Selasa, 20 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Sumenep

Tuntut Kenaikan Honor, LO FKMA Surati Bupati

Selasa, 06 Nov 2018 17:25 | editor : Abdul Basri

TUNTUT KEADILAN: Koordinator LO FKMA Ach. Choirul menunjukkan salinan surat yang dikirimkan kepada bupati serta surat tanda terima dari Humas Pemkab Sumenep.

TUNTUT KEADILAN: Koordinator LO FKMA Ach. Choirul menunjukkan salinan surat yang dikirimkan kepada bupati serta surat tanda terima dari Humas Pemkab Sumenep. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

SUMENEP – Liaison officer (LO) Festival Keraton dan Masyarakat Adat ASEAN (FKMA) V kecewa dengan kecilnya honor yang diterima dari Pemkab Sumenep. Secara resmi, mereka telah mengadukan perkara tersebut kepada Bupati Sumenep A. Busyro Karim. Surat pengaduan itu dikirimkan Koordinator LO FKMA V Ach. Choirul melalui Bagian Umum Sekretariat Kabupaten Sumenep Senin (5/11).

Pengiriman surat itu sekaligus menepis tudingan disparbudpora yang menyebut hanya segelintir orang yang keberatan dengan honor Rp 250 ribu. Kali ini LO FKMA V sepakat bahwa mereka diperlakukan secara tidak profesional. Apalagi, kerja-kerja mereka selama kegiatan berlangsung cukup berat.

”Honor Rp 250 ribu selama kegiatan itu terlalu kecil. Makanya, kami berkirim surat audiensi kepada bupati Sumenep,” kata Chairul.

Sekretaris Asidewi Sumenep itu menambahkan bahwa ada beberapa alasan pihaknya mengajukan surat untuk beraudiensi kepada bupati. Pertama, tugas yang diemban para LO tumpang tindih. Di samping menjadi LO yang menjadi narahubung antara panitia dan peserta FKMA V, mereka mendapatkan tugas tambahan.

”Selain jadi LO, kami menjadi pemandu wisata yang harus menjelaskan kesenian, budaya, dan destinasi wisata yang dikunjungi raja-raja,” jelasnya.

”Ketiga, kami juga jadi abdi dalem atau ajudan pribadi raja. Harus stand by di hotel mulai pukul tujuh pagi sampai pukul 1 malam. Padahal, semestinya mulai pukul 07.00 sampai pukul 22.00,” tegasnya.

Ada juga yang diminta menyetrika pakaian para peserta FKMA. Bahkan, ada salah seorang LO yang terpaksa mengeluarkan uang Rp 100 ribu untuk membelikan makan malam raja-raja. Itu terjadi karena raja-raja itu terlambat datang ke gala dinner dan terpaksa dibelikan nasi di luar.

”Dan sampai sekarang uang Rp 100 ribu buat beli makan raja itu belum diganti oleh panitia,” paparnya.

Itulah sebabnya mengapa dirinya mengajukan surat kepada bupati. Surat tersebut berisi permohonan audiensi. Mereka sebenarnya meminta waktu bertemu besok. Akan tetapi karena bupati kemarin berada di luar kota, jadwal pertemuan dipasrahkan sepenuhnya kepada Sekretariat Pemkab Sumenep.

”Kami hanya diberi surat tanda terima dari bagian umum sekretariat kabupaten dengan nomor agenda 6205,” imbuhnya.

Untuk diketahui, pada acara FKMA V yang digelar di Sumenep mulai 27–31 Oktober, ada 150 LO yang dilibatkan. Mereka terdiri atas lima pemandu wisata berlisensi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), 30 kacong cebbing, dan sisanya dari unsur umum mulai kelas XI SMA hingga lulusan pascasarjana.

”Tidak sembarang orang bisa menjadi LO. Salah atunya, harus mampu berbahasa Inggris secara aktif maupun pasif. Tapi, kalau hanya diberi honor Rp 250 ribu selama lima hari, kami pikir pembayaran itu kurang profesional,” urainya.

Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Sumenep Edy Rasiyadi mengaku sudah mencarikan solusi atas permasalahan tersebut. Pihaknya memastikan bahwa akan ada tambahan honor untuk para LO. Namun, angkanya belum ditentukan.

Selain angkanya belum jelas, sumber anggarannya belum diputuskan. Sebab, sesuai dengan rencana anggaran keuangan (RAK) FKMA V, honor LO memang Rp 250 ribu per orang. Honor tersebut berlaku selama acara, bukan hitungan hari.

”Sudah kami pikirkan. Insyaallah dalam dua hari ke depan sudah ada jalan keluarnya,” jelas mantan kepala dinas PU bina marga itu. 

(mr/mam/han/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia