Selasa, 20 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Sumenep

RSUD Gelar Seminar Rahasia Kedokteran

Jumat, 09 Nov 2018 10:01 | editor : Abdul Basri

SERIUS: Dari kiri, Abdul Aziz memandu diskusi dengan narasumber Ketua Komisi IV DPRD Sumenep Moh. Subaidi; Kasat Binmas Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, AKP Eko Nur Wahyudi; dan Kabid Yanmed RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep dr. Dian Marcia, SP.A.

SERIUS: Dari kiri, Abdul Aziz memandu diskusi dengan narasumber Ketua Komisi IV DPRD Sumenep Moh. Subaidi; Kasat Binmas Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, AKP Eko Nur Wahyudi; dan Kabid Yanmed RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep dr. Dian Marcia, SP.A. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

SUMENEP – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Moh. Anwar Sumenep menggelar seminar Kamis (8/11). Acara bertema Rahasia Kedokteran versus Keterbukaan Informasi dan Etika Pemberian Informasi dalam Perspektif Hukum itu diletakkan di Graha Bakti Husada RSUD dr. H. Moh Anwar. Seminar itu diikuti para tenaga medik di lingkungan rumah sakit, perwakilan pers, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar dr. Fitril Akbar, M.Kes. sebagaimana dibacakan drg. Tatik Kristiowati, M.Kes. menjelaskan, seminar tersebut dilaksanakan untuk menyamakan persepsi rahasia kedokteran di rumah sakit. Menurut dia, ada informasi yang boleh diketahui publik dan ada pula yang menjadi rahasia pasien. ”Semua pihak yang ada di rumah sakit wajib menyimpan rahasia kedokteran,” katanya.

Usai seremonial pembukaan acara, dilanjut sesi diskusi. Diskusi dipandu Abdul Aziz selaku moderator. Seminar itu diisi oleh Ketua Komisi IV DPRD Sumenep Moh. Subaidi; Kasat Binmas Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, AKP Eko Nur Wahyudi; dan Kabid Yanmed RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep dr. Dian Marcia, Sp.A.

Moh. Subaidi lebih menyoroti bagaimana rumah sakit memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Sebab, titik tekan rumah sakit ada pada pelayanan. Sementara Eko Nur Wahyudi menjelaskan sisi hukum rahasia kedokteran dan keterbukaan informasi publik.

Penjelasan rahasia kedokteran lebih dalam dikupas oleh Dian Marcia. Dia menerangkan bahwa ada tiga komponen yang wajib menyimpan rahasia kedokteran. Pertama, tenaga medis, mulai dokter umum, dokter gigi, dan para dokter spesialis. Kedua, para medis dan penunjang lainnya, mulai perawat, bidan, farmasi, radiologi, laborat, nutrisionis, ambulans, forensik, laundry, dan lain-lain.

”Ketiga, mahasiswa. Semua mahasiswa yang berpraktik terlibat dalam pelayanan, pengobatan, dan perawatan pasien wajib menyimpan rahasia kedokteran,” tegasnya.

Jika melanggar ketentuan rahasia kedokteran itu, mereka bisa dikenakan sanksi. Baik sanksi administratif ataupun sanksi hukum. Sanksi administratif bisa berupa teguran lisan, teguran tertulis, pencabutan surat registrasi, dan pencabutan surat izin praktik (SIP). Sementara sanksi pidana bisa berupa kurungan penjara.

Dian juga menjelaskan bahwa rumah sakit bisa membuka rahasia kedokteran. Dengan catatan, pertama, karena adanya daya paksa. Kedua, menjalankan perintah undang-undang. Ketiga, menjalankan perintah jabatan. Rahasia kedokteran juga bisa dibuka atas perintah pengadilan, izin dari pasien, kepentingan masyarakat, dan kepentingan pasien.

”Kesimpulannya, rahasia kedokteran dapat dibuka jika untuk kepentingan umum yang lebih tinggi dan atau ada izin pasien,” tukasnya. 

(mr/mam/han/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia