Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Resensi

Pendidikan Cinta Fauna

26 November 2018, 02: 30: 13 WIB | editor : Abdul Basri

Pendidikan Cinta Fauna

BINATANG endemik di Indonesia sangat banyak. Setiap provinsi punya. Ia dijadikan ikon daerah. Sayangnya, fauna tersebut hampir punah sebab diburu atau mati akibat pembukaan hutan untuk perkebunan.

Aturan ketat tentang larangan perburuan hewan sering kali diterabas disebabkan lemahnya aparat serta kebandelan warga dan oknum tertentu. Menggunakan logika Cak Nun, aturan merupakan tataran terendah. Yang lebih tinggi lagi adalah kesadaran. Jika kesadaran telah tumbuh, aturan tidak diperlukan lagi.

Hadirnya buku ini merupakan salah satu usaha menumbuhkan kesadaran sejak dini kepada anak-anak. Binatang yang dikisahkan adalah kijang timor. Hewan asli Nusa Tenggara ini masuk dalam status konservasi vulnerable oleh IUCN Red List. Tidak berhenti hanya pada ihwal kelangkaan, buku ini juga mengungkapkan keunikan dan manfaat keberadaan rusa timor (hlm. 39).

Keunikannya antara lain berupa daya adaptasinya yang tinggi. Ia bisa hidup dan berkembang secara normal di berbagai daerah di luar Nusa Tenggara. Ia juga binatang yang peduli kepada sesama. Jika bahaya datang, ia tidak segera kabur menyelamatkan diri. Melainkan terlebih dahulu berteriak keras memberikan alarm emergensi kepada binatang-binatang lainnya. Dalam konteks ekosistem, ia hadir sebagai penyeimbang. Biji-biji buah yang dimakan, ia tabur dan semai sehingga menjadi tumbuhan baru.

Buku ini mengisahkan rusa timor yang hendak menjenguk ayam hutan yang sedang membuat rumah. Di tengah perjalanan bersama temannya, kera, ia melihat kilau cahaya dari benda yang diterpa mentari. Keduanya tidak tahu nama dan fungsi benda panjang dengan beberapa lubang di tengahnya. Dari Gallus, seekor ayam, keduanya tahu bahwa benda itu bernama Serunai. Dari Flo si burung samyong, keduanya mengerti bahwa benda itu milik Bona.

Bona adalah seorang anak manusia yang sering kali ke hutan menunggangi kerbau sambil lalu memainkan alat tiup tersebut. Kemungkinan besar benda itu jatuh tanpa dia sadari. Bona mengajari memainkan benda tersebut. Senang sekali rusa timor mendengar alunan suara yang keluar dari benda itu. Dia makin senang karena sekarang bisa memainkannya pula. Bona dengan senang hati menghadiahkan benda tersebut kepadanya. Rusa timor kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah temannya sambil berdendang sepanjang jalan (hlm. 29).

Dari kisah tersebut, buku ini mengajarkan kepada anak bahwa hewan dan manusia bisa berinteraksi sejajar tanpa subordinasi. Buku ini mengajarkan anak-anak agar bisa meniru sikap Bona. Kendatipun bahasa hewan dengan manusia beda, hewan memiliki rasa yang sama dengan manusia. Ia senang diperlakukan baik. Tidak senang jika diburu. Lari jika terancam. Menderita saat disiksa. Akrab jika didekati dengan lembut.

Rasa tersebut ditampakkan dalam bentuk suara dan isyarat tubuh. Dengan melihat itu, manusia bisa memahami suasana hati hewan. Demikian juga hewan, bisa memahami pikiran manusia dari perbuatannya. Sebab, saat ini relasi manusia-hewan timpang, hewan mengklaim bahwa setiap manusia jahat. Buktinya, setiap kali manusia datang, mereka ketakutan.

Fenomena demikian hendak dihilangkan buku ini melalui kisah keakraban manusia dan hewan. Segmen pembacanya adalah anak karena pikiran mereka masih polos. Mudah ditanami nilai luhur. Pikiran anak kaya dengan imajinasi sehingga kehadiran gambar, warna, serta dialog hewan-manusia menjadi sejumput penyubur imajinasi mereka.

Buku ini ditulis Dessy Sekar Chamdi, seorang bibliomania sejak kecil. Alur cerita yang didedahkan dalam buku ini kental dengan luasnya bahan bacaan yang dia konsumsi. Ini bisa dilihat dari bahasanya yang mudah dipahami dan beberapa kata ”baru” sebagai pengayaan dan penyesuaian dengan tema cerita yang diangkat.

Dalam buku ini juga terdapat gambar yang ikut bercerita. Keterpaduan kisah literal dan visual sangat membantu anak mengaktifkan kedua belahan otaknya. Implikasi kuat yang diharapkan adalah mudahnya mereka memahami dan tidak bosan membacanya. (*)

M. MAHMUD

Litbang Lembaga Pendidikan Al-Madinah, Moncek Tengah, Sumenep

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia