Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Premanisme Debt Collector Jadi Atensi Polri

05 Desember 2018, 11: 44: 27 WIB | editor : Abdul Basri

Premanisme Debt Collector Jadi Atensi Polri

PAMEKASAN – Kasus dugaan pengeroyokan oleh debt collector terhadap debitur PT Adira Multi Finance menjadi atensi Polri. Pimpinan Polres Pamekasan berjanji akan mengusut tuntas kasus tersebut.

Kapolres AKBP Teguh Wibowo menyatakan, kasus dugaan kekerasan oleh para juru tagih akan ditindaklanjuti. Apa pun alasannya, bila terjadi tindak pidana kekerasan, polisi bakal bertindak.

Menurut Teguh, harus ada proses hukum berkaitan dengan tindak kekerasan itu. Dalih apa pun yang digunakan, kekerasan tidak diperbolehkan. ”Nanti Kasatreskrim saya tindak lanjuti, segera,” katanya Selasa (4/12).

Teguh menyampaikan, penyelidikan akan terus berjalan. Aksi premanisme yang menyebabkan tindak pidana kekerasan tidak dibenarkan dengan dalih apa pun. Dengan demikian, kasus tersebut bakal diusut tuntas.

Legal Corporate PT Adira Multi Finance Pamekasan M. Alfian mengatakan, kliennya tidak pernah menyuruh debt collector bertindak keras. Penagihan terhadap debitur memiliki aturan main.

Menurut dia, ada proses yang harus dilalui. Di antaranya, pemberian surat peringatan. Meski debitur tidak membayar, juru tagih tetap tidak diperkenankan bertindak keras. Apalagi pengeroyokan.

Alfian menyampaikan, masyarakat terkadang salah menafsirkan perampasan oleh juru tagih. Masyarakat mengira, yang merampas kendaraan debitur itu pihak PT Adira Multi Finance.

Akibatnya, ketika terjadi aksi brutal, nama baik perusahaan leasing buruk. Padahal, aksi juru tagih itu tidak berhubungan dengan PT Adira Multi Finance. Apalagi tindak anarkis itu dilakukan secara perseorangan.

Perusahaan tidak bekerja sama dengan perseorangan, tetapi bekerja sama dengan perusahaan jasa di bidang debt collector. ”Jika ada tindak kekerasan, yang bertanggung jawab adalah perorangan dan PT yang mempekerjakannya juga harus bertanggung jawab,” katanya.

Alfian mendorong kepolisian mengusut kasus dugaan pengeroyokan yang menimpa debitur itu. Kasus kekerasan tersebut masuk pidana. Polisi bertanggung jawab melakukan penyelidikan dan penyidikan.

Bahkan jika terbukti melakukan tindak pidana, yang bersangkutan dipersilakan dijatuhi sanksi. Yakni, dilakukan penahanan. ”Kami mendukung proses hukum pihak kepolisian,” ujarnya.

Alfian berharap, polisi segera bertindak tegas. Tujuannya agar ada efek jera bagi debt collector yang masih melakukan tindak kekerasan kepada debitur. ”Masyarakat harus paham, yang dilakukan debt collector itu di luar kontrol Adira,” tegasnya.

Pria berkumis itu mengimbau masyarakat, khususnya debitur PT Adira Multi Finance, melakukan pembayaran sesuai dengan prosedur. Kemudian hindari membayar angsuran kepada debt collector yang tidak bertanggung jawab.

Untuk diketahui, sekitar 20 debt collector diduga mengeroyok Mustafa, 32, warga Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan. Aksi kekerasan itu terjadi lantaran Mustafa menunggak pembayaran kredit ke PT Adira Multi Finance selama dua bulan.

(mr/pen/hud/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia