Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Melecutkan Budaya Menulis dan Meneliti Guru

Oleh: St. Farhah*

21 November 2018, 00: 05: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Melecutkan Budaya Menulis dan Meneliti Guru

GURU dan menulis merupakan sebuah profesi dan aktivitas tak bisa dipisahkan. Menulis adalah kegiatan rutin guru, mulai dari mempersiapkan silabus, program tahunan dan semester, rencana pelaksanaan pembelajaran serta melaksanakan proses dan evaluasi pembelajaran. Namun, problematika besar akan muncul ketika guru dituntut menulis karya tulis ilmiah (KTI), tulisan ilmiah populer maupun tulisan yang berkaitan dengan pengembangan profesi lainnya.  

Setidaknya enam faktor yang membelenggu pikiran guru sehingga kurang bersemangat dan enggan menulis. Pertama, motivasi yang rendah di kalangan guru untuk menulis. Banyak guru berpengalaman dan pengetahuan luas di bidang pendidikan, tapi enggan menulis. Menulis dianggap sesuatu yang sangat sulit dan membutuhkan biaya mahal. Menulis dikategorikan pekerjaan orang berbakat. Dengan kata lain, menulis dianggap sebagai pekerjaan penulis dan bukan pekerjaan guru yang setiap hari harus aktif mengajar, mendidik, dan melatih peserta didik di kelas.

Kedua, pemberi motivasi (motivator) menulis sangat sedikit. Hal ini mengakibatkan pola berpikir (mindset) guru tentang wawasan dan ilmu menulis sangat kurang. Akibatnya, guru belum banyak yang tahu tentang teknik menulis yang baik dan seluk beluk dunia penulisan.

Ketiga, tuntutan penyusunan administrasi dan perangkat pembelajaran sangat kompleksitas. Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru wajib mempersiapkan dengan teliti perangkat mengajar agar proses pembelajaran benar-benar berlangsung dengan baik. Ditambah dengan jumlah jam mengajar guru minimal 24 jam per minggu. Membutuhkan kondisi fisik dan mental, sehingga semakin menambah alasan bagi guru belum ada kesempatan yang longgar untuk memikirkan dan membuat karya tulis.

Keempat, media publikasi tulisan guru sedikit. Majalah, buletin, dan jurnal pendidikan merupakan media hasil tulisan guru yang sangat signifikan. Banyak guru yang belum tahu dan kurang memahami cara mengirimkan tulisan, kriteria tulisan serta visi dan misi media.

Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) di setiap provinsi sangat ideal apabila mempunyai media pendidikan. Dinas pendidikan provinsi harus peduli dengan buletin dan jurnal pendidikan sebagai media guru. Dinas pendidikan kabupaten paling tidak mempunyai satu majalah, buletin atau jurnal pendidikan. Sekolah yang harus selalu mendorong guru untuk menulis di media sekolah tersebut.

Kelima, belum terciptanya budaya lomba menulis di kalangan guru. Selama ini jarang dijumpai lomba menulis bagi guru. Padahal banyak event yang berkaitan dengan guru. Misalnya, memperingati Hari Pendidikan Nasional, Bulan Membaca, Hari Guru, Hari Kemerdekaan, Hari Korpri, dan sebagainya. Alangkah baiknya apabila guru dipacu menulis dengan memperbanyak lomba menulis disertai dengan hadiah sehingga memotivasi guru untuk menulis.

Keenam, belum adanya rangsangan (stimulus) untuk mengembangkan budaya menulis di kalangan guru. Selama ini tidak ada penghargaan (reward) bagi guru yang aktif dan kreatif mengembangkan profesinya dibandingkan dengan guru yang hanya mengajar. Akibatnya, relatif banyak guru yang kurang bersemangat dan enggan menulis. Stimulus dibutuhkan untuk membangkitkan budaya menulis.

Budaya Meneliti

Bila ditanyakan kepada guru, sudah berapa banyak penelitian yang telah dilakukan? Maka, jawabannya hampir sama, ”belum banyak”. Kondisi semacam ini jauh berbeda dengan budaya meneliti di kalangan dosen (akademisi) yang memang termasuk salah satu Tridarma Perguruan Tinggi.  Sedangkan guru sebagai praktisi pendidikan terlalu fokus pada masalah pelaksanaan pendidikan di sekolah.

Rendahnya budaya meneliti bisa dilihat berdasarkan minimnya jumlah guru golongan IV/a yang mampu naik pangkat ke golongan IV/b. Hal itu bisa terjadi karena untuk bisa naik pangkat ke golongan IV/b, guru wajib mengumpulkan angka kredit dari pengembangan profesi 12 poin.

Idealnya guru juga harus menjadi peneliti. Guru bisa menjadikan kelas, peserta didik, dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran sebagai bahan penelitian. Dalam dunia pendidikan, model penelitian semacam itu sudah lama dikenal dengan istilah penelitian tindakan kelas (classroom action research).

Melalui PTK, paling tidak ada dua manfaat yang bisa diperoleh. Pertama, selalu muncul dorongan untuk memperbaiki mutu proses pembelajaran di kelas. Hal ini penting karena proses pembelajaran bisa dikatakan sebagai substansi yang esensial dari kurikulum. Kedua, guru mampu menumbuhkembangkan kompetensi profesionalnya sehingga tampil percaya diri dengan penguasaan substansi materi ajar yang lebih luas dan mendalam.

PTK cukup praktis dan bisa dilaksanakan semua guru. Sambil melaksanakan penelitian, guru tetap melaksanakan proses pembelajaran. PTK tidak akan mengganggu proses pembelajaran, bahkan mampu memicu tumbuhnya atmosfer pembelajaran yang kondusif (menyenangkan).

Undang-Undang 14/2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan telah merumuskan parameter guru bisa dikategorikan sebagai pendidik profesional. Merujuk pada UU dan PP di tersebut, pendidik dikatakan memiliki profesionalisme jika setidaknya memiliki 4 kompetensi. Yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.

Kompetensi profesional tampaknya masih menjadi persoalan serius dalam dunia pendidikan karena bersentuhan langsung dengan penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara lebih luas dan mendalam yang mencakup 3 hal. Yaitu, (a) penguasaan substansi isi materi kurikulum mata pelajaran di sekolah, (b) substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut, dan (3) wawasan keilmuan sebagai guru.

Profesionalisme guru jelas tak bisa ditawar lagi. Apalagi bagi guru yang sudah mempunyai sertifikat pendidik. Jika budaya meneliti di kalangan guru tumbuh kondusif, pelan tapi pasti, guru akan tampil percaya diri. Tidak hanya terampil mengajar dan mendidik, tapi juga hebat dalam penguasaan substansi materi ajar. Dengan kompetensi profesional yang layak dibanggakan, guru akan mampu melahirkan anak-anak bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual. Tetapi juga cerdas secara emosional, sosial, dan spiritual. Semoga. (*)

*)Guru SMPN 1 Kedungdung, Sampang

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia