Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Bangkalan

HIV/AIDS Belum Ada Obatnya

05 Desember 2018, 11: 32: 02 WIB | editor : Abdul Basri

PERLU DICEGAH: Sejumlah warga binaan di Rutan Kelas II-B Bangkalan diambil sampel darahnya untuk screening HIV/AIDS Senin (3/12).

PERLU DICEGAH: Sejumlah warga binaan di Rutan Kelas II-B Bangkalan diambil sampel darahnya untuk screening HIV/AIDS Senin (3/12). (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

BANGKALAN – Puluhan warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II-B Bangkalan diambil sampel darahnya Senin (3/12). Itu dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan penghuni hotel prodeo tersebut yang terpapar human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS).

Kepala Rutan Kelas II-B Bangkalan Ahmad Fauzi menyampaikan, pemeriksaan atau screening HIV/AIDS dilakukan terhadap sekitar 50 warga binaan baru. ”Kami bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan,” katanya.

Warga binaan yang dites darah memiliki latar belakang kasus narkoba. Sebagaimana diketahui, penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu faktor penularan virus yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya itu.

Klik dan Download Aplikasi Radar Madura Disini..!!

Dari total 380 warga binaan, 75 persen penghuni Rutan Kelas II-B Bangkalan memang karena terjerat kasus narkoba. Itu menjadi atensi tersendiri bagi rutan untuk terus melakukan deteksi dini kemungkinan adanya warga binaan yang positif HIV. ”Narkoba berpotensi menularkan HIV melalui jarum suntik,” terang kepala rutan yang sebelumnya bertugas di Purbalingga itu.

Lebih lanjut Fauzi menjelaskan, pemeriksaan dilakukan sebagai deteksi awal. Terutama bagi warga binaan yang baru masuk rutan. Pemeriksaan rutin dilaksanakan setiap tahun. ”Agar tidak sampai menular pada warga binaan yang lain. Kami pisahkan kalau ada yang terjangkit HIV/AIDS,” paparnya.

Sebelumnya ada dua warga binaan yang positif HIV/AIDS. Untuk itu, puluhan warga binaan baru yang masuk perlu diperiksa. Mengingat, setiap warga binaan yang baru masuk tidak bisa diketahui terjangkit HIV atau tidak.

”Perlu diperiksa. Dua orang yang positif HIV sudah kami pisahkan untuk mencegah penularan pada yang lain,” ujar Fauzi.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bangkalan Walid Yusufi menyampaikan, pemeriksaan dilakukan dalam rangka hari AIDS Sedunia yang diperingati tiap 1 Desember. Dari hasil tes, puluhan warga binaan yang baru masuk di Rutan Kelas II-B Bangkalan dinyatakan negatif HIV. ”Hasilnya sudah keluar. negatif semua,” tuturnya Selasa (4/12).

Walid menyatakan, screening HIV hanya untuk mengetahui positif dan tidaknya para warga binaan atas virus tersebut. Jika terdeteksi ada yang positif, nanti lanjut konseling. Setelah itu diantarkan untuk mendapatkan obat. Yakni, obat untuk menghambat perkembangbiakan virus tersebut dalam tubuh.

”Belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Hanya obat penghambat perkembangbiakan HIV, anti retroviral (ARV),” ucapnya. Dia menyampaikan, penderita HIV tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkan obat ini. Sebab, ini gratis.

Dia mengungkapkan, penderita HIV/AIDS di Bangkalan setiap tahun bertambah. Berdasar data di dinkes, Januari hingga Oktober 2018, penderita HIV/AIDS 49 orang.

Pada 2016, penderita HIV berjumlah 55 orang. Pada 2017, penderita bertambah menjadi 128 orang. Dalam tiga tahun terakhir, penderita HIV/AIDS di Bangkalan 227 orang. ”Ini penyakit menular. Bisa melalui cairan, transfusi darah, pemakaian jarum suntik, dan lainnya. Termasuk gonta-ganti pasangan untuk berhubungan intim,” pungkasnya.

(mr/bad/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia