terlepas dari kudeta, maka bukan tidak mungkin kisahnya akan melegenda di masa-masa yang akan datang. Kita tunggu saja hingga akhir Februari mendatang.

(mr/mam/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia