Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal
Kontraktor-Konsultan Pengawas Ditahan

Kasus Proyek Pragaan Berpotensi Tambah Tersangka

06 Desember 2018, 08: 05: 59 WIB | editor : Abdul Basri

DITAHAN: Dua tersangka korupsi Pasar Pragaan, Babur Rahman dan Koko Andriyanto dikawal petugas Kejari Sumenep sebelum ditahan di Rutan Kelas II-B Sumenep.

DITAHAN: Dua tersangka korupsi Pasar Pragaan, Babur Rahman dan Koko Andriyanto dikawal petugas Kejari Sumenep sebelum ditahan di Rutan Kelas II-B Sumenep. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

SUMENEP – Kasus korupsi Pasar Pragaan, Sumenep, menemui babak baru. Dua tersangka atas proyek Rp 2,4 miliar itu, Babur Rahman dan Koko Andriyanto ditahan Kejari Sumenep Rabu (5/12). Selama 20 hari ke depan, keduanya akan menikmati dinginnya jeruji besi Rutan Kelas II-B Sumenep.

Kasi Intel Kejari Sumenep Rahadian Wisnu Whardana mengatakan, penahanan itu setelah pelimpahan tahap dua, yakni tersangka dan barang bukti, dari penyidik pidana korupsi Polres Sumenep. Dari pemimpahan itu diketahui bahwa Babur Rahman merupakan kontraktor yang melaksanakan pekerjaan fisik Pasar Pragaan.

Proyek pasar ini bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) Sumenep 2014 di dinas perindustrian dan perdagangan (disperindag). ”Pelaksanaan pekerjaan fisik tersebut ternyata tidak sesuai dengan spesifikasi teknis, volume, dan RAB yang tercantum dalam kontrak/CCO,” kata Wisnu.

TEGAS: Kasi Intel Kejari Sumenep Rahadian Wisnu Whardana (kiri) didampingi Kasipidsus Herpin Hadat memberikan keterangan pers terkait penahanan tersangka korupsi Pasar Pragaan.

TEGAS: Kasi Intel Kejari Sumenep Rahadian Wisnu Whardana (kiri) didampingi Kasipidsus Herpin Hadat memberikan keterangan pers terkait penahanan tersangka korupsi Pasar Pragaan. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

Klik dan Download Aplikasi Radar Madura Disini..!!

Sementara Koko Andriyanto bertindak sebagai konsultan pengawas pada proyek tersebut. Selaku konsultan pengawas, Koko menyebut jika pekerjaan proyek fisik Pasar Pragaan sudah sesuai dengan spesifikasi teknis, volume, dan rencana anggaran biaya (RAB) yang tercantum dalam kontrak/CCO. Padahal faktanya berbanding terbalik dengan yang disampaikan Koko.

”Akibat perbuatan tersangka satu dan dua, negara dirugikan sebesar Rp 676,8 juta,” tegas Wisnu. Kedua tersangka disangka melanggar pasal 2 juncto pasal 18 UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU 20/2001 tentang Perubahan atas UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tipikor juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Subsider pasal 3 juncto pasal 18 UU 31/1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU 20/2001 juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

”Setelah selesai dilakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan barang bukti, kemudian penuntut umum berpendapat bahwa guna kepentingan penuntutan perlu dilakukan penahanan terhadap tersangka,” paparnya.

Penahanan dipandang perlu, pertama, dengan alasan subjektif yaitu kekhawatiran tersangka akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana. Kedua, alasan objektif, yakni bahwa tindak pidana itu diancam pidana penjara lima tahun atau lebih sebagaimana diatur dalam pasal 21 ayat (1) dan ayat (4) KUHAP.

”Selama waktu 20 hari ke depan juga akan dipergunakan penuntut umum untuk mempersiapkan pelimpahan ke Pengadilan Tipikor Surabaya,” imbuhnya.

Kasus korupsi Pasar Pragaan bisa jadi tidak hanya selesai dengan penahanan Babur Rahman dan Koko Andriyanto. Kejari Sumenep akan terus mengembangkan kasus tersebut hingga tuntas. Apalagi proyek pembangunan ini melibatkan banyak pihak.

Kasi Intel Kejari Sumenep Rahadian Wisnu Whardana menjelaskan, pihaknya akan terus mengembangkan perkara korupsi tersebut. Namun, dia tidak memastikan apakah akan ada tersangka baru atau tidak. Sebab, pihaknya masih harus menunggu fakta-fakta di persidangan nanti.

”Setelah kita terima dua berkas tadi, itu sudah dinyatakan P21. Nanti selanjutnya, apakah ada pengembangan atau ndak itu juga pasti akan terungkap di fakta persidangan,” katanya. ”Fakta persidangan itu juga merupakan perhatian bagi kita. Perkembangannya ke mana akan kelihatan di fakta persidangan,” tegasnya didampingi Kasipidsus Kejari Sumenep Herpin Hadat.

Perkara korupsi Pasar Pragaan ini mencuat sejak 2015. Babur bukanlah pemenang kontrak dalam tender proyek tersebut. Berdasarkan informasi di laman layanan pengadaan secara elektronik (LPSE), pemenang kontrak yakni PT Bukidalam Barisani. Perusahaan tersebut beralamat di Jalan Kedung Asem Nomor 104 Surabaya.

Sementara Babur merupakan Direktur CV Bayu Jaya Abadi Sumenep. Dalam tender tersebut, perusahaan milik Babur ikut menjadi peserta lelang. Tetapi di titik akhir, CV Bayu Jaya Abadi dicoret karena tidak melampirkan jaminan penawaran.

Berdasarkan data yang dihimpun RadarMadura.id, meskipun PT Bukidalam Barisani yang memenangkan tender, rupanya proyek pasar itu disubkontrakkan kepada Babur Rahman. Nilai subkontrak ini ditengarai tidak lagi Rp 2,4 miliar, melainkan hanya Rp 1,6 miliar. Akibatnya, banyak pengurangan spek dan pengurangan volume proyek yang pada akhirnya berbuntut tindak pidana korupsi.

(mr/mam/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia