Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon-featured
Hukum & Kriminal

Jatim Masih di Polres, Pastikan Idris Kena Pasal Berlapis

01 Desember 2018, 12: 25: 48 WIB | editor : Abdul Basri

BARANG BUKTI: Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman didampingi Kasatreskrim AKP Hery Kusnanto kemarin menunjukkan gambar senpi yang digunakan tersangka Idris menembak Subaidi.

BARANG BUKTI: Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman didampingi Kasatreskrim AKP Hery Kusnanto kemarin menunjukkan gambar senpi yang digunakan tersangka Idris menembak Subaidi. (RUSYDI ZAIN/RadarMadura.id)

SAMPANG – Kasus penembakan yang merenggut nyawa Subaidi dipastikan tidak berhenti pada tersangka Idris. Polres Sampang terus mengembangkan keterangan saksi untuk mengusut perkara tersebut hingga tuntas. Saat ini Jatim, orang yang diduga menyembunyikan Idris, masih diamankan di mapolres.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman memastikan Idris dikenai pasal berlapis. Pertama, dia dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Kemudian, disangka menggunakan UU 12/1951 tentang kepemilikan senjata api (senpi).

Budi mengatakan, berdasarkan hasil pengembangan terhadap tersangka dan dibuktikan dengan sejumlah barang bukti, memang mengarah pada pembunuhan berencana. Selain itu, mengenai kepemilikan senpi sudah dipastikan pasalnya. ”Pelaku ini terancam pasal berlapis. Pembunuhan berencana dengan ancaman seumur hidup dan undang-undang darurat yang ancamannya sepuluh tahun penjara,” katanya Jumat (30/11).

Pihaknya juga terus mengembangkan terkait keterlibatan Jatim yang membantu menyembunyikan Idris dan senjatanya. Saat ini polres menambah satu saksi lagi. Status Jatim kini diamankan di polres itu masih sebagai saksi.

Menurut Budi, pihaknya belum bisa menetapkan sebagai tersangka atas keterlibatan dalam kasus penembakan tersebut. Dia diamankan karena ada keterangan yang perlu dikembangkan. Statusnya memang masih sebagai saksi. Sebab, sejauh ini memang belum ada keterangan yang mengarah untuk menjadikan sebagai tersangka. ”Total saksi yang diperiksa saat ini sudah empat belas orang,” jelasnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga terus mengembangkan keterangan dari pelaku berkaitan dengan aktor di balik keterangan palsu yang disampaikan. Pihaknya berkomitmen untuk mengungkap tuntas sampai ke akarnya. ”Keterangan saksi, keterangan pelaku akan terus kami kembangkan,” ujarnya.

Berkaitan dengan Asan alias Hasan Ambon, tersangka penjual senpi yang digunakan Idiris, pihaknya sudah melakukan penggerebekan di dua lokasi. Pertama, di rumahnya di Dusun Nongkesan, Desa Tamberu Daya, Kecamatan Sokobanah, Sampang. Kedua, di salah satu rumah di Kecamatan Batumarmar, Pamekasan. Namun, pria 55 tahun itu belum tertangkap.

Selain menyebar surat daftar pencarian orang (DPO) ke seluruh polsek jajaran di wilayah Jawa Timur (Jatim), pihaknya juga melacak persembunyian tersangka menggunakan IT. ”Asan masih buron. Seluruh tim dikerahkan untuk memburu DPO itu. Kami tidak main-main dalam hal ini,” terangnya. Asan ditetapkan sebagai tersangka karena diduga telah melanggar pasal 1 ayat 1 UU darurat 12/1951. Yaitu, tanpa hak membawa, memiliki, menyimpan, dan menggunakan senpi.

Juru bicara Ikatan Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (Ikaba) mengaku mempercayakan kepada aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut hingga ke akar. Aktor intelektual yang merencanakan pembunuhan sebelum kejadian dan yang terlibat dalam membantu pelaku melakukan pelarian serta yang mengatur pelaku untuk memberikan keterangan palsu harus diusut. ”Kami curiga ada yang dilindungi di balik itu,” ujarnya.

Terkait adanya tersangka baru yang masih DPO, pihaknya menegaskan bahwa ekspektasi publik sangat luar biasa. Pihaknya memohon supaya polisi serius dalam menangkap buronan tersebut. ”DPO ini cepat tangkap, agar polisi bisa mengembangkan dari mana senjata api itu didapat,” pintanya.

Sebelumnya, Idris mengaku tidak ada rencana saat bertemu korban. Idris juga mengaku mengalami tabrakan motor dengan korban hingga jatuh. Bahkan Idris mengaku, setelah tabrakan sempat terjadi perkelahian dengan korban.

Kata Idris, korban menusukkan pisau berkali-kali. Setelah itu, korban dan tersangka berdekatan. Saat itulah Idris menembak korban. Ternyata keterangan Idris tersebut palsu. Hal itu dia akui kepada penyidik. Yang benar, Idris mencegat korban saat melintas di jalan. Idris dan korban sama-sama terjatuh dari sepeda motor akibat aksi pencegatan itu.

Begitu korban bangun dari jatuhnya, Idris yang memang membawa pistol langsung menembak. Korban pun mengalami luka tembak di bagian tulang rusuk kiri bawah hingga tembus pinggang kanan.

Keterangan lainnya, yang menelepon menggunakan nomor baru pada saat korban masih berada di Malang dengan alasan mau pasang gigi ternyata Idris. Diduga, Idris memang merencanakan pembunuhan itu. Yaitu dengan cara menggiring korban menuju Desa Sokobanah Laok. Sementara Idris menunggu di tempat kejadian perkara (TKP). Itu karena tersangka sudah mengetahui bahwa korban berangkat dari rumahnya menuju Desa Sokobanah Laok.

Dugaan kebohongan tersangka lainnya berkaitan dengan senjata yang digunakan menembak korban. Awalnya Idris mengaku menggunakan senjata api (senpi) jenis pen gun. Namun hasil penelitian Labfor Polda Jawa Timur dengan melihat lubang dan luka di tubuh korban, diketahui senpi yang digunakan bukan jenis pen gun. Tapi, senjata jenis pistol merek Pietro Beretta dengan peluru kaliber 9x19 milimeter buatan Italia.

Berdasarkan pengakuan Idris, pistol Pietro Beretta yang digunakan menembak Subaidi hingga meninggal diperoleh dari Hasan Ambon. Idris membeli senpi itu seharga Rp 5 juta pada Agustus 2018. Polisi sudah menetapkan Hasan Ambon dalam DPO.

(mr/rus/luq/bas/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia