Selasa, 20 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Resensi

Mendidik atas Nama Tuhan

Kamis, 08 Nov 2018 02:45 | editor : Abdul Basri

Mendidik atas Nama Tuhan

SAAT ini, peserta CPNS (calon pegawai negeri sipil) terbanyak sepanjang sejarah. Sebagian CPNS tersebut terdapat formasi guru. Satu kursi di formasi ini diperebutkan ribuan orang. Perjuangan tidak kepalang. Guru PNS memang idola. Sejalan dengan beragam kenaikan pendapatan profesi guru, naik pula animo masyarakat untuk menjadi sosok yang bisa digugu dan ditiru tersebut.

Buku ini mengisahkan pula orang-orang yang berhasrat menjadi guru karena keterpanggilan, bukan karena hasrat mendapatkan income. Sebanyak 30 guru yang berkisah dalam buku ini meyakini bahwa mendidik siswa adalah tugas yang Tuhan titipkan kepada mereka. Tidak heran jika latar belakang pendidikan mereka tidak semuanya sarjana pendidikan.

Ada yang menjadi guru diawali paksaan keluarga. Ada pula yang kurang suka dengan profesi guru karena tidak memberikan kesejahteraan finansial. Lalu, bekerja dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dengan gaji lumayan besar. Di titik waktu, rasa bosan datang. Hatinya menyuruhnya untuk mengajar. Dia juga heran mendengar suara hatinya tersebut. Makin lama makin membuncah. Lalu, dia benar-benar mengajar dan mendapatkan kebahagiaan luar biasa walaupun dia digaji hanya Rp 100 ribu sebulan.

Panggilan Tuhan menelusup ke berbagai sebab. Tidak ada yang tahu apa sebab yang memungkinkan  hati bergerak untuk menjadi guru. Satu hal yang pasti, dari satu sebab tertentu Tuhan memberikan rentetan sebab-sebab lain hingga yang bersangkutan all-out menjadi guru.

Bagian kedua buku ini mengisahkan guru yang mendatangi tiap rumah agar orang tua terketuk hatinya menyekolahkan anaknya. Guru-guru yang dikisahkan dalam buku ini bertugas di sekolah pelosok, lereng gunung atau desa terpencil. Mereka berhadapan dengan resistensi masyarakat yang kadang tidak mengerti urgensi pendidikan. Kadang pula mereka berhadapan dengan bangunan sekolah yang tidak memadai atau jumlah guru yang sangat kurang dan memaksa mereka kreatif memanfaatkan tempat, tenaga, dan waktu.

Ada kejadian-kejadian yang kemudian membuat semakin yakin bahwa mereka adalah perpanjangan Tuhan mendidik sesama. Misal, ada guru karena kecelakaan, dia harus menggunakan kruk ke sekolah. Awalnya dia tidak percaya diri. Bagaimana bisa mengajar sementara untuk berdiri saja dia sangat sulit. Namun, dia sangat terharu ketika siswa-siswanya berebut membantu dia berjalan, menulis di papan, membawakan bukunya, dan membelikannya makanan dan minuman di kantin.

Dia merasa mereka adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk membantunya. Puncaknya, ketika dia positif hamil. Anugerah yang sekian tahun dia harap kini hadir. Ini membuatnya percaya bahwa kesulitan di jalan pendidikan adalah pertanda bahwa anugerah besar Tuhan segera datang.

Bagian ketiga buku ini mengisahkan perjuangan guru membuat perubahan. Kita tahu bahwa tidak semua siswa penurut. Pasti ada sebagian yang sulit diatur. Ada sebagian siswa autis. Begitu juga tidak semua wali murid lapang dada menerima kehadiran guru.

Pada bagian ini dikisahkan bagaimana para guru menghadapi itu semua dengan ketulusan cinta. Terhadap siswa yang nakal, yang tiap hari bikin ulah bahkan menantang guru, didekati dengan kasih sayang. Pendekatan ini dimulai dari akar kesadaran hingga permukaan sikap. Beda dengan pendekatan kekerasan yang mudah mengubah sikap pada tataran permukaan saja. Perubahannya tidak sejati.

Berhadapan dengan siswa autis, guru melacak semua akar penyebab: keluarga, sosial, kognitif, dan emosional yang bersangkutan. Mereka juga membuat kegiatan-kegiatan terobosan guna mendatangkan perubahan yang signifikan. Para guru dalam buku ini yakin, tugas dari Tuhan yang mereka emban memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Semangat ilahiah yang membakar jiwa mereka melenyapkan keputusasaan, kemalasan, dan rasa bosan. Mereka menikmatinya karena sejalan dengan panggilan jiwa mereka.

Kisah-kisah guru dalam buku ini merupakan anomali karena jumlahnya yang minim. Walaupun jumlah guru demikian minim, ia penting untuk diekspos agar memberikan informasi konstruktif dan pemahaman inspiratif tentang hakikat guru yang sebenarnya. (*)

REDY ISMANTO

Partisipan Kelompok Literasi Sahabat Pena Nusantara dan alumnus Pascasarjana Unesa, Surabaya.

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia