Kamis, 24 Jan 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Usut Ketua Pokmas Cekik Wartawan

10 Januari 2019, 12: 49: 17 WIB | editor : Abdul Basri

KECAM: Sejumlah jurnalis di Pamekasan menggelar aksi solidaritas mengecam premanisme yang terjadi pada wartawan.

KECAM: Sejumlah jurnalis di Pamekasan menggelar aksi solidaritas mengecam premanisme yang terjadi pada wartawan. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

PAMEKASAN – Tindakan premanisme terhadap wartawan masih saja terjadi. Ahmad Jalaluddin Fasiol, wartawan media online diduga menjadi korban kekerasan ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan.

Informasi yang diterima RadarMadura.id, Faisol dicekik lehernya saat hendak konfirmasi dugaan proyek bermasalah, Senin (7/1). Wartawan muda itu tidak hanya dicekik, tetapi diancam bakal dibunuh.

Peristiwa tersebut terjadi di Balai Desa Plakpak sekitar pukul 10.00. Akibat tindakan kekerasan yang menimpanya, Faisol melaporkan ke Polres Pamekasan. Laporan tersebut dengan nomor register LP/10/1/2019/JATIM/RES PMK.

Faisol mengatakan, awal pekan lalu dia mendatangi Balai Desa Plakpak. Rencananya konfirmasi terkait proyek fisik yang diduga bermasalah. Proyek tersebut dikerjakan pokmas.

Namun setibanya di balai, kepala desa (Kades) tidak ada di tempat. Faisol ditemui sekretaris desa (Sekdes). Kemudian wartawan media online itu meminta kepada Sekdes untuk difasilitasi bertemu dengan ketua pokmas guna meminta konfirmasi.

Sekdes menelepon salah satu ketua pokmas yang belakangan diketahui bernama Jubri. Usianya sekitar 38 tahun. Tidak berselang lama, Jubri datang lalu marah-marah. Kemudian dia mencekik leher Faisol.

Di tempat kejadian, selain Sekdes dan Jubri, ada orperator desa yang diketahui bernama Masduk. Pria tersebut mengetahui bahwa insiden kekerasan terekam telepon genggam milik Faisol.

Masduk merampas telepon genggam itu dan meminta agar rekaman dihapus. Jubri yang mengetahui aksinya terekam semakin kalap. Dia mengancam akan membunuh Faisol jika rekaman itu tidak dihapus. ”Akhirnya rekamannya saya hapus karena takut dibunuh,” katanya Rabu (9/1).

Kasus kekerasan itu resmi dilaporkan ke Polres Pamekasan. Faisol berharap, polisi segera mengusut tuntas kasus tersebut. Harapannya, semua pihak yang terlibat aksi premanisme itu dijatuhi sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Aksi kekerasan itu mendapat kecaman dari sejumlah jurnalis di Kota Gerbang Salam. Para kuli tinta menggelar aksi damai. Mereka menuntut agar kasus tersebut segera diusut tuntas. ”Kekerasan terhadap siapa pun, termasuk kepada wartawan tidak dapat dibenarkan,” kata Moh. Sudur, salah satu peserta aksi.

Di tempat terpisah, Kasatreskrim Polres Pamekasan AKP Hari Siswo Suwarno mengatakan, terlapor dan sejumlah saksi diperiksa. Polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus tersebut. ”Terlapor sudah dimintai keterangan,” tandasnya.

(mr/pen/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia