Selasa, 20 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Hukum & Kriminal

Residivis Kembali Diringkus, Diduga Hendak Edarkan Sabu

Jumat, 09 Nov 2018 10:05 | editor : Abdul Basri

TAK JERA: Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman didampingi para Kasat menunjukkan residivis kasus narkoba beserta barang bukti.

TAK JERA: Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman didampingi para Kasat menunjukkan residivis kasus narkoba beserta barang bukti. (RUSYDI ZAIN/RadarMadura.id)

SAMPANG – Subairi, 40, warga Desa Nepa, Kecamatan Banyuates, kembali ditangkap tim Opsnal Satreskoba Polres Sampang Rabu (7/11) sekitar pukul 02.00. Residivis kasus narkoba yang divonis lima tahun penjara pada 2012 itu diketahui hendak mengedarkan lagi narkoba jenis sabu-sabu (SS) di wilayah Kota Sampang.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman menyatakan, tersangka diciduk saat melintas di Jalan Kusuma Bangsa, Kelurahan Gunung Sekar. Saat itu residivis kambuhan tersebut mengendarai mobil Terios putih bernopol M 1511 NB.

Sebelumnya, polisi menerima informasi akan ada transaksi narkoba di wilayah kota. Menindaklanjuti informasi itu, petugas melakukan penyelidikan. Begitu yakin bahwa informasi tersebut valid, petugas langsung bergerak.

”Anggota mencegat dan menggeledah mobil tersangka. Saat itu tersangka sendirian,” ungkap Budi Wardiman Kamis (8/11).

Di mobil tersangka, petugas menemukan dua bungkus plastik klip yang isinya diduga sabu-sabu. Satu plastik berisi 20,5 gram SS dan satu lagi berisi 5,5 gram SS.

Polisi juga menemukan satu timbangan elektrik dan satu sendok kecil yang diduga digunakan tersangka saat mengedarkan narkoba. Penggeledahan tersangka memakan waktu lebih kurang satu jam. ”Narkoba disimpan di dasbor mobil. Tersangka berniat mengedarkannya di wilayah kota,” terang Budi.

Berdasar pengakuan tersangka, SS yang dibawa Subairi bisa habis terjual kurang lebih empat hari. Barang tersebut didapatkan dari salah seorang bandar di Kecamatan Sokobanah berinisial YN. ”Kasus ini masih kami kembangkan. Sebab, diduga banyak sindikat yang terlibat dengan tersangka untuk wilayah perkotaan,” papar Budi.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat pasal 114 ayat 2 subpasal 112 ayat 2 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Penyalahgunaan Narkotika. Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara dengan denda maksimal Rp 10 miliar. 

(mr/rus/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia