Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Surat Buat Guruku

Oleh: Badrul Munir*

26 November 2018, 02: 27: 20 WIB | editor : Abdul Basri

Surat Buat Guruku

GURU, izinkan dan perkenankan aku, muridmu ini, menyampaikan sesuatu. Sekadar curahan hati. Berisi sepatah kata akan kiprah perjuanganmu dalam membentangkan peta jalan hidup bagiku. Tentang jasa-jasamu padaku yang tak mungkin bisa kubalas. Juga tentang betapa berartinya pendidikan yang telah engkau berikan padaku. Andai tanpa guru, entah jadi apa aku saat ini.

Dengan bekal ilmu dan hasil didikanmu, aku dapat menjalani hidup ini dengan lebih terampil. Melalui nasihat dan petunjuk yang engkau berikan, aku dapat mengenal segala hal termasuk tentang Tuhan dengan segala perintah dan larangan yang harus kita indahkan. Berkat motivasimu di kelas, kini aku merasakan lezatnya hidup dengan ilmu.

Guru, biarlah orang-orang ramai bicara tentang pahlawan. Tentang kisah perjuangan merebut kemerdekaan. Jasa-jasa mereka tidak sepatutnya dilupakan. Dan memang selayaknya diingat dan diperingati. Sifat-sifat luhur mereka yang lebih mementingkan kepentingan orang banyak ketimbang diri pribadi mesti diteladani. Sungguh nilai-nilai itu telah tipis, hampir tak berbekas di zaman sekarang.

Saat ini kita hidup di zaman yang semuanya diukur dengan uang. Kesuksesan adalah ketika seseorang mampu mendapat banyak income. Tak peduli lagi apakah halal atau haram. Bahkan pejabat pun mencontohkan demikian. Korupsi dan gratifikasi menjadi berita setiap hari. Gaya hidup hedonis dan materialis telah merusak nilai-nilai yang dicontohkan para pahlawan. Dulu, mereka berjuang teteskan darah. Namun mereka tak pernah meminta imbalan selain hidup merdeka terbebas dari penjajah. Bukankah demikian yang engkau ajarkan?

Guru, tentang sifat dan karakter yang engkau tanamkan. Sulit rasanya untuk dihilangkan. Setiap hari kautempa aku dan teman-temanku dengan nilai-nilai kepribadian. Tanpa lelah engkau didik kami, murid-muridmu. Terkadang terlihat engkau marah atas kenakalan kami. Namun, kau menahan rasa amarah itu dan lebih memilih menghukum kami dengan cara yang mendidik. Sering kali kami nakal di kelas. Melanggar disiplin dan meninggalkan tanggung jawab. Lalu, kau arahkan kami agar dapat memiliki karakter mulia sesuai harapan.

Guru, kau ajarkan pula ilmu pengetahuan. Dari yang sederhana hingga yang kompleks dan rumit. Dari yang konkret hingga abstrak. Dari yang mudah hingga sulit. Kau ajari aku membaca, menulis, dan menghitung. Merangkai huruf menjadi kata, kalimat, lalu paragraf. Kau tunjukkan padaku bagaimana menemukan gagasan utama, pesan moral, dan berbagai jenis informasi dari sebuah bacaan. Kau ajarkan pula beraneka bidang ilmu. Hingga kutahu banyak hal. Dan yang terpenting adalah, kini aku menyadari betapa luasnya ilmu Allah.

Guru, siapa pun tak bisa lagi menyangkal akan sumbangsihmu dalam pembangunan. Kau memang tak membangun gedung, jembatan, dan jalan. Tapi kaulah yang mencetak para arsitek gedung-gedung, jembatan, dan jalan itu. Kau memang tidak mengobati orang-orang sakit. Tapi kaulah yang memberikan pengetahuan dasar kepada para dokter. Kau tidak mengajari teknik perang. Namun, dari engkaulah para tentara mendapat ilmu pertama mereka. Kau tak pernah menangkap bandar narkoba dan pelaku kriminal. Tapi tugas itu sudah kau jelaskan pada muridmu yang telah menjadi polisi. Kau tidak mengajar mahasiswa, tapi dosen yang mengajar mereka pernah berguru kepadamu. Jelaslah bahwa jasamu teramat besar.

Guru, di pundakmu terletak tanggung jawab besar. Yaitu mencerdaskan anak didik. Baik intelektual, emosional, maupun spiritual. Seperti apa wajah bangsa di masa depan, sebagiannya tergantung padamu.   

Guru, peranmu tak mungkin tergantikan. Meskipun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mencapai tahap yang mencengangkan seperti sekarang. Bisa saja produk teknologi mengambil sebagian peranmu.

Untuk pintar, seseorang bisa saja berguru pada mesin. Ada seacrh engine yang selalu siap menjawab hampir seluruh persoalan. Asalkan ada jaringan internet, Mbah Google tak akan menolak untuk menjawab. Tapi, mesin-mesin itu takkan dapat mengoreksi kekeliruanku meskipun sedikit. Mbah Google takkan bisa membentuk karakterku. Seperti apa kepribadianku tak bisa dibentuk oleh mesin pintar itu. Aku membutuhkan bimbingan dan arahan dari seorang pendidik seperti dirimu.

Guru, saatnya aku berterima kasih padamu. Aku sadar bahwa ilmu dan keterampilan yang aku miliki semuanya kuraih melalui jerih payahmu dalam mendidikku. Keahlian yang aku tekuni saat ini sulit didapat bila tidak tersentuh tangan dinginmu. Kaulah peletak dasar-dasar ilmu yang menjadi batu pijakan bagiku dalam menekuni bidang profesiku saat ini. 

Guru, ilmu yang kau wariskan adalah sebaik-baik pemberian. Ilmu itu menjadi bekal menjalani hidup. Bahkan membuatku lebih siap menghadapi kehidupan dan berkiprah di dalamnya.

Kedisiplinan, ketekunan, keteguhan, kejujuran, keberanian, tanggung jawab, dan nilai-nilai lain yang ditanamkan di sekolah, kini berwujud dalam sebagian karakter yang menjiwai kehidupanku. Semuanya diperoleh atas didikanmu yang tanpa lelah.

Guru, setelah semua yang engkau berikan, aku hanya bisa mengatakan terima kasih yang tak terhingga atas pengabdianmu yang tulus. Engkaulah pahlawanku. Semoga Allah membalas jerih payahmu dengan keridaaan dan surga-Nya.

Sekali lagi, terima kasih guruku. (*)

*)Pendidik di SMP Negeri 5 Sampang

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia