Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Features

Aktivis Lingkungan Racik Buah Mangrove Jadi Kopi Malam Jumat

02 Desember 2018, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

MENGINSPIRASI: Slaman memperlihatkan hasil produksi kopi mangrove di teras rumahnya, Jumat (30/11).

MENGINSPIRASI: Slaman memperlihatkan hasil produksi kopi mangrove di teras rumahnya, Jumat (30/11). (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

PAMEKASAN - Kegigihan Slaman patut dicontoh. Selama 32 tahun menjadi aktivis peduli lingkungan hingga menghasilkan produk yang unik dan menginspirasi.

Sepanjang pagi, rintik hujan membasahi Bumi Pamelingan pada Jumat (30/11). Awan terlihat menyeluruh di langit Kota Gerbang Salam. Lalu lintas kendaraan cukup padat di daerah perkotaan. Pengendara roda dua menyelimuti tubuhnya dengan jas hujan.

Berselang beberapa jam kemudian RadarMadura.id tiba di Desa Lembung, Kecamatan Galis. Di ujung jalan menuju gang kecil terlihat seorang pria berkemeja merah melambaikan tangan mengajak masuk.

”Silakan duduk,” sapa pria bernama Slaman, menyambut dengan ramah di teras rumahnya. Di teras itu terdapat dua etalase kaca dipajang berdampingan. Di dalamnya terdapat kemasan yang bertuliskan ”Kopi Mangrove”. Sedangkan etalase di sampingnya berisi beberapa cenderamata yang terbuat dari kaca.

Lima menit kemudian, Nurul Imanah, istri Slaman keluar dengan membawa dua cangkir kopi dan toples berisi biskuit. Dia meletakkannya di meja yang dikelilingi empat kursi itu. ”Mari silakan sambil dicicipi,” ucapnya sambil menyuguhkan kopi.

Dengan menghadap ke arah barat, Slaman menceritakan tentang kopi mangrove yang diproduksinya. Perjalanan hidup menjadi aktivis peduli lingkungan menjadi pengantarnya menemukan ide cemerlang; mengolah buah mangrove menjadi kopi.

Dalam membuat produksi kopi mangrove, bapak dua anak itu menggunakan peralatan biasa seperti penggilingan dan lain-lain. Tenaga yang digunakan meminta bantuan dari anggota kelompok peduli lingkungan yang dipimpinnya.

”Saya tidak punya karyawan tetap. Ketika mau produksi, saya mengajak anggota kelompok untuk mengolah. Biasanya, sekali produksi mereka dibayar Rp 20 ribu,” tutur Slaman.

Terkadang, pria kelahiran 1970 itu merasa kesulitan mendapatkan pekerja untuk mengelola kopi mangrove. Masyarakat sekitar lebih memilih mencari kerja yang keuntungannya lebih besar. Seperti produksi garam.

Itu menjadi kendala untuk menghasilkan produksi yang lebih banyak. Dalam sebulan, hasil produksinya hanya berkisar 30 hingga 35 kilogram. Selain karena tidak punya tenaga yang cukup, alat-alat yang digunakannya masih sederhana.

Apalagi, saat musim hujan, Slaman bingung untuk memproduksi. Sebab, saat produksi membutuhkan cahaya matahari untuk menjemur buah mangrove. ”Nah, kalau musim hujan seperti sekarang, produksi pasti menurun,” tuturnya.

Slaman mengaku, hasil produksinya tidak pernah dijual ke toko-toko besar. Sebab, dia merasa tidak mampu untuk menghasilkan produksi yang lebih banyak. Dia hanya menerima pesanan dari pelanggan dan masyarakat umum.

Dalam proses pemasarannya juga tidak ada karyawan khusus. Dia mengantarkan sendiri pesanan ke alamat yang diberikan pelanggan. ”Pak Slaman, tolong kirim kopi ke alamat ini,” katanya meniru pelanggan saat meneleponnya.

Kendati demikian, banyak yang membantu memasarkan kopi yang awalnya diberi nama ”Kopi Malam Jumat” itu. Mulai kalangan mahasiswa hingga organisasi perangkat daerah (OPD) di Pamekasan ikut memasarkan kopi tersebut.

Dalam sebulan pesanan yang diterima bisa mencapai 50 kilogram. Namun, jika cuaca tidak mendukung, hasil produksi bisa berkurang. ”Kadang pelanggan meminta lebih. Kalau cuaca tidak mendukung, saya tidak menyanggupinya,” tutup pria 40 tahun itu.

Tak lama setelah berbincang, Slaman mengambil empat kemasan kopi yang sudah diproduksinya. Ada yang dikemas dalam bentuk sachet yang dibungkus dalam satu kemasan kardus kecil berukuran persegi. Kemasan yang lain dikemas dengan ukuran berbeda.

Harga kopi mangrove bervariasi. Bergantung pada ukuran kemasan. Untuk kemasan sachet, Slaman mematok Rp 20 ribu per bungkus. Sedangkan untuk kemasan yang lain ada yang Rp 18 ribu hingga Rp 32 ribu per kemasan.

Untuk bisa dikonsumsi layaknya kopi, Slaman mencampur buah mangrove dengan jahe dan cabai jamu. Kopi yang bebas kafein itu bisa diseduh dengan gula sesuai dengan selera. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia