Kamis, 24 Jan 2019
radarmadura
icon featured
Features

Seminggu setelah Pemkab Pamekasan Menutup Usaha Tempat Karaoke

Jadi Kisah Memilukan Bagi Para Pemandu Lagu

07 Januari 2019, 04: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

TAK TERIMA: Yuyun, salah seorang pemandu kemarin menyampaikan pendapatnya terkait penutupan tempat usaha karaoke di Pamekasan.

TAK TERIMA: Yuyun, salah seorang pemandu kemarin menyampaikan pendapatnya terkait penutupan tempat usaha karaoke di Pamekasan. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Di satu pihak, kebijakan Pemkab Pamekasan menutup usaha tempat karaoke melegakan. Tapi di di lain pihak terasa memilukan. Karyawan dan pemandu lagu kehilangan pekerjaan.

***

PENUTUPAN bisnis karaoke di Pamekasan mendapat penolakan dari pengusaha, karyawan, dan serta pemandu lagu. Minggu (6/1) mereka berkumpul di Hotel Putri, Jalan Trunojoyo, Kelurahan Patemon, Kota Pamekasan, untuk menyatakan keluh kesahnya. Mereka menuntut Pemkab Pamekasan membuka kembali usaha karaoke.

Siti Aisyah, 28, salah seorang pemandu lagu menyampaikan penolakannya penutupan bisnis karaoke. Dia meminta pemkab membuka kembali usaha tempat karaoke yang menjadi sumber penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Wanita asal Desa Buddagan, Kecamatan Pademawu itu mengaku sudah tiga tahun bekerja sebagai pemandu lagu. Dari hasil pekerjaannya itu dia membiayai kebutuhan keluarga. Bahkan, dia menjadi tulang punggung keluarga.

”Kalau tempat karaoke ditutup, saya tidak punya penghasilan. Saya sebagai tulang punggung keluarga membiayai anak, saudara, dan orang tua,” keluhnya dengan mata berkaca-kaca.

Aisyah bekerja sebagai pemandu lagu setelah bercerai dengan suaminya tiga tahun yang lalu. Dia memilih pekerjaan tersebut karena sudah tidak punya pilihan pekerjaan lain. Dia mengaku tidak punya keterampilan lain selain memandu lagu.

Menurut Aisyah, menjadi pemandu lagu penghasilannya cukup untuk membantu keluarganya  memenuhi kebutuhan sehari-hari. Anak serta saudara masih berada di bangku pendidikan yang membutuhkan biaya.

”Adik saya baru masuk kuliah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Anak saya masih kecil. Belum lagi orang tua di rumah. Saya membutuhkan biaya yang cukup dalam sebulan,” jelas pemandu lagu di Rumah Makan Lesehan dan Karaoke Pujasera, di Jalan Niaga, Kota Pamekasan itu.

Dia meminta kepada pemkab membuka kembali usaha tempat karaoke. Jika tetap ditutup, dia mengaku tidak tahu lagi bagaimana caranya mencukupi kebutuhan keluarga. Apalagi hanya dia harapan keluarganya.

Dia meminta kebijakan pemkab untuk tetap membuka usaha yang menjadi sandaran hidupnya. Jika tetap ditutup, dia meminta pemkab memberikan solusi yang sesuai dengan keinginannya. ”Setidaknya ada solusi dari pemerintah. Jangan langsung melakukan penutupan seperti ini. Kami membutuhkan biaya hidup untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Perwakilan pengusaha karaoke Moh. Wawan Erliyanto meminta pemkab menarik kembali kebijakan menutup bisnis karaoke. Sebab, hal itu mengancam puluhan karyawan serta pemandu lagu yang bekerja di tempat karaoke. Mayoritas dari mereka berstatus janda yang harus membiayai hidupnya.

”Bagi kami, penutupan tempat karaoke tidak terlalu menjadi persoalan. Tapi bagi karyawan dan pemandu lagu, ini masalah besar. Tolong kepada Pemerintah Kabupaten Pamekasan untuk memikirkan lagi kebijakan tersebut,” ungkapnya.

Pemilik Kafe King Wans di Kelurahan Kolpajung itu berharap Pemkab Pamekasan bersedia mencabut kebijakan tersebut. Lagi pula, revisi perda tentang tempat hiburan belum disahkan. ”Tolong cabut kebijakan ini. Itu saja yang kami inginkan. Seklai lagi, tolong dicabut dulu,” tutupnya.

Sebagaimana diketahui, tepat seminggu yang lalu, 1 Januari 2019, Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menutup sementara bisnis tempat karaoke. Saat melakukan penutupan, bupati bersama jajaran forkopimda dan sejumlah ormas.

Pj Sekkab Pamekasan Moh. Alwi mengatakan, pemerintah menyiapkan lapangan pekerjaan bagi eks karyawan tempat karaoke. Lapangan pekerjaan itu khusus bagi eks karyawan.

Sementara pemandu lagu, tidak ada pembinaan keterampilan kerja. Sebab rata-rata pemandu lagu dari luar Pamekasan. ”Kami siapkan pelatihan keterampilan kerja khusus mantan karyawan, bukan pemandu lagu,” kata Alwi. (bil)

(mr/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia