Kamis, 24 Jan 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Sumpah Pocong Belum Ngefek

10 Januari 2019, 12: 10: 55 WIB | editor : Abdul Basri

MENEGANGKAN: Dua warga Desa Pangereman, Kecamatan Ketapang, Sampang, melaksanakan sumpah pocong di Masjid Jami’ Madegan, Kelurahan Polagan.

MENEGANGKAN: Dua warga Desa Pangereman, Kecamatan Ketapang, Sampang, melaksanakan sumpah pocong di Masjid Jami’ Madegan, Kelurahan Polagan. (RUSYDI ZAIN/RadarMadura.id)

SAMPANG – Dua warga Dusun Panobun, Desa Pangereman, Kecamatan Ketapang, Sampang, melaksanakan ritual sumpah pocong di Masjid Jami’ Madegan Rabu (9/1). Yakni Sumai, 59, dan Punirah, 40. Sumpah pocong dilakukan karena keduanya termakan isu santet.

Sumai selaku tertuduh dan Punirah penuduhnya. Keduanya menyepakati sumpah pocong tersebut dengan segala risikonya.

Awalnya, istri Punirah mengalami sakit yang tidak wajar selama lebih kurang satu bulan, lalu meninggal. Perut istri Punirah membesar dan mengeras. Hasil diagnosis medis, dia tidak menderita penyakit apa-apa.

Sebelum meninggal, istri Punirah mengaku bermimpi didatangi Sumai. Mimpi itu dijadikan dasar menuduh Sumai yang menjadi penyebab sakit tidak wajar. ”Saya menyangka dia yang menyantet istri saya,” ungkapnya setelah melaksanakan sumpah pocong.

Keyakinan yang berkembang di masyarakat, jika ada orang sakit tidak wajar dan sebelum meninggal bermimpi didatangi seseorang, maka orang itulah yang diyakini sebagai pelaku santet. ”Istri saya meninggal pagi tadi setelah satu bulan sakit,” ujarnya.

Kepala Desa (Kades) Pangereman Bonisan mengaku tidak mengetahui secara detail persoalannya. Menurut dia, keduanya masih memiliki hubungan famili. ”Selama ini, jika ada warga yang sakit tak wajar, memang selalu dituduhkan ke Pak Sumai,” jelasnya.

Dua warga itu sudah bersepakat untuk melakukan sumpah pocong. Tujuannya, mengakhiri tuduhan isu santet yang berkembang di masyarakat. Menurut dia, Sumai kesehariannya bekerja sebagai petani.

”Ritual ini untuk mencegah terjadinya konflik serta menghilangkan adanya isu santet yang berkembang di desa. Semoga dengan ini ada titik terang,” ungkapnya.

Ketua Takmir Masjid Jami’ Madegan Hasin menjelaskan, sumpah pocong yang dilaksanakan atas kasus dugaan santet, baik penuduh maupun tertuduh sama-sama disumpah. Secara bergantian keduanya dibungkus kain kafan dan mengucapkan sumpah.

Sementara di atas badan ditaruh kitab suci Alquran. Kemudian, mengelilingi pohon sawu sebanyak tujuh kali. Selanjutnya melangkahi tubuh ayam yang sudah disembelih sebanyak tujuh kali.

”Efek sumpah pocong ini biasanya menimbulkan kelainan pada tubuhnya, sakit keras, sampai meninggal. Dulu ada yang meninggal langsung di sini usai disumpah pocong. Ada juga yang meninggal setelah sampai di rumah,” ujarnya.

Hingga pukul 19.00 sumpah pocong belum ada efeknya. Baik Sumai maupun Punirah sama-sama dalam keadaan sehat walafiat di rumah masing-masing.

(mr/rus/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia