Selasa, 11 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Penanaman Kayu Putih Dipusatkan di Kamal

07 November 2018, 10: 39: 47 WIB | editor : Abdul Basri

BAKAL JADI HUTAN: Rombongan dari Kementerian LHK, Komisi IV DPR RI, dan akademisi Fakultas Pertanian UTM meninjau lahan yang diproyeksikan menjadi hutan kayu putih di Desa Gili Timur, Kecamatan Kamal, Bangkalan, Senin (5/11).

BAKAL JADI HUTAN: Rombongan dari Kementerian LHK, Komisi IV DPR RI, dan akademisi Fakultas Pertanian UTM meninjau lahan yang diproyeksikan menjadi hutan kayu putih di Desa Gili Timur, Kecamatan Kamal, Bangkalan, Senin (5/11). (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

BANGKALAN – Menyusul penandatangan kesepakatan inisiasi kerja sama pengembangan kayu putih antara Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan dengan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM), pemerintah daerah kini mulai menjalin koordinasi dengan sejumlah pihak. Tujuannya, mendukung pengembangan kayu putih di Bangkalan.

Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Dispertapahorbun) Bangkalan Geger Heri menyampaikan, pihaknya bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Komisi IV DPR RI, dan UTM sudah meninjau lokasi lahan yang direncanakan menjadi tempat pengembangan hutan kayu putih Senin (5/11).

”Sementara masih di wilayah UTM, Kecamatan Kamal. Untuk menghijauan lahan tidak produktif,” ungkapnya Selasa (6/11).

Selanjutnya, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan UPT dinas kehutanan di Bangkalan, termasuk dengan UTM. Menurut dia, selain di Kecamatan Kamal, sejumlah wilayah di Bangkalan cocok menjadi pilot project pengembangan tanaman kayu putih.

”Rata-rata di Madura saya rasa cocok dengan jenis tanaman ini. Termasuk pengembangannya. Targetnya untuk lahan seluas 100 hektare,” kata Heri.

Sasaran utama program dari Kementerian LHK itu, lanjut dia, yang jelas di lahan-lahan yang tidak produktif. Selain Kecamatan Kamal, Tragah, Kokop, dan Konang cocok menjadi tempat pengembangan kayu putih.

”Dalam jangka waktu 18 bulan, daunnya bisa disuling jadi minyak kayu putih. Setelah panen pertama, panen berikutnya cukup membutuhkan waktu 9 bulan,” terangnya.

Secara ekonomi, pengembangan hutan kayu putih cukup menjanjikan. Penghasilannya bisa mencapai puluhan juta sekali panen. Beda lagi jika langsung dikelola kelompok tani. Pengeluaran biaya untuk pekerja bisa diminimalkan sehingga penghasilan bisa sampai ratusan juta rupiah.

”Ini sebagai alternatif, petani mendapat penghasilan saat bukan musim tanam. Di saat musim kering, bisa memanfaatkan penghasilan dari tanaman kayu putih ini,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial (BPEE) Kementerian LHK Tandya Tjahjanto menyampaikan, program pengembangan hutan kayu putih tidak hanya bisa mendatangkan penghasilan bagi petani maupun pekebun. Tetapi juga bisa dimanfaatkan menjadi ekowisata.

Pria yang juga menjabat ketua Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan itu berharap, program itu mendapat dukungan pemerintah daerah. ”Hutan kayu putih ini bisa memberikan kemanfaatan dalam jangka waktu panjang,” tuturnya.

Anggota Komisi IV DPR RI Yus Sudarso menerangkan, pengembangan kayu putih bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program pemerintah pusat tersebut diharapkan bersinergi dengan pemerintah daerah. Selain itu, mendapat pendampingan aktif dari perguruan tinggi sehingga bermanfaat bagi petani dan masyarakat Madura.

”Varietas kayu putih dari Kementerian LHK yang sudah terbukti unggul. Dukungan pemerintah daerah sangat penting,” ujarnya.

Keterlibatan perguruan tinggi dalam program itu bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Secara keseluruhan, lanjut dia, pilot project tersebut akan dilakukan pada lahan seluas 400 hektare di Madura. Pertama dimulai dari Bangkalan 100 hektare. Kemudian dilanjutkan ke tiap kabupaten lain 100 hektare.

”Program ini akan dirampungkan pada tahun anggaran 2019–2020. Saya sudah sampaikan kepada menteri LHK. Bu menteri meminta agar program ini terwujud,” kata Yus Sudarso.

(mr/bad/hud/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia