Sabtu, 23 Mar 2019
radarmadura
icon featured
Esai

Apakah Harga Pertamax Jadi Turun?

Oleh: Elsa Anggi Zahrin

18 Desember 2018, 17: 09: 12 WIB | editor : Abdul Basri

Apakah Harga Pertamax Jadi Turun?

Apakah benar harga non subsidi akan diturunkan oleh pemerintah ?

“Iya, bahan bakar minyak non subsidi dan salah satunya pertamax akan turun harga pada minggu depan atau paling telat januari 2019 dikarenakan adanya penurunan minyak mentah dunia” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Djoko Siswanto.

Djoko Siswanto sebelumnya telah memanggil sejumlah badan usaha seperti PT Pertamina (Persero), PT AKR Corporindo, PT Shell Indonesia, PT Total Indonesia, PT Vivo Energi Indonesia dan PT Garuda Mas Energi.untuk sepakat dalam menurunkan harga BBM. Penurunan harga minyak mentah dunia ini diketahui pada kisaran US$ 60 per barel dari sebelumnya sempat tinggi hingga US$ 85 per barel.

Pemerintah membagi BBM dalam tiga golongan; BBM tertentu, BBM penugasan, dan BBM umum atau nonsubsidi.

BBM tertentu mendapat subsidi dari pemerintah, contohnya solar. Sedangkan jenis premium masuk dalam BBM penugasan, yaitu ditugaskan oleh pemerintah kepada badan usaha untuk didistribusikan ke wilayah penugasan dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah setiap tiga bulan sekali. Kemudian BBM nonsubsidi adalah jenis Pertamax, Pertalite, dan Pertamax Turbo. Mekanisme penyesuaian harga BBM jenis ini harus mengikuti Harga Index Pasar (HIP).

Namun harga Pertamax Series tak sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar meski HIP ditetapkan oleh badan usaha. Melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 Tahun 2015 membatasi margin untuk badan usaha dalam penjualan BBM umum. Badan usaha hanya boleh mengambil untung lima sampai 10 persen dari penjualan BBM nonsubsidi.

Menanggapi hal ini Syahrial Mukhtar menuturkan, harga BBM non subsidi pada dasarnya mengikuti harga pasar, sehingga ketika harga minyak dunia turun, pasti tanpa disuruh harga BBM non subsidi juga akan turun, tetapi tidak bisa dilakukan secara seketika.

Dalam menyusun harga BBM,  Pertamina menggunakan komponen MOPS ditambah dengan faktor lain seperti pajak dan margin usaha, yang disesuaikan dengan ketetapan pemerintah. Dari situ muncul harga keekonomian. 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan merevisi formula penghitungan harga bahan bakar minyak (BBM) penugasan yang disesuaikan dengan struktur harga yang relevan saat ini. Dasar perubahan harga mempertimbangkan biaya perolehan, biaya distribusi, penyimpanan dan margin. 

Penetapan penyesuaian harga itu juga mengacu pada Permen ESDM No. 34/2018 Perubahan Kelima Atas Permen ESDM No. 39/2014 tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM.

Pada tahun 2021 pertamina menargetkan produksi migas nasional dapat mencapai 60 persen. ketika Blok Rokan sudah beroperasi maka akan memproduksi 60 persen sehingga bisa menurunkan impor minyak mentah.

Nicke Widyawati mengatakan “Pertamina mendapat tambahan 11 Wilayah Kerja Migas untuk dikelola. Ini terutama Blok Rokan yang potensinya cukup besar. Oleh karena itu, ia optimistis produksi migas domestik akan meningkat begitu wilayah kerja tersebut mulai berproduksi”. Untuk kedepannya pertamina akan membangun 6 kilang, Hal ini dipengaruhi pertumbuhan populasi dan masifnya pembangunan infrastruktur di Indonesia.

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia