Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Features

Inilah Kisah Mariah, Janda Tua yang Hidup Sebatang Kara

06 Desember 2018, 21: 17: 16 WIB | editor : Abdul Basri

MEMPERIHATINKAN: Nenek Mariah hidup sebatang kara di gubuk bambu  Dusun Billaan, Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Kamis (6/12).

MEMPERIHATINKAN: Nenek Mariah hidup sebatang kara di gubuk bambu Dusun Billaan, Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Kamis (6/12). (Susanti Stia Wardani / RadarMadura.id)

PAMEKASAN – Kisah memilukan dialami janda tua, Mariah, asal Dusun Billaan, Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan. Perempuan berusia 63 tahun itu tinggal sebatang kara di salah satu gubuk bambu selama bertahun-tahun.

Bukan hanya usianya yang tua. Umur gubuknya pun tidak muda lagi. Rumah berukuran tiga meter persegi itu sudah lapuk. Bahkan, hampir semua sisi dinding dari anyaman bambu tersebut berlubang.

Wajar jika perempuan berusia senja itu tidak hanya merasakan sepi. Namun, juga menggigil kedinginan ketika malam hari. Apalagi, saat hujan, bagian atap banyak yang bocor.

Perempuan malang itu mengandalkan pemberian tetangga untuk bertahan hidup. Usia yang tidak muda membuatnya sering sakit. Dia pun tidak bisa berbuat banyak untuk menopang hidup. Terlebih, setelah terdeteksi penyakit paru-paru yang menggerogotinya sejak dua bulan terakhir.

Meskipun kondisinya demikian, nenek tua itu sangat sopan. Kondisi tersebut dijalaninya sejak puluhan tahun. Dia tidak dikarunia keturunan dan memilih tetap menjanda.

Mariah tinggal di ruangan sangat sempit. Dapur dan tempat tidur menjadi satu. Hanya sehelai pakaian yang dimiliki. Saat hujan, lantai rumah becek akibat air yang masuk lewat atap.

”Saya sudah tidak mampu mencari uang sendiri. Sehari-hari makan diberi tetangga,” ucap Mariah dengan suara lirih.

Jauhari, 45, tetangga nenek Mariah, menuturkan sudah 20 tahun lebih merawatnya. ”Saya tidak tega melihat kondisi nenek. Suaminya meninggal ketika usia pernikahannya belum genap lima tahun. Dia tidak memiliki anak dan sanak saudara dekat,” tuturnya.

Dia menambahkan, bantuan pemerintah minim. Padahal kondisinya sangat memprihatinkan. Nenek Mariah membutuhkan bantuan secara ekonomi dan kesehatan. ”Sudah dua bulan ia batuk darah,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Montok Wahid Hasyim menyampaikan, dirinya telah berusaha maksimal untuk memberikan bantuan. Baik bantuan pemerintah maupun pribadi. ”Kepala Dusun Billaan yang lebih mengetahui secara pasti kondisi nenek Mariah,” pungkasnya,” (rm4)

(mr/fat/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia