Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Karakter Anak Tanggung Jawab Siapa?

Oleh Suratno*

21 November 2018, 05: 25: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Karakter Anak Tanggung Jawab Siapa?

MENURUT Ki Hajar Dewantara ada 3 pilar pendidikan anak. Yaitu keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Di ketiga tempat itulah karakter anak dibangun. Berdasarkan teori Tabularasa, anak baru lahir ibarat kertas putih. Ayat Alquran pun menjelaskan bahwa anak yang baru lahir suci, akan menjadi Islam, Nasrani, Majusi, atau Yahudi tergantung pendidikan yang akan diberikan.

Ketiga komponen pembangun karakter anak tersebut saling memengaruhi. Karakter anak terbentuk oleh komponen yang paling dominan. Jika pendidikan di dalam keluarga begitu dominan terbentuk dalam karakter anak, maka pengaruh lingkungan dan lembaga pendidikan kurang memberikan efek yang besar. Begitu juga bila pengaruh lingkungan yang kuat, maka pendidikan dari keluarga dan lembaga pendidikan akan sedikit saja pengaruhnya.

Dalam upaya mengoptimalkan pendidikan karakter anak dapat dilakukan sesuai perkembangan mental usia anak. Anak balita sampai dengan usia 6 tahun, kegiatan anak lebih banyak di rumah. Pembentukan karakter anak menjadi tanggung jawab keluarga walaupun lingkungan dan sekolah sudah mulai dikenal anak. Anak usia 7 sampai 15 tahun sudah berada di lingkungan bermain dan di sekolah, maka pengaruh pendidikan lingkungan dan sekolah sudah mengambil peran dan tanggung jawab dalam membentuk karakter anak.

Seiring berjalannya waktu dan usia anak, apakah peranan pendidikan keluarga yang sudah tertanam akan tetap dominan? Apakah peranan lingkungan mendukung pendidikan keluarga atau bahkan merusak? Di mana tempat bermain anak, dengan siapa anak bergaul, bagaimana adegan-adegan TV dan HP yang ditonton anak? Demikian juga peranan sekolah yang menjadi bagian kehidupan anak. Apakah akan mendukung, memperbaiki atau merusak karakter yang sudah terbentuk? Maka jawabnya seberapa besarkah keluarga, lingkungan, dan sekolah bertanggung jawab dalam pembentukan karakter anak.

Pelaksanaan pendidikan karakter dalam keluarga bisa dimulai sejak lahir. Bahkan, sejak bayi masih dalam kandungan. Ibu dan ayah membiasakan berperilaku yang baik, beribadah maksimal, menjadi contoh yang baik bagi anak.

Kegiatan peningkatan karakter di sekolah dapat dilakukan baik melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler adalah kegiatan tatap muka yang dilakukan di sekolah, dalam hal ini ruang kelas sesuai jatah waktu yang tertera dalam kurikulum. Melalui kegiatan intrakurikuler tatap muka di dalam kelas, guru dapat selalu mengupayakan peningkatan karakter siswa selama proses pembelajaran.

Kegiatan kokurikuler merupakan kegiatan pengajaran yang diberikan di luar jam pelajaran tatap muka sebagai tugas atau pekerjaan rumah untuk menunjang bahan pengajaran intrakurikuler. Dalam kegiatan kokurikuler ini guru dapat menyisipkan pendidikan karakter siswa. Sedang kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan non-pelajaran yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka, tempatnya dapat dilakukan di sekolah ataupun di luar sekolah.

Dalam kegiatan ekstrakurikuler dititikiberatkan pada pembinaan dan pengembangan karakter atau kepribadian siswa secara utuh, tidak hanya mencakup pengetahuan dan keterampilan. Tetapi juga sikap, perilaku, dan pola pikir yang utuh.

Pelaksanaan pendidikan karakter dalam lingkungan masyarakat juga harus saling mendukung karakter yang sudah terbentuk. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memilih teman yang baik, tempat bermain yang baik, dan kegiatan-kegiatan yang positif.

Perilaku negatif karakter anak, misalnya, mabuk-mabukan, narkotika, balap liar, tawuran, terjadi karena pelaksanaan pendidikan karakter di tiga pilar itu belum maksimal. Orang tua tidak menjadi suri teladan, sekolah kurang peduli, dan lingkungan tidak mendukung terbentuknya karakter anak yang baik.

Fenomena di masyarakat adalah ketika anak berperilaku positif, maka yang mendapat pujian adalah orang tuanya. Namun ketika seorang anak berperilaku negatif, maka sekolah (guru) yang mendapat cemoohan.

Jika sudah terjadi kerusakan mental, buruknya karakter anak, maka yang ada saling melempar tanggung jawab pembentukan karakter anak. Orang tua biasanya memasrahkan pendidikan karakter ke sekolah supaya sekolah yang mendidik penuh. Sekolah merasa keberatan jika lingkungan masyarakat tidak mendukung.

Marilah kita sesuaikan peran masing-masing sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat lingkungan, dan sebagai guru di sekolah mengambil peran aktif dalam membangun karakter anak. Jika peran ini kita laksanakan dengan baik, tidak akan ada saling lempar tanggung jawab saat anak berperilaku buruk. (*)

*)Guru di SMPN 1 Dasuk, Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia