Kamis, 13 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Bangkalan
Semoga Husnulkhatimah

Rabagus Tinggalkan Istri dan Anak

08 November 2018, 10: 34: 32 WIB | editor : Abdul Basri

Rabagus, Korban Lion Air, Lion Air JT-610,

SEMOGA HUSNULKHATIMAH: Jenazah Rabagus dibawa ke Tempat Pemakaman Umum Mlajah, Bangkalan, untuk dimakamkan. (A.YUSRON FARISANDY/RadarMadura.id)

BANGKALAN – Tangis pecah menyambut kedatangan jenazah Rabagus Noerwito Desi Putra sekitar pukul 09.30 Rabu (7/11). Keluarga, tetangga, kerabat, dan warga sekitar berkumpul di Kampung Kaskel, Kelurahan Kemayoran, Bangkalan. Mereka berduka atas meninggalnya teknisi Lion Air Group itu.

Ayah, ibu, saudara, istri, dan keluarga yang lain tak henti menangisi kepergian almarhum yang lahir pada 5 Desember 1991 itu. Rabagus bekerja pada maskapai Lion Air JT-610 sejak tujuh tahun silam. Dia menjadi salah satu korban pesawat Lion Air JT-610 yang mengalami musibah pada Senin (29/10).

Jenazah kemudian disalatkan di masjid setempat. Setelah itu, jenazah Rabagus dimakamkan sekitar pukul 10.30 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Mlajah. Saat jenazah dalam peti bernomor 00/LION/TJ.PRIOK/0003F dari Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri RS Bhayangkara Tk 1 R. Said Sukanto, Kramat Jati itu dimakamkan, istri Rabagus terus menangis histeris. Bahkan, RA. Ghea Sofa Anggraini sempat tak sadarkan diri.

Rabagus, Korban Lion Air, Lion Air JT-610,

DUKA MENDALAM: Ghea Sofa Anggraini (dua dari kanan) menangis di dekat jenazah Rabagus di Kaskel, Kelurahan Kemayoran, Bangkalan. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Kini dia ditinggal suami tercintanya. Baru dua tahun mengarungi mahligai rumah tangga, almarhum Rabagus dan Ghea dikaruniai satu anak bernama Azka Khairon Rafasha. Usianya baru menginjak satu tahun. Keluarga bahagia ini tinggal di Tangerang, Banten. Kini Azka harus kehilangan sosok ayah di usianya yang masih di bawah lima tahun (balita).

Duka mendalam juga dirasakan Muhammad Noerachman dan R. Ayu Wiwinda Hayati. Keduanya merupakan orang tua Rabagus. Almarhum merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Isak tangis orang tua almarhum tak terbendung. Istri serta kedua orang tuanya belum bisa memberikan keterangan kepada awak media.

Sementara itu, Ghani, 59, paman Rabagus berterima kasih kepada semua pihak yang telah berjuang membantu proses evakuasi dan identifikasi almarhum. Terutama pada Lion Air yang telah mengantarkan jenazah ke rumah duka.

”Kami menggelar istighotsah selama tujuh hari. Ternyata Allah berkenan mengabulkan doa dan mengembalikan almarhum Rabagus kepada keluarga,” tutur kakak Muhammad Noerachman itu.

Untuk mengiringi kepergian almarhum, pihak keluarga akan menggelar kegiatan doa bersama. Berharap almarhum mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah. ”Akan dilaksanakan tahlil selama tujuh hari untuk mendoakan almarhum,” ucap warga Desa/Kecamatan Burneh, Bangkalan, ini.

Seperti diberitakan JawaPos.com, Tim DVI Polri berhasil mengidentifikasi 17 penumpang melalui metode primer berupa sidik jari dan DNA. Wakil Kepala Tim DVI Polri Kombes Pol Triawan Marsudi menerangkan, sebelumnya, jenazah yang teridentifikasi 27. Terbaru, teridentifikasi 17 jenazah. Adapun 12 jenazah teridentifikasi melalui DNA dan 5 jenazah lainnya teridentifikasi melalui sidik jari.

Total penumpang yang telah teridentifikasi 44 penumpang. Perinciannya, 33 laki-laki dan 11 perempuan. ”Ada 17 penumpang yang teridentifikasi,” ucapnya saat melakukan konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (6/11).

Berdasarkan data yang dirilis tim DVI Polri, satu dari 17 jenazah yang teridentifikasi di antaranya Rabagus Noerwito Desi Putra, 26, warga asal Kampung Kaskel, Kelurahan Kemayoran, Bangkalan. Jenazah Rabagus dibawa ke rumah duka melalui penerbangan pesawat Batik Air dengan nomor ID 6370 CGK-SUB. Jenazah diberangkatkan sekitar pukul 06.00 dari Jakarta. Mendarat di Bandara Juanda sekitar pukul 07.30 sebelum menuju Bangkalan.

General Manager (GM) Line Maintenance Lion Air Murdoyo mengungkapkan, almarhum sudah lama bekerja di divisi teknik. Mewakili Lion Air Group dia menyampaikan turut berduka atas insiden jatuhnya pesawat yang juga ditumpangi Rabagus. Pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban.

”Mohon maaf apabila selama proses evakuasi dan identifikasi korban, komunikasi kami kurang dengan pihak keluarga,” ucapnya. Selanjutnya, pihaknya akan memfasilitasi semua hak-hak almarhum. Di antaranya biaya pemakaman, jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek), dan pengurusan lain akan ditanggung.

Murdoyo menambahkan, almarhum dikenal memiliki hubungan baik dengan sesama rekan di divisi teknik. ”Kinerjanya bagus. Termasuk orang yang baik. Hubungan dengan teman-teman divisi teknik sangat baik,” tuturnya.

Almarhum ikut dalam pesawat Lion Air JT-610 dalam rangka menjalankan tugas. Diakui, saat dievakuasi tubuh korban sudah tidak dalam keadaan utuh. Pihaknya mengaku bersyukur jenazah bisa ditemukan dan berhasil diidentifikasi melalui tes deoxyribonucleic acid (DNA) sehingga bisa diserahkan kepada pihak keluarga.

”Kami mendoakan semoga almarhum diterima di sisi Allah. Kami bersyukur saudara kami Rabagus bisa diidentifikasi,” tandasnya.

Teknisi pada maskapai penerbangan Lion Air Group ini mendapat santunan dari Jasa Raharja. Besaran Rp 50 juta disalurkan langsung dari Kantor Cabang Jasa Raharja di Banten.

Santunan itu ditransfer ke rekening ahli waris atas nama RA. Ghea Sofa Anggraini selaku istri almarhum. ”Dari Jasa Raharja Rp 50 juta. Sesuai Undang-Undang nomor 33/1964 karena termasuk kecelakaan di udara,” ungkap Penanggung Jawab Kantor Jasa Raharja Bangkalan Ahmad Yudhansyah ketika ditemui di TPU Mlajah.

Santunan diberikan melalui Kantor Cabang Jasa Raharja di Banten karena almarhum tercatat sebagai warga Tangerang. Di Bangkalan, kata Yudhan, pihaknya sebatas menyampaikan kepada keluarga almarhum yang tinggal di Kelurahan Kemayoran. ”Sekaligus untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran,” ucapnya.

Kecelakaan transportasi umum di darat, laut, maupun di udara memang mendapat hak santunan dari Jasa Raharja. Terlebih pada kasus ini, Rabagus juga tercatat sebagai teknisi Lion Air JT-610. ”Korban meninggal santunannya Rp 50 juta. Bagi korban luka-luka pada kecelakaan di darat, laut dan udara, ditanggung biaya pengobatan maksimal Rp 25 juta,” jelas Yudhan.

(mr/bad/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia