Kamis, 24 Jan 2019
radarmadura
icon featured
Resensi

Potongan Pelajaran Sejarah yang Hilang

13 Desember 2018, 01: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Potongan Pelajaran Sejarah yang Hilang

BUKU ini mengisahkan Agresi II Belanda setelah proklamasi. Berbeda dengan daerah-daerah lain, Sulawesi Selatan menyimpan kenangan pahit. Kapten Westerling membantai ribuan orang di sana. Orang tidak berani melangkahkan kaki di jalan karena khawatir ditembus peluru penembak misterius. Setiap sepuluh hari, pasukan Westerling menangkap tiga ratusan orang yang dicurigai pemberontak untuk dieksekusi (hlm 220).

Keluarga korban tersebut harus lari dari satu persembunyian ke persembunyian lain karena terus dimatai-matai. ”Bagi rakyat Sulawesi Selatan, tindakan pembunuhan ’brutal’ yang dilakukan oleh Westerling dan pasukannya adalah tindakan yang tidak bisa dilupakan,” kata Anhar Gonggong, Ilmuwan sejarah yang ayah dan kakaknya menjadi korban kebrutalan tersebut (hlm xxv).

Buku ini menjelaskan bahwa agresi Belanda II ini diakibatkan ketidakrelaan melepaskan tanah jajahan makmur yang telah memanjakan negara dan kongsi perusahaan dagang mereka. Belanda juga kehilangan wibawa di mata negara kolonial lainnya karena selama ini mereka disanjung lantaran bisa menguasai wilayah dengan kekayaan melimpah. Ada beban psikologis di hati Belanda untuk mengamini kemerdekaan Indonesia. Ini membuat mereka kehilangan akal sehat tatkala memutuskan untuk merebutnya kembali.

Hal ini dilihat dari ketidakmatangan perhitungan dan persiapan yang mereka lakukan sehingga tidak menyadari pergerakan kemerdekaan begitu kuat untuk mereka kalahkan. Ketidakmatangan mereka juga menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak. Menyadari kekuatan pasukan Indonesia yang kuat sedangkan mereka sendiri kekurangan personel, Belanda akhirnya membagi wilayah Indonesia ke dua bagian: Barat dan Timur (hlm 11).

Bagian Barat yang meliputi Sumatra dan Jawa tidak mungkin mereka kuasai karena dijaga kuat oleh pasukan kemerdekaan. Satu-satunya wilayah yang mungkin dikuasai adalah Indonesia bagian timur, yakni Sulawesi. Obsesi mereka untuk kembali menjajah Indonesia membuat mereka berpikir pragmatis bahwa walaupun tidak menguasai semenanjung Indonesia, setidaknya mereka masih menguasai sebagiannya yang juga menyimpan kekayaan luar biasa.

Di luar perkiraan, Sulawesi Selatan yang awalnya tenang, gaduh dengan berbagai pemberontakan. Belanda berunding dan akhirnya mengirimkan Kapten Westerling untuk memadamkan pemberontakan tersebut. ”Kita tidak bisa menyelesaikan masalah Timur jika selalu menggunakan kacamata Barat. Oleh karena itu, kita harus sering menyimpang dari taktik militer yang standar”, kata si Kapten (hlm 34).

Namun perwira keturunan Turki ini tidak melaporkan apa yang dia lakukan kepada siapa pun. Dunia tidak tahu petaka apa yang sebenarnya terjadi sepanjang 1946-1947 di Sulawesi Selatan. Buku ini menjadi perpanjangan tangan dari penderitaan penduduk Sulawesi Selatan. Buku ini ditulis anak salah satu prajurit Belanda yang berada di bawah komando Kapten Westerling. Ini kebetulan yang luar biasa. Si Kapten ingin menyembunyikan kekejamannya, namun anak prajuritnya sendiri justru yang membocorkan.

Butuh 25 tahun bagi Maarten Hidskes untuk mengumpulkan arsip data, surat-surat ayahnya dan juga pengakuan dari teman seperjuangan ayahnya sebagai bahan penyusunan buku ini. Maarten Hidskes terpantik jiwanya untuk menulis buku akibat percakapan singkat dengan ayahnya tentang aksi traumatik yang dia lakukan di Sulawesi Selatan. Si Ayah tidak pernah berkisah panjang lebar tentang peristiwa itu. Percakapan singkat itu cukuplah bagi Maarten Hidskes untuk menduga bahwa ada kejadian besar yang dirahasiakan ayahnya dari sejarah (hlm 1-2).

Buku ini ditulis berdarkan data-data pendukung konstruksi tragedi di Sulawesi Selatan. Keberanian Maarten Hidskes untuk mengungkapkan kebenaran, yang tentu saja juga merugikan negaranya, layak diapresiasi. Sebagaimana yang dia katakan, orang Belanda tidak percaya apa yang dia tuturkan. Terlepas dari itu, dunia sudah tahu dan menvonis aksi Kapten Westerling sebagai kejahatan perang. Indonesia juga tahu tentang sisi ketidakmanusiaan Belanda. Ini merupakan informasi sejarah yang sangat berharga. 

MAMANG HARIYANTO

Alumnus Universitas Islam Madura

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia