Kamis, 24 Jan 2019
radarmadura
icon featured
Features
Kisah Pilu Mantan Pemandu Lagu

Mulai Dagang Kopi hingga Potensi Jual Diri

07 Januari 2019, 04: 20: 59 WIB | editor : Abdul Basri

BUTUH SOLUSI: Eks pemandu lagu berbincang dengan warga di trotoar sekitar Arek Lancor Pamekasan, Sabtu (5/1).

BUTUH SOLUSI: Eks pemandu lagu berbincang dengan warga di trotoar sekitar Arek Lancor Pamekasan, Sabtu (5/1). (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

PEMERINTAH kejam. Pemerintah tidak adil. Pemerintah bertindak semena-mena terhadap kami. Kami butuh keadilan.” Begitulah luapan kekecewaan yang dilontarkan salah seorang mantan pemandu lagu di salah satu tempat karaoke di Pamekasan.

Perempuan berambut panjang itu asli Pamekasan. Impitan ekonomi serta tekanan kebutuhan hidup mengantarkan langkah kakinya menjadi pemandu lagu. Dia bekerja di tempat hiburan malam sejak tiga tahun lalu.

Kehidupannya mulai normal ketika dia bekerja sebagai pemandu lagu. Kebtuhan tercukupi. Bahkan sekarang, perempuan yang enggan disebut identitasnya itu memiliki kendaraan bermotor sendiri.

Jika dibanding kehidupan sebelumnya, perekonomiannya bisa dibilang cukup mapan. Maklum, jasanya sebagai pemandu lagu kerap digunakan para tamu tempat hiburan karaoke.

Postur tubuhnya tinggi, rambutnya panjang digerai, wajahnya menawan. Keanggunannya itu membuat tamu tempat hiburan malam tertarik menggunakan jasanya. Jasa sebagai pemandu lagu.

Namun dia harus kehilangan pekerjaan yang membuat hidupnya membaik itu. Sebab, tempat hiburan karaoke resmi ditutup sementara oleh Bupati Pamekasan Baddrut Tamam sejak 1 Januari 2019.

Dia kebingungan menyambung hidup. Tidak ada pekerjaan lain selain jasa pemandu lagu. Perempuan berkaus hitam itu mengaku kecewa terhadap kebijakan pemerintah menutup tempat karaoke. ”Kami butuh keadilan,” katanya Sabtu (5/1).

Jubir pemandu lagu, Zaini mengatakan, jumlah pemandu lagu sekitar 80 orang. Separo dari jumlah tersebut merupakan warga Pamekasan. Sementara sisanya dari berbagai daerah.

Setelah tempat karaoke ditutup, nasib pemandu lagu tidak karuan. Mereka kehilangan pekerjaan. Sementara tuntutan ekonomi terus berjalan. ”Saya sangat kasihan kepada mereka,” ucapnya.

Para pemandu lagu itu tidak kembali ke tempat asalnya. Mereka memilih bertahan di Kota Gerbang Salam. Berharap ada keajaiban sehingga bupati mencabut keputusan penutupan tempat karaoke.

Para pemandu lagu berharap hiburan karaoke kembali beroperasi. Beberapa upaya dilakukan. Salah satunya, mendukung pengusaha mengajukan gugatan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya memerkarakan penutupan usaha tersebut.

Sembari menunggu keputusan final, pemandu lagu rata-rata menjalankan usaha mandiri. Sebagian berjualan kopi di taman bermain Arek Lancor. Namun tidak sedikit yang terjerumus ke lembah hitam.

Bagaimanapun caranya, dan apa pun risikonya akan tetap dilakukan demi menyambung hidup. Dunia hitam seperti pelacuran menjadi alternatif ketika sama sekali tidak ada solusi lain.

Sebab, selain harus menghidupi keluarga, pemandu lagu memiliki tanggungan tersendiri. Di antaranya, angsuran kredit motor. ”Mau dibayar pakai apa kalau mereka tidak bekerja,” ujarnya.

Mewakili pemandu lagu, Zaini berharap bupati mencabut kembali keputusan penutupan tempat karaoke. Harapannya, lapangan pekerjaan bagi pemandu lagu dan karyawan kembali terbuka.

(mr/pen/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia