Sabtu, 23 Mar 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Di Balik Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah

Oleh Siti Nafisah

13 Desember 2018, 11: 00: 03 WIB | editor : Abdul Basri

Di Balik Ketidakstabilan Nilai Tukar Rupiah

Seperti yang kita ketahui nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin tidak terkontrol. nilai rupiah pernah menyentuh nilai Rp 15.000 pada beberapa bulan yang lalu. Dan kemerosotan nilai tukar rupiah saat ini merupakan level terendahnya sejak tahun 1998. Kemudian rupiah berhasil menguat kembali beberapa persen hingga hari ini menyentuh nilai Rp 14.540.

Penyebab ketidakstabilan nilai tukar rupiah

Ketidakstabilan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar negeri. Soal besaran bobotnya, faktor dari luar negeri, terutama dari Amerika Serikat, menjadi yang dominan, tak hanya itu krisis di Yunani, depresi Yuan di Cina dan krisis ekonomi yang menghantam sejumlah negara berkembang seperti Turki dan Venezuela juga merupakan faktor eksternal yang dapat pempengaruhi ketidak stabilan nilai tukar rupiah. Faktor eksternal ini yang sulit diperkirakan.

Indonesia adalah negara yang sangat membutuhkan aliran modal dari luar negeri. Biasanya aliran modal itu masuk melalui pasar Surat Utang Negara (SUN) melalui pasar modal atau pinjaman korporasi. Ketika Bank Sentral AS, Federal Reserve, mengambil kebijakan menaikkan suku bunga acuannya.  Hal ini akan memicu  aliran modal asing di Indonesia akan migrasi ke AS. Akibatnya, permintaan dollar meningkat sehingga rupiah tertekan.

Adapun faktor di dalam negeri yang mempengaruhi kurs rupiah adalah inflasi, defisit ekspor impor barang jasa atau current account, Aktivitas neraca pembayaran, Perbedaan suku bunga di berbagai negara, Tingkat pendapatan relatif, Kontrol pemerintah dan aliran modal melalui penanaman modal asing maupun portofolio.

Dampak ketidakstabilan nilai rupiah

Ketidakstabilan nilai tukar rupiah ini berdapak kuat bagi perekonomian bangsa dan negara. Depresiasi rupiah yang terjadi saat ini tak boleh dianggap enteng. Pasalnya jika terus dibiarkan, pelemahan rupiah akan berimbas pada pembengkakan biaya produksi dan berisiko menekan kinerja suatu perusahaan, terutama bagi mereka yang bahan baku impornya banyak.

Semakin anjlok nilai tukar rupiah semakin berat para pegusaha untuk membeli bahan baku untuk kelangsungan produksi. Oleh karennya banyak dari perusahaan asing yang melakukan PHK terhadap karyawan-karyawannya. Harga bahan baku yang semakin mahal dan ketidak stabilan nillai rupiah mengakibatkan banyak investor yang menghentikan investasi mereka di Indonesia. Investasi besar yang mereka tanamkan di Indonesia membuat mereka gelisah di karenakan ketidak stabilan nilai rupiah saat ini. Semakin banyak investasi yang mereka tanam semakin besar pula resiko investasi yang akan mereka alami. Mungkin itu merupakan salah satu alasan dari banyak investor yang menarik investasi mereka dari Indonesia. Investasi besar yang mereka tanamkan di Indonesia tidak berbanding lurus dengan profit yang mereka dapatkan. Sehingga banyak dari para investor mengalihkan dana investasi mereka.

Jika itu terjadi, pertumbuhan ekonomi nasional bisa terseret. Selain itu, pelemahan rupiah yang terjadi di tengah tren kenaikan harga minyak dunia juga memberikan risiko pada kondisi neraca perdagangan domestik, terutama di sektor minyak dan gas (migas). Depresiasi rupiah bisa membuat harga minyak menjadi relatif lebih mahal dan membengkakkan beban subsidi di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Apabila rupiah terlalu lemah, maka kondisi ini tidak bagus bagi mereka yang memiliki kewajiban valas dan importir. Namun, kondisi rupiah yang lemah juga bisa mendorong ekspor.

Sedangkan apabila nilai rupiah terlalu kuat, maka akan membuat impor terus terjadi dan melemahkan produksi dalam negeri. maka kondisi ini tidak baik juga bagi neraca perdagangan. Oleh karena itu, menurut bank sentral, kondisi rupiah yang paling baik adalah sesuai dan mencerminkan ekuilibrium dan fundamental ekonomi. Di samping itu, kondisi rupiah yang dipandang baik adalah yang dapat mendukung surplus neraca perdagangan. Rupiah yang terlalu kuat juga tidak berarti bagus bagi perekonomian.

Upaya untuk mengatasi ketidakstabilan nilai tukar rupiah

Upaya yang dilakukan untuk mempertahankan nilai rupiah dengan beberapa langkah kebijakan jangka pendek di bidang moneter yang dilakukan BI untuk mengatasi melemahnya nilai tukar rupiah yaitu : Menaikkan suku bunga BI Rate (penentuan suku bunga bank), Menaikkan suku bunga fasilitas simpanan BI, Menyerap likuiditas dengan instrumen fine tune kontraksi (FTK) dengan variabel rate tender yaitu, dengan cara melakukan pelelangan, misalnya lelang suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Menaikkan suku bunga maksimum penjaminan simpanan baik suku bunga penjaminan simpanan rupiah atau deposito rupiah dan suku bunga penjaminan simpanan valuta asing (valas) atau deposito valas

Solusi untuk mengatasi krisis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Salah satunya dengan memperbaiki fundamental perekonomian Indonesia. Ada strategi jangka pendek hingga jangka panjang yang bisa dilakukan pemerintah.

Untuk jangka pendek, para eksportir wajib menukar devisa hasil ekspor ke rupiah sesuai lokal konten produksi mereka. Pemerintah perlu membuat aturan baku terkait hal ini agar segera dilakukan. Dalam jangka pendek, pemerintah juga bisa membuat tim khusus untuk mengundang investasi dari luar negeri. Mereka bisa tersebar di beberapa negara.

Sementara jangka menengah, pemerintah perlu mendorong ekspor melalui berbagai insentif. Caranya bisa dari sisi pajak maupun perizinan yang mudah. Bisa dengan mendorong investasi untuk ekspor. Ini bisa menghasilkan devisa. Adapun untuk beberapa barang impor yang bersifat konsumsi bisa dikurangi dengan menggunakan produk dalam negeri. Sehingga permintaan dolar bisa ditekan untuk menguatkan rupiah. 

Terakhir untuk jangka panjang, perekonomian Indonesia belum memiliki fundamental yang kokoh. Produktivitas masyarakat masih rendah membuat mesin pembangunan ekonomi belum bergerak kencang. Jadi, pemerintah harus mempercepat pertumbuhan ekonomi kelas bawah dengan berbagai kebijakan. Paling penting yakni melalui pelatihan kerja supaya produktif. 

SITI NAFISAH

*Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Muhammadiyah Malang

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia