Selasa, 11 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Features

Luar Biasa! Dodi Raih Juara Ketiga MHQ Tingkat Asia Tenggara

Menghafal Alquran karena Dorongan Ayah Tiri

15 November 2018, 09: 30: 59 WIB | editor : Abdul Basri

MEMBANGGAKAN: Dodi Adrian Febriansyah (kanan) menunjukkan piagam penghargaan juara ketiga MHQ tingkat Asia Tenggara yang diraihnya bersama Kepala SMA Tahfidz Darul Ulum Banyuanyar Khofifurrahman.

MEMBANGGAKAN: Dodi Adrian Febriansyah (kanan) menunjukkan piagam penghargaan juara ketiga MHQ tingkat Asia Tenggara yang diraihnya bersama Kepala SMA Tahfidz Darul Ulum Banyuanyar Khofifurrahman. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

PAMEKASAN - Prestasi membanggakan diraih santri Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar pada Musabaqah Hifdzul Quran (MHQ) tingkat ASEAN. Santri pesantren di Desa Potoan Dajah, Palengaan, Pamekasan, ini berhasil menyabet juara tiga.

Santri itu bernama lengkap Dodi Adrian Febriansyah. Biasa dipanggil Dodi. Orang tua, pengasuh, pengurus pesantren, dan Pemkab Pamekasan menyambut kedatangannya usai mengikuti perlombaan tersebut. RadarMadura.id menemui Dodi di Asrama Tahfidz Ponpes Banyuanyar Rabu (14/11).

Dia mengaku tidak menyangka akan meraih juara. Sebab, pada seleksi tingkat nasional dia berada di peringkat ketiga. Namun, dia teripilih untuk mengikuti lomba tingkat Asia Tenggara beserta empat peserta terbaik lainnya.

”Saya mengikuti seleksi MHQ kategori 20 juz sejak di tingkat Jawa Timur. Setelah itu lolos seleksi ke tingkat nasional. Alhamdulillah, saya terpilih delegasi dari Indonesia untuk mengikuti MHQ tingkat ASEAN,” katanya.

Prestasi santri asal Desa Kapong, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan, itu merupakan pengalaman pertama dalam mengikuti lomba hingga tingkat Asia Tenggara. Sebelumnya, Dodi pernah mengikuti MHQ, tapi hanya tingkat regional. Dia berhasil menjuarai tingkat Madura pada awal 2018.

Sejak satu tahun terakhir putra pertama pasangan Muhammad Anwar dan Satuni itu baru beberapa kali mengikuti perlombaan. Dia tidak punya banyak pengalaman untuk mengikuti lomba hingga tingkat ASEAN. Dodi  meyakini, prestasi yang diraihnya merupakan buah rintihan doa orang tua dan gurunya.

”Selama mengikuti lomba tidak ada persiapan khusus. Saya hanya menjaga hafalan saja. Selebihnya, saya pasrah kepada Allah,” ungkapnya sambil menundukkan kepala.

Siswa kelas XI SMA Tahfidz Darul Ulum Banyuanyar itu kemudian menceritakan awal mula menghafal Alquran. Awal Dodi menghafal Alquran karena paksaan orang tuanya. Dia tidak pernah berangan-angan untuk mondok. Apalagi sampai menghafal Alquran.

Setelah lulus SD, dia dipaksa mondok di Ponpes Darul Ulum Banyuanyar. Bapak tirinya, Sya’roni Martin, memaksanya untuk menghafal Alquran. Dodi tak bisa berbuat banyak. Dia hanya mengikuti arahan dari orang tuanya.

”Ibu dan bapak kandung saya bercerai sejak saya umur 4 tahun. Yang mengurus dan mendidik saya hingga sekarang, bapak tiri. Meski bukan bapak kandung, saya tetap harus patuh kepadanya,” ucapnya lirih.

Sejak baru mondok, Dodi mengikuti program tahfidzul Quran. Dia mondok sejak 2013 dan masuk ke SMP Tahfidz Darul Ulum Banyuanyar. Selama tiga tahun, hafalan Dodi tidak ada perkembangan. Dia mengakui saat itu sangat nakal. Bahkan, hampir dikeluarkan dari program tahfidz karena jarang menyetorkan hafalan.

Selama tiga tahun di SMP tahfidz, hafalan Dodi tidak karuan. Sya’roni Martin memutuskan untuk memindahkannya ke pesantren tahfidz yang lain. ”Kebetulan ada alumni Banyuanyar yang menerima santri tahfidz. Setelah lulus SMP saya dipindah ke Pesantren Ibnu Ali di Desa Tlontoraja, Kecamatan Pasean,” tuturnya.

Selama lima bulan di pesantren tersebut Dodi berhasil menghafal. Kemudian, dia menggenapkan hingga satu tahun agar hafalannya fasih. Setelah mengikuti I’lan 30 juz, Dodi kembali lagi ke Ponpes Darul Ulum Banyuanyar.

Saat kembali ke pesantren yang diasuh RKH. Muhammad Syamsul Arifin, Dodi mulai membangun jati dirinya. Dia terus meningkatkan proses hafalannya agar fasih sehingga bisa membanggakan guru, orang tua, serta pesantrennya.

”Kata orang tua, dulu waktu kecil saya cepat fasih menghafal surat pendek. Pada saat itu, sedang marak hafiz cilik. Makanya, orang tua memaksa agar menghafal Alquran. Mungkin karena terinspirasi dari hafiz cilik itu,” tuturnya.

Kepala SMA Tahfidz Darul Ulum Banyuanyar Khofifurrahman bangga terhadap prestasi yang diraih anak didiknya. Dodi memiliki intelligence quotient (IQ) yang cukup tinggi. Dia sangat cepat menghafal sesuatu. ”Sejak SMP, potensi Dodi sudah kelihatan. Makanya, pengurus tahfidz waktu itu tidak mengeluarkannya. Waktu itu dia hanya salah pergaulan,” terangnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia