Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Features

Bangkitkan Semangat Anak Desa Menempuh Pendidikan

03 Desember 2018, 13: 32: 58 WIB | editor : Abdul Basri

GUDANG PENGETAHUAN: Kepala Perpusdes Mapper Elman Duro menemani anak-anak membaca buku, Sabtu (1/12).

GUDANG PENGETAHUAN: Kepala Perpusdes Mapper Elman Duro menemani anak-anak membaca buku, Sabtu (1/12). (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

PAMEKASAN - Semangat menempuh pendidikan di pedesaan perlu dorongan berbagai pihak. Anak-anak desa masih kesulitan menambah pengetahuan. Perpustakaan desa (perpusdes) menjadi salah satu solusi membangkitkan semangat menambah pengetahuan.

Suasana di Desa Mapper, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Sabtu sore (1/12) cukup tenang. Tidak ada suara yang mengusik kedamaian warga. Kendaraan bermotor yang melintas di jalan desa bisa dihitung dengan jari. Dari jalan kabupaten, dalam hitungan menit hanya ada lima kendaraan roda dua yang melintas.

Sekitar pukul 15.30, RadarMadura.id memarkir motor di tepi jalan di Desa Mapper. Terlihat bangunan yang terbuat dari kayu berdiri tegak. Di sampingnya ada bangunan berdinding tembok yang belum selesai dibangun.

Klik dan Download Aplikasi Radar Madura Disini..!!

Tak lama kemudian, Elman Duro, kepala Perpusdes Mapper datang menghampiri. Dia membawa koran ini ke bangunan yang terbuat dari kayu itu. Dari kejauhan terlihat dua anak usia sekolah dasar memperhatikan.

”Sini masuk tidak usah malu-malu,” ucap Elman Duro menyapa anak-anak yang sudah dikenalnya. Mereka beranjak mendekat sambil menyunggingkan senyum.

Di dalam bangunan itu terdapat buku-buku tersusun di dua rak berukuran sekitar 2 x 1 meter. Satu rak penuh berisi buku menghadap ke pintu masuk. Sementara buku-buku di rak yang satunya masih terlihat berantakan.

Jumlah buku di rak tersebut sekitar 1.500 eksemplar. Seribu buku disusun rapi dalam satu rak yang terdiri dari 500 judul. Masing-masing judul buku ada dua eksemplar. ”Yang seribu ini bantuan dari perpustakaan provinsi,” kata Elman menunjuk ke rak buku yang tersusun rapi.

Dosen di IAIN Madura ini lantas duduk bersila sambil menceritakan awal mula berdirinya perpustakaan di desanya. Keinginan mendirikan perpusdes muncul dari kegelisahan melihat mahasiswa perdesaan yang kesulitan mendapatkan referensi. Utamanya ketika ada tugas kampus.

Bersamaan dengan itu, rumahnya sering dijadikan tempat cangkrukan pemuda. Di antara mereka ada yang putus sekolah, pengangguran, dan sebagian pelajar. Hampir setiap malam mereka berkumpul berbincang tanpa kesimpulan yang jelas.

Sejak itu Elman mulai mengeluarkan buku-buku koleksi pribadinya. Buku-buku itu disuguhkan kepada pemuda yang sedang cangkrukan di depan rumahnya. Perlahan, pemuda-pemuda itu mulai menjamah buku seakan penasaran dengan isinya.

”Mulai 2010 saya mengenalkan buku pribadi kepada pemuda yang biasa nongkrong di depan rumah. Awal-awal mereka acuh. Tapi lama-kelamaan satu per satu buku mulai mereka baca,” ujarnya sambil membuka pesan WhatsApp.

Kegiatan tersebut terus dilakukan hampir setiap malam. Elman menceritakan kondisi pemuda yang ada desanya. Mayoritas pemuda putus sekolah setelah lulus SMP atau sederajat. ”Hanya yang sekolah di pesantren yang bisa lulus hingga MA/SMA bahkan hingga ke perguruan tinggi,” tambahnya.

Atas dasar keprihatinan itu, alumni salah satu pondok besar di Madura ini mulai mencari cara agar pemuda memiliki semangat berpendidikan. Akhirnya, pada 2014, Pemkab Pamekasan membuka peluang bagi desa untuk membuka perpusdes.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, Elman mengajukan permohonan pendirian perpusdes. Setelah melalui proses yang cukup panjang, 2015 izin pendirian perpusdes keluar.

Sejak saat itu pemuda dan pelajar dari tingkat SD hingga SMA berdatangan untuk membaca buku yang tersedia di rak. Elman menambahkan fasilitas internet dengan cara menyambungkan hot spot dari smartphone miliknya. Itu memudahkan mahasiswa dan pelajar mengerjakan tugas dari sekolah dan kampus mereka.

”Alhamdulillah, semangat untuk melanjutkan pendidikan mulai bergelora. Pelajar yang sering baca buku di sini sekarang sudah ada yang kuliah di Malang. Ada juga yang ikut tes jurusan teknik sipil,” tuturnya.

Namun, buku-buku yang tersedia belum memenuhi kebutuhan anak-anak, utamanya mahasiswa. Buku yang ada berkaitan dengan tata boga dan pertanian. Padahal yang berkunjung mayoritas pelajar dan mahasiswa.

Elman berharap, pemerintah memberikan fasilitas untuk menunjang kebutuhan anak-anak yang berkunjung ke perpusdes. Buku diharapkan bisa menambah semangat untuk menambah asupan ilmu pengetahuan.

Berselang beberapa saat kemudian, ketika koran ini keluar dari ruangan perpusdes, terlihat tiga pemuda mendekati bangunan yang menghadap ke timur itu. Saat matahari mulai merunduk di ufuk barat, pemuda dan pelajar semakin banyak yang berdatangan. Seiring dengan itu, koran ini pamit lalu beranjak meninggalkan Desa Mapper. (bil)

(mr/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia