Selasa, 11 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Menabur Benih Kedisiplinan

Oleh: Gunawan*

15 November 2018, 00: 25: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Menabur Benih Kedisiplinan

HARI itu, saya mendapat pesan dari seorang widyaiswara P4TK PKn dan IPS melalui WhatsApp pada 9 Mei 2017. Isinya tentang SAGUSABU (Satu Guru Satu Buku). SAGUSABU merupakan sebuah gerakan pembudayaan literasi bagi guru yang dimulai pada peringatan Hari Pendidikan Nasional Mei 2017. Melalui gerakan ini diharapkan ada peningkatan kemampuan menulis bagi guru sesuai dengan tuntutan kompetensi keprofesionalannya.

Setelah saya baca berulang-ulang dan cermati isi pesan tersebut, yang juga dilampirkan iklan pengumuman SAGUSABU Guru Mata Pelajaran PKn dan IPS jenjang SD, SMP, SMA dan SMK, saya tertarik untuk mengikuti program dari P4TK tersebut dalam upaya melakukan peningkatan kemampuan menulis bagi guru.

Saya merasa kemampuan menulis sebagai guru sangatlah kurang. Padahal untuk dapat mengikuti program SAGUSABU, peserta diwajibkan untuk melampirkan 1 (satu) karya tulis maksimal 800 kata, diketik ukuran A4 spasi 1,5 font Arial 12 dengan tema bebas. Dengan bismillah saya niati dan memutuskan untuk memilih tema kedisiplinan.

Membiasakan Disiplin

Kedisiplinan (baca: disiplin) itu adalah hal mutlak yang harus melekat pada jiwa seorang guru. Hanya dengan jiwa disiplin yang telah melekat kuat pada diri guru, pada giliran selanjutnya dapat melakukan upaya menabur benih kedisiplinan kepada para siswanya.

Kedisiplinan adalah satu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan, dan ketertiban.  Guru sebagai panutan yang layak untuk digugu dan ditiru harus terlebih dahulu menunjukkan serangkaian perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban. Guru harus memainkan peran ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi contoh), baik di lingkungan sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Selain ing ngarsa sung tuladha, guru harus mengaplikasikan ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani.

Kedisiplinan merupakan turunan dari kata dasar disiplin yang ditambah konfiks ke-an. Disiplin dapat diartikan sebagai suatu sikap konsisten dalam melakukan sesuatu. Menurut pandangan ini disiplin sebagai sikap yang taat terhadap sesuatu aturan yang nenjadi kesepakatan atau telah menjadi ketentuan (Depdiknas, 2001). Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya.

Menegakkan Benang Basah?

Menegakkan disiplin samakah dengan seperti menegakkan benang basah? Hal inilah yang sering berkecamuk dalam hati penulis. Sebagai pegawai negeri sipil (guru) yang pertama kali mendapatkan SK pengangkatan di pinggiran pesisir utara Madura, tepatnya di SMP Negeri 1 Sokobanah pada 1997, telah mendapatkan cukup banyak pengalaman fakta faktual setiap hari. Ternyata sudah dua puluh tahun waktu saya habiskan untuk mengabdi di wilayah utara. Budaya yang berbeda, bahasa daerah yang berbeda, kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda menjadi penyemangat tersendiri bagi penulis untuk lebih memacu diri dalam sharing and growing together (berbagi dan tumbuh bersama).

Menabur benih kedisiplinan. Mengapa perlu ditaburkan? Mengapa butuh disemaikan? Mengapa butuh waktu untuk melihat dan menuai hasilnya?

Saya sebagai guru PNS yang mendapatkan SK pengangkatan awal di SMP Negeri 1 Sokobanah untuk kali pertama. Mendapat pengalaman yang berbeda tentang adat istiadat, bahasa, kebiasaan perilaku sehari-hari dalam kehidupan di sekolah maupun di masyarakat. Saya lahir dan dibesarkan di sebuah desa di Pacitan, ujung barat pinggiran selatan Jawa Timur.

Saya mencoba menabur benih kedisiplinan kepada siswa, dengan segala keterbatasan kondisi yang ada. Terutama disiplin jam masuk sekolah yang on time pukul 07.00. Permasalahannya, siswa relatif jauh jarak antara dari rumah ke sekolah, sehingga banyak siswa yang ”sudah” mengendarai sepeda motor sendiri, tanpa diantar orang tua. Hal ini karena orang tua/wali murid pada umumnya merantau sebagai TKI ke luar negeri. Sebagian siswa naik angkutan umum yang tidak bisa dipastikan jadwalnya.

Ketika siswa SMP sudah mengendarai sendiri sepeda motor untuk ke sekolah, bukankah ini contoh yang kasatmata bukti pelanggaran hukum (yang tentunya itu jelas-jelas tindakan tidak disiplin berlalu lintas)? Siswa SMP tentu belum cukup umur untuk mendapatkan SIM.

Pelanggaran berikutnya nyaris tidak ada siswa yang memakai helm ketika berkendara. Sepeda motornya pun tidak jarang yang diperotoli dan memakai knalpot brong. Belum lagi surat-surat kendaraannya yang tidak lengkap, tanpa STNK yang sah.

Berapa pasal yang sudah dilanggar? Ini hanya contoh pelanggaran berlalu lintas saja dari siswa, yang jika hukum ditegakkan akan terkena pasal berlapis. Penulis juga pernah mengimbau kepada siswa untuk bersepeda ketika ke sekolah. Tetapi hasilnya tidak signifikan. Bahkan ketika mengamati dan menggali informasi dari sekolah-sekolah lain di pantura, juga tidak sedikit siswa yang menggunakan motor sebagai transportasi menuju sekolah.

Secercah Harapan

Dengan segala keterbatasan dan kompleksitas permasalahan di atas, sebenarnya ada secercah harapan ketika para stakeholder ada niat dan kemauan baik untuk mengambil sebuah keputusan bijak dan penting dalam rangka menabur benih kedisiplinan. Misalnya ”Gerakan Masal Siswa Bersepeda ke Sekolah”. Harga sebuah sepeda juga relatif lebih murah dibandingkan dengan harga sepeda motor. Bahkan daripada untuk membeli sebuah sepeda motor bodong akan lebih bermartabat jika siswa diarahkan untuk membeli sebuah sepeda gunung yang dilengkapi persneling sehingga juga bisa ”oper gigi” menyesuaikan medan yang dilewati.

Bersepeda juga bagian olahraga yang sehat dan menyehatkan. Adakah niat dan kemauan baik itu? Allahu a’lam. (*)

*)Guru biasa di pinggiran pantura Madura. Instruktur Nasional (IN) PKB (pengembangan keprofesian berkelanjutan).

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia